Dinamika Indonesia di Jakarta Fashion Week

Penulis: M Taufan Bustan Pada: Minggu, 29 Okt 2017, 02:01 WIB Pesona
Dinamika Indonesia di Jakarta Fashion Week

MI/M TAUFAN/ADAM DWI/ARYA MANGGALA

PALET warna kuning, biru, hijau, dan abu-abu yang dipilih L.tru untuk koleksinya di Jakarta Fashion Week 2018 langsung memberikan kesan ceria di panggung. Tidak hanya itu, muncul pula kesan playful dari potongan-potongan busana yang asimetris serta gambar-gambar kartun pada beberapa bagiannya.

Misalnya gambar tumpukan totebag pada bagian depan outer asimetris berwarna abu-abu. Ada pula gambar kartun berbagai aksesori fesyen pada blus asimetris berlapis dengan blok warna berbeda pada kedua lengannya.

Koleksi segar ini merupakan kolaborasi L.tru dengan Mice Cartoon. Kartun yang merupakan karya Muhammad 'Mice' Misrad ini memang dikenal dengan kenakalan dan kejujurannya menangkap tingkah dan dinamika masyarakat urban.

Dalam kolaborasi ini, Mice menonjolkan tentang tingkah para wanita Ibu Kota dalam mengikuti tren fesyen serta mengejar eksistensi kekinian. Salah satunya soal kegemaran membeli barang bermerek walau keuangan cekak.

"Bersenyawa dengan Mice Cartoon ibarat mendapatkan suntikan 'darah baru' ke dalam nadi koleksi dan membuat L.tru menangkap ide yang lebih segar dan melahirkan koleksi yang memberi tawaran baru bagi para pecinta mode, khususnya busana muslim," terang Board of Director PT Truwear Asa Link, Aju Isni Karim, kepada sejumlah jurnalis sebelum show berlangsung.

Sisi maskulinitas Mice Cartoon juga diwujudkan dalam cropped neck yang merupakan tawaran baru dari L.tru. "Cropped neck sebenarnya adalah penutup kepala yang disambung dengan kerah kemeja," sebut Aju.

Koleksi itu sekaligus menjadi potret sisi lain keindonesiaan yang hadir di JFW 2018. Dalam sembilan penyelenggaraan sebelumnya, keindonesiaan yang hadir umumnya dalam sisi kain dan motif adati yang diolah lebih modern.

Kain dan siluet adati

Di sisi lain, keindonesiaan dengan kain adati ini pun tidak surut di panggung JFW. Salah satunya adalah koleksi 'Ikat Indonesia' by Didiet Maulana yang kali ini dibuat dalam kolaborasi dengan ritel fesyen daring Zalora.

Didiet terinspirasi oleh arsitektur Bali, khususnya bentuk pagoda. Struktur pagoda diwujudkan menjadi siluet yang modern dalam material ikat. Narasi Bali yang menghormati individualitas muncul lewat fleksibilitas pakaian serta kenyamanan tanpa mengorbankan estetika.

CEO Zalora, Anthony Fung, mengaku bangga atas kolaborasi mendalam pertama dengan desainer Indonesia. Ia menilai koleksi yang dihasilkan bukan saja mencirikan karakter khas sang desainer, melainkan juga sesuai dengan karakter Zalora. Selain menggandeng Didiet, Zalora yang bermitra dengan Magnum menggandeng Barli Asmara.

Koleksi bernapaskan adati lainnya yang menarik adalah dari Bin House. Sang desainer, Josephanie W Komara atau akrab disapa Obin, mengangkat tema penghiburan bagi Ibu Pertiwi yang sedang berduka.

Penghiburan itu berupa 116 kain batik yang indah yang diolah menjadi busana bernuansa etnik tetapi juga dinamis.

"Ada 116 helai kain yang dibikin semuanya terbuat dari tangan. Dari proses awal sampai akhir, dari awal dia belum berbentuk kain, jadi berbentuk kain, hingga dia berbentuk baju," terang Obin. Beberapa jenis busananya adalah kebaya klasik, celana panjang, rok batik tradisional, atasan tanpa lengan, hingga gaun romantik yang unik.

Koleksi unik juga terlihat pada peragaan karya Yogiswara. Ia membuat gaun-gaun dan padanan yang playful dengan kartun sosok perempuan dan warna yang atraktif. Koleksi dari para desainer ini kembali membuktikan kekayaan negeri tidak akan habis menjadi inspirasi.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More