Perjalanan Interaktif lewat Novel Mistis

Penulis: Fathia Nurul Haq fathia@mediaindonesia.com Pada: Sabtu, 28 Okt 2017, 05:01 WIB Humaniora
Perjalanan Interaktif lewat Novel Mistis

Dok MI

DI tengah bombardir promo tiket maskapai internasional bertarif murah, juga para travel vlogger yang membuat sensasi melancong sangat nyata, dan seolah-olah terjangkau, Intan Paramaditha dengan gagah berani mengangkat cerita kaum marginal dalam dunia travelista yang perlu bersekutu dengan iblis hanya agar dapat berkeliling dunia.

Intan Paramaditha bukan nama baru di dunia kepenulisan, khususnya tulisan-tulisan bergenre misteri. Gentayangan; Pilih Sendiri Sepatu Merahmu merupakan judul ketiga yang ia besut setelah Sihir Perempuan (2005) dan seri kumpul­an cerpen Kumpulan Budak Setan (2010). Kali ini, ia cukup berani dengan menerbitkan novel misteri yang tidak biasa, yakni novel yang juga bernuansa petua­langan dalam arti sebenarnya.

“Travelling adalah privilege, siapa sih yang sebetulnya punya privilege ini ? Tidak semua orang lo,” demikian ide dari novel bergenre misteri dilontarkan Intan dalam peluncurkan resmi pada acara tahunan Ubud Writer and Readers Festival (UWRF), Gianyar, Bali, Kamis (26/10). Buku bertemakan misteri dan perjalanan ini diawali dengan penokohan yang kuat karakter uta­ma perempuannya yang sangat tipikal kaum marginal Jakarta. Di usianya yang ke-28, di kota besar yang saban tahun menggelar pameran dan promo tiket perjalanan internasional, tak sekali pun sang tokoh utama pernah keluar dari Indonesia.

Di tengah frustrasinya terhadap Jakarta yang bahkan terlalu karut-marut dan buruk rupa untuk memersuasi warganya yang bosan agar bunuh diri saja, tokoh utama terpikir hal gila. Yakni untuk tidur telanjang menarik perhatian siapa pun guna mengusir kebosanan. Siapakah yang cukup gila untuk melakukan hal tersebut? Intan kembali meletupkan teknik tak biasanya, yakni dengan me­nempatkan kita, para pembaca, sebagai tokoh utama dalam seri petualangannya.
Tak sampai di sana, Intan juga memaksa para pembacanya pada jutaan kegilaan lain, seperti bercinta dengan iblis, menjadi kekasihnya, dan memaksa sang iblis memberi kita sepasang sepatu merah terkutuk yang kelak akan membawa kita keliling dunia, atas pilihan kita sendiri.

“Sekarang ini meskipun orang sering keluar, semakin ada kemungkinan untuk menerabas batas negara,” jelas dia. Bepergian dengan cara tak biasa, yakni dengan bersekutu dengan iblis, tentu melahirkan konsekuensi yang sebetulnya sudah disebutkan di awal oleh sang iblis. Mengacu pada penokohan perempuan Jakarta yang frustrasi, Intan dengan cerdik meletupkan idenya tentang sikap skeptis kita terhadap lembar konsekuensi ini. Seperti term & condition yang ke­rap kita lewat saja saat akan membuat akun baru di sosial media, kita juga tidak membaca lembar kontrak yang disodorkan iblis. Tipikal yang sangat realistis.

Dampaknya, kita akan terombang-ambing dalam cerita-cerita perjalanan kita sendiri di berbagai kota di seluruh dunia. New York, California, San Francisco, Kansas, Singapura, dan Budapest. Bukan hanya Amerika, kita juga akan diajak berpetualang ke Italia, Peru, Singapura, Indonesia, Bangladesh, dan negara-negara lainnya.

Menurut Intan, ia telah menciptakan 7 plot dan 15 jalan cerita yang bisa kita pilih dengan membaca buku setebal 490 halaman itu. “Well, sebetulnya tujuh tahun, buku ini sempat saya telantarkan dua tahun saat saya haru mengu­rus desertasi saya di New York University,” jelas doktor yang kini mengajar Kajian Media & Film di Macquire University, Sydney, Australia ini.

Pengalaman bertualang
Kabar baiknya, Intan sendiri adalah petualang, yang sudah lebih dari satu dekade tinggal di luar Indonesia. Sebagian besarnya adalah kota di Amerika Serikat, dan kini ia mengajar di Sydney, Australia. Pengalaman ini memberinya cukup referensi untuk menggambarkan wilayah-wilayah yang akan kita lancongi dengan cukup realistis. Meski beberapa latar dengan jujur ia akui hanya digambarkannya melalui riset.

Kita tidak melulu disuguhi pengalaman melancong yang glamor dan serbaberkecukupan ala travel vlogger. Persepsi Intan yang cukup baik mengenai petua­langan, dengan menjadikannya sebagai pengalaman yang dekat, bersama emosi-emosi yang terbangun dengan orang-orang yang kita temui di perjalanan, peristiwa yang dialami sua­tu negara yang dikunjungi, menjadikan drama bepergian dengan sepatu terkutuk kian hidup.

Kabar buruknya, Gentayangan tidak dilengkapi dengan daftar isi. Kita tidak bisa mencurangi jalan cerita yang kita pilih dengan menebak judul bab lain yang tampak menarik. Sebagai kompensasinya ia memberi halaman khusus agar kita bisa mencatat alur perjalanan yang telah kita lalui agar saat memulai lagi alur itu tidak terulang kembali.

Kita juga tidak disarankan untuk selalu membaca dengan ekspektasi. Sebagaimana petualangan yang kaya pengalaman, membosankan juga bentuk dari pengalaman yang kita dapatkan saat melancong. Sekali lagi, ia menyua­rakan dengan lantang pentingnya melakukan apa yang ia sebut sebagai demitologisasi, destinasi wisata yang kita datangi. Ia menghadirkan New York yang berbeda dari yang disuguhkan drama seri Sex and the City, dan konspirasi sinematografi Hollywood. Ia menghadirkan kota-kota dengan sudut eksotisnya yang bukan hanya pulasan untuk tujuan pariwisata.
Ia menya­rankan pelancong realis lebih menukik pada bumi agar perjalanannya lebih bermakna daripada sekadar foto-foto aneka pose di laman media sosial.

Refleksi
Buku yang digarap dalam jangka yang sangat panjang tentu sedikit banyak akan memuat pengalaman pribadi penulisnya. Gentayangan bukanlah pengecualian dari hipotesis ini. Intan bahkan menghadiri peluncuran bukunya di Sri Ratih Cottage, Ubud, dengan sepasang sepatu merah yang dibelinya di flea market!

Saat membaca bukunya, sedikit banyak kita akan memahami karakter penulisnya, setidaknya itulah kesan yang kita dapat. Ia tidak juga menampik banyak pengalaman pribadi yang ia tuangkan di sana. Tak menghe­rankan jika novel berlatar 2007-an itu banyak sekali mengambil latar kota-kota di Amerika Serikat, ne

gara tempat ia menyelesaikan studinya. Seperti kita sang tokoh utama, Intan juga memulai petua­langannya pertama kali bepergian ke luar negeri di awal 20-an. Menegaskan sekali lagi, bepergian keluar negeri memang bukanlah privilege yang jamak dimiliki semua orang.

Setelah mampu menginjakkan kaki di luar negeri, persoalan lain yang datang ialah terkait dengan kewarganegaraan. Intan tampak sekali sangat terpengaruh pada isu diaspora, bukan hanya dari Indonesia, melainkan dari seluruh dunia yang kerap mempertanyakan lagi keterikatannya dengan tanah asal, origin.
Ia menyebut tetangganya di Queens, Amerika Serikat, yang multietnik. Sebagian mereka bahkan tidak bisa berbahasa Inggris meski memiliki segudang properti yang mampu menunjang hidup serbakecukupan.

Menurutnya, bagian paling penting dari perjalanan ialah merefleksi, untuk kemudian membangun kembali identitas diri yang lebih kaya. Hal itulah yang ia rasakan selama satu dekade tinggal di luar Indonesia, yakni suatu pandangan yang baru saat memandang Indonesia, yang didapatnya melalui proses selama di negeri orang.

Meski buku bergenre unik dengan plot penuh intrik, Intan menyelipkan sedikit pesan sponsor yang cukup menggelitik, yakni untuk menemukan sendiri batas personal kita di antara hasrat untuk berpetualang dan kebebasan, dengan keinginan kita untuk memiliki tembok-tembok tinggi yang mengingatkan kita dari mana kita berasal.

Tak lupa, perempuan yang tetap mengikuti perkembangan terkini di Indonesia meski telah tinggal di luar negeri ini juga mengajak kita menelaah makna pribumi yang belakangan ramai dibahas di berbagai laman pemberitaan dalam negeri. Dengan berpetua­lang, menurut Intan, maknanya mungkin tidak akan sesempit wacana-wacana itu lagi. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More