Kadar Protein pada Otak Orang yang Ingin Bunuh Diri Lebih Tinggi

Penulis: MI Pada: Sabtu, 28 Okt 2017, 10:34 WIB Eksplorasi
Kadar Protein pada Otak Orang yang Ingin Bunuh Diri Lebih Tinggi

NATIONAL GEOGRAPHY INDONESIA

MENGGUNAKAN alat pemindai PER scan, psikolog di University of ­Manchester, Inggris, mengidentifikasi hubungan antara keinginan bunuh diri dan neuroinflamasi pada pasien-pasien yang mengalami gangguan depresi atau major depressive disorder (MDD).

Mereka berhasil ­mendeteksi peningkatan aktivitas microglial (indikasi peradangan otak) pada seseorang yang ingin bunuh diri yang diyakini dapat meningkatkan pikiran dan perilaku seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Penelitan ini didukung dengan bukti yang menunjukkan adanya ­inflamasi atau lebih tepatnya aktivasi microgilial dalam otak pasien yang mengalami gangguan depresi. Pada penemuan sebelumnya peneliti berhasil menjelaskan bagian otak dari pasien bunuh diri yang telah meninggal, tetapi pada penelitian kali ini para peneliti menggunakan pasien yang masih hidup.

Peneliti Sophie Holmes dan timnya menemukan pasien yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri menunjukkan kadar protein translator (TSPO) dan aktivitas microglial yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang tidak berniat bunuh diri. Selain itu, inflamasi otak yang paling parah terjadi di korteks cingulate anterior yang bertugas untuk mengatur mood, emosi, ingatan, dan rencana masa depan. (iflscience/*/L-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More