Kampus Harus Merdeka Sikapi Kemajuan Zaman

Penulis: Fario Untung Pada: Minggu, 29 Okt 2017, 08:19 WIB Jeda
Kampus Harus Merdeka Sikapi Kemajuan Zaman

Karyawan Bukalapak tampak sedang beraktivitas di kantor yang terletak di Kemang, Jaksel. Founder dan CEO of Bukalapak Achmad Zaky sengaja membuat kantor tanpa sekat untuk membuat karyawan nyaman untuk beraktivitas. -- Dok. Bukalapak

PULUHAN mahasiswa terihat tampak sibuk di depan layar laptop masing-masing. Satu per satu, para mahasiswa itu sedang menyelesaikan tugas yang sudah diberikan dosen.

Tugas tersebut sangatlah berkaitan dengan kurikulum mengenai information, communication, and technology (ICT) yang menjadi andalan Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Bidang pendidikan itulah yang diyakini akan dibutuhkan dunia kerja di masa mendatang.

"Kita memang sedang mempersiapkan dan menggodok segala pendidikan di sektor ICT. Saya yakini jika bidang itulah yang akan dibutuhkan industri dalam penyerapan tenaga kerja," tutur Rektor UMN Ninok Leksono di Jakarta, Kamis (26/10).

Hal tersebut tentunya sudah disadari betul oleh mantan jurnalis senior itu dalam upaya menghadapi bonus demografi Indonesia yang akan terjadi dalam hitungan beberapa tahun ke depan. Menurutnya, bonus demografi memang bisa menjadi bonus, tetapi bisa juga menjadi kerugian.

"Bonus demografi itu ibarat pedang bermata dua, di satu sisi bisa berdampak positif, tetapi bisa juga berdampak negatif untuk bangsa ini jika tidak dipersiapkan dengan matang," sambungnya.

Kita patut menengok ke belakang, kondisi 1928 lalu saat semangat membangun rasa kebangsaan terangkum dalam peristiwa Kongres Pemuda Kedua yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Saat tepat seratus tahun peringatan Sumpah Pemuda, Indonesia sedang menghadapi sebuah puncak bonus demografi. Berdasarkan kalkulasi Badan Pusat Statistik (BPS), tahapan bonus demografi akan terjadi antara 2020 dan 2030.

Melimpahnya usia produktif ini bisa menjadi kabar baik karena akan membantu menggenjot pertumbuhan ekonomi. Kabar buruknya, jumlah usia yang produktif itu juga berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan segudang permasalahannya.

Sementara itu, pihak industri selaku penyedia lapangan pekerjaan pun saat ini semakin ketat dalam melakukan rekrutmen tenaga kerja. Menurut Ninok, pemilihan tenaga kerja oleh industri saat ini bersifat lebih kompleks ketimbang 10 atau 15 tahun lalu.

Lebih kompleks dalam artian di sini ialah karena tidak sebandingnya calon pekerja dengan penyedia kerja sehingga persaingan antarpelamar kerja dalam hal keahlian yang dimiliki menjadi modal utama.

"Kalau 10 tahunan yang lalu itu, spesifikasi keahlian seseorang tidak terlalu diperhatikan ketika hendak melamar kerja. Namun saat ini, spesifikasi menjadi hal yang paling utama. Itu pun akan bersaing ketat dengan calon pekerja lainnya," ungkap Ninok.

Berbicara tantangan bonus demografi, Ninok menyebut banyak pekerjaan rumah yang tidak terselesaikan beberapa tahun lalu, khususnya di dunia pendidikan. Padahal, sektor pendidikanlah yang paling utama untuk menjadikan bonus demografi menjadi keuntungan.

Menurutnya, bonus demografi Indonesia ialah usia produktif yang berkisar 25-40 di saat rentang usia tersebutlah yang menjadi motor penggerak perekonomian bangsa.

"Namun perlu dilihat bagaimana sistem pendidikan pada penduduk di rentang usia tersebut. Jika kita tarik 10-20 tahun yang lalu, kita sedang dilanda krisis ekonomi sehingga banyak di antara mereka yang hanya lulusan SD atau SMP karena terkendala biaya pendidikan," paparnya.

Tantangan
Oleh karena itu, banyak pekerjaan rumah yang perlu dipersiapkan dengan matang oleh pemerintah dalam menghadapi kondisi ini dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah harus benar-benar fokus dalam pengembangan berbagai inovasi di sektor pendidikan.

"Karena kalau tidak, bonus demografi ini tidak akan menguntungkan bagi negara, tetapi justru bisa menjadi beban yang semakin memberatkan. Apalagi di tengah kondisi perekonomian global yang sedang tidak menentu ini," jelasnya.

Ninok pun tak pernah ragu untuk terus memberikan pemahaman kepada seluruh pengajar dan mahasiswa di UMN demi kesiapan dalam menghadapi bonus demografi ini. Ke depan permintaan tenaga kerja masih sulit diidentifikasi.

"Ke depan, permintaan tenaga kerja itu semakin sulit diprediksi sehingga saya selalu menekankan pentingnya mahasiswa untuk memiliki keahlian, kompentensi, adaptif, serta problem solving. Hal itulah yang dibutuhkan dalam dunia kerja," papar Ninok.

Akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali mengatakan kolaborasi negara dan para aktornya untuk membuat keterampilan dan pengetahuan SDM itu harus selalu relevan pada zamannya. Dengan demikian, generasi usia produktif bisa menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia ke depan.

Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mengakui bonus demokrafi Indonesia belum mencapai puncaknya. "Pun begitu semua harus disiapkan, terutama SDM," terang Rhenald di Jakarta, Kamis (26/10).

Jumlah usia produktif di Tanah Air saat ini terus melebihi jumlah tanggungan yang ada. Akhirnya banyak dari mereka tidak tertampung di dunia kerja sehingga menjadi pengangguran.

Transformasi
Menurut pria kelahiran Jakarta 1960 itu, yang menjadi masalah saat ini ialah tuntutan baru berbeda dengan tuntutan pada waktu anak-anak muda yang masuk usia produktif itu disekolahkan.

"Nah, celakanya perguruan tinggi telah dicetak menjadi lembaga yang sangat birokratis dalam beberapa tahun terakhir ini sehingga tidak ada lagi jiwa kewirausahaan ditemukan di kampus," ujarnya.

Rhenald mencontohkan, pada waktu ia masih memimpin salah satu kelompok ekonomi, manajemen di kampusnya kala itu masih otonom. Akan tetapi, ketika negara punya uang, negara campur paham berlebihan kepada perguruan tinggi yang mengakibatkan jiwa kewirausahaan kampus itu hilang.

"Karena dulu sempat di awal transformasi, mahasiswa yang memiliki jiwa kewirausahaan dicari rektor, tapi sekarang tidak dibicarakan lagi karena negara punya duit bersumber APBN sebanyak 20%. Akhirnya kampus menuntut untuk mengatur sendiri segalanya," ungkapnya.

Atas pertemuan Rhenald bersama Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu, Rhenald sempat mengatakan, sejak 30 tahun terakhir, mata kuliah di seluruh kampus yang ada di Indonesia masih sama. Sebut saja ekonomi, biologi, kedoteran, hukum, dan lainnya. Masih sama dan tidak ada perubahan sama sekali.

Ia mengakui pernah melakukan transformasi pada waktu itu. Setelah ia masuk ke kampus-kampus, ternyata semua diatur orang-orang yang banyak di dalam dan mendesain mata kuliah itu dan menurut versi mereka itu ilmiah. Hingga akhirnya kampus dibangun suasana ilmiah.

"Faktanya yang mau berkarier di dunia ilmiah pascaselesai itu hanya sekitar 3%, sedangkan sisanya mau menjadi entrepreneur dan seorang profesional. Bahkan di era milenial sekarang, mereka hanya ingin bekerja dari rumah," jelas Rhenald.

Ada cukup waktu untuk memperbaiki kualitas SDM kita. Tentunya, kerja keras pemerintah perlu disertai sikap optimistis segenap insan bangsa Indonesia. Dengan begitu, bukan mustahil generasi emas Indonesia dapat terwujud. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More