Qoyimah - Mengajar Ngaji dan Advokasi

Penulis: FU/M-2 Pada: Kamis, 26 Okt 2017, 09:09 WIB Inspirasi
Qoyimah - Mengajar Ngaji dan Advokasi

Qoyimah di rumahnya yang dijadikan tempat mengaji. Nama pengajiannya adalah Pengajian Alqoyim. -- MI/Furqon Ulya Himawan

RUMAH Qoyimah berukuran 6 meter x 4,5 meter, tepat di pinggir jalan kampung dan tidak jauh dari jalan Imogiri Timur. Tergolong bangunan baru, karena ba­ngunan lama telah hancur akibat gempa bumi yang melanda DIY pada 2006. Lalu, dia mendapat bantuan pemerintah melalui Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) untuk membangun rumah baru.

Bagian ruang tamu ukurannya sekitar 2 meter x 4,5 meter. Warna hjau mendominasi ruangan itu. Tidak ada kursi yang tertata. Hanya dua meja kecil dan satu lemari kayu yang berisi Iqra jilid 1-6, Juz Amma, dan beberapa Alquran.

Ruangan itu telah disulap Qoyimah menjadi tempat mengaji bersama ibu-ibu dan anak-anak di kampungnya setiap sore. “Jadi tidak hanya untuk ruang tamu saja, tapi juga untuk mengaji,” katanya.

Saban sore, tepatnya sehabis asar, puluhan anak-anak di desanya dan dari desa sekitarnya datang ke rumahnya untuk mengaji dan belajar pengetahuan umum. Tak hanya anak-anak, ibu-ibu dari kampungnya pun ikut datang untuk mengaji bersama.

Setiap Minggu, Senin, Jumat, dan Sabtu, Qoyimah mengajari membaca Iqra dan alquran, sedangkan Selasa Qoyimah mengajari bacaan-bacaan ketika salat atau cerita nabi-nabi.

“Saya juga menceritakan tentang kepribadian anak, kesehatan, dan persoalan KDRT,” ceritanya.

Dalam persoalan KDRT, qoyimah memberikan perhatian serius. Dia menjelaskan bagaiaman caranya ketika anak-anak menerima kekerasan dalam rumah tangga, apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya.

“Misalnya, kalau terkena KDRT di rumah, dipukul ibu, lapor kepada ayah atau paman. Kalau di sekolahan, lapor kepada gurunya, atau kalau tidak berani, bisa lapor kepada saya,” urai Qoyimah tentang bagaimana caranya ketika anak-anak mendapat kekerasan.

Namun, Qoyimah juga menekankan bahwa anak-anak harus berperilaku sopan santun kepada orangtua. Tidak boleh bicara kasar dan selalu jujur pada orangtua. “Jadi biar saling menghormati dan tidak menyakiti,” ujar perempuan beranak dua.

Melatih organisasi
Qoyimah adalah jebolan pondok pesantren di daerah Jejeran, Bantul. Dia sudah menamatkan belajar membaca Alquran pada gurunya. Dia ingin selalu mengajarkan ilmu yang dia miliki kepada siapa saja, makanya dia mengajarkan ngaji kepada anak-anak di kampungnya.

Dia sendiri yang mengajar langsung mengaji kepada anak-anak dan ibu-ibu di kampungnya. Namun, Qoyimah yang sejak kecil bercita-cita sebagai guru, tidak mau disebut guru ingaji. “Saya juga masih bodoh, kita belajar bersama,” katanya, merendah.

Tak hanya mengajar ngaji, ilmu organi­sasinya yang didapatkan dari Pekka dia ajarkan kepada anak-anak di kampung. Qoyimah mengajari cara berorganisasi. Murid-muridnya membuat bagan organisasi di tempatnya mengaji.

“Jadi mereka membuat sendiri bagan organisasinya, saya hanya memfasilitasinya,” terang perempuan yang suka makan buah pisang dan sayuran.

Di dinding ruang mengaji, tertempel susunan kepengurusan pengajian Alqoyim dan foto-foto kegiatan yang pernah dilakukan, seperti outbond dan acara peringatan hari besar Islam. Ada 67 anggota yang mengaji di tempatnya, baik anak-anak maupun ibu-ibu.

Qoyimah senang bisa berbagi ilmu mengaji dan ilmu organisasi kepada siapa saja, terlebih kepada anak-anak di kampungnya, karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang memang harus pintar dan pandai mengelola organisasi. “Jadi biar tidak seperti saya, sudah tua baru tahu tentang makna organisasi,” kisahnya.

Di lemari kayu yang tertata di ruang mengaji, ada setumpuk buku tabungan di bagian paling bawah. Itu adalah catatan tabungan murid-murid yang mengaji di tempatnya. “Iya mereka juga saya latih menabung, mereka sendiri yang mengurusi,” ucapnya, lalu tersenyum.

Qoyimah adalah sosok perempuan yang tak kenal lelah berorganisasi dan rendah hati dalam berbagi ilmu. Ia tak ingin dipuji, tapi dia selalu memberi apa yang masyarakat inginkan. (FU/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More