Qoyimah - Tukang Rongsokan yang Menggerakkan Rumah Tangganya

Penulis: Furqon Ulya Himawan Pada: Kamis, 26 Okt 2017, 08:57 WIB Inspirasi
Qoyimah - Tukang Rongsokan yang Menggerakkan Rumah Tangganya

Qoyimah - Tukang Rongsokan. -- MI/Furqon Ulya Himawan

SOSOK perempuan itu keluar rumahnya di Dusun Bembem, Desa Trimul­yo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, DIY. Dia berjalan menuju rumah tetangganya yang menjadi lokasi Posyandu Nanas 1. Tempatnya tak jauh, tepat di depan rumahnya. Jaraknya sekitar 10 meter.

Sudah menjadi kebiasaan, pada tanggal 23 setiap bulannya, Posyandu Nanas 1 memiliki kegiatan memeriksa kesehatan balita di dusunnya. Perempuan itu, Qoyimah, sebagai kader posyandu balita yang ikut mengurusi kegiatan itu.

“Saya kebetulan menjadi sekretaris kader posyandu balita,” kata Qoyimah saat Media Indonesia mengunjungi rumahnya, Senin (23/10).

Jarum jam belum menunjuk angka 9 ketika dia sampai di lokasi Posyandu Nanas 1. Masih sepi. Namun, sejumlah kursi, timbangan anak, dan mainan anak-anak sudah tertata apik. Qoyimah terlihat memeriksa beberapa catatan buku posyandu dan perlengkapan lainnya. “Biasanya pukul 09.00 baru berdatangan,” imbuhnya.

Qoyimah ialah satu dari jutaan perempuan yang ada di Indonesia. Dia salah satu penggerak kader perempuan di Bantul. Aktivitasnya padat pada hari itu. Mulai pagi sampai sore, hampir tak ada jeda. Padahal, dulu dia sosok perempuan pendiam dan selalu minder jika berkumpul dengan orang lain.

“Saya itu kan orang miskin, jelek, dan hanya tamatan SLTP. Malu dengan lainnya yang kaya dan cantik apalagi mereka berpendidikan tinggi,” ceritanya.

Tukang barang rongsokan itulah yang Qoyimah katakan tentang pekerjaannya. Orang yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari rongsokan atau barang-barang bekas yang sudah tidak dipakai dan membelinya. Setelah itu barang-barang bekas tadi dijual kembali ke penampung barang bekas.

Penghasilannya saban hari tak menentu. Rata-rata Rp10 ribu-Rp30 ribu. Dia harus berkompromi agar pengeluaran rumah tangganya tidak membengkak. Terlebih dia kepala rumah tangga yang harus memenuhi kebutuhan keluarganya sejak suaminya, Mardiono, meninggal pada 2001.

“Sejak 1995 saya jadi tukang rongsokan,” ujarnya.

Dulu, Qoyimah pernah bekerja di sebuah pabrik. Namun, pada 1992 suaminya sakit-sakitan. Karena harus merawat suaminya dan Qoyimah juga dalam kondisi hamil tiga bulan, dia memutuskan keluar dari pabrik dan membuka warung kecil-kecilan di rumah.

Dia juga mengisi waktu di rumah dengan menjadi buruh menyulam kain, tapi kedua pekerjaan itu tidak cukup untuk keluarganya. Untung saudaranya selalu kadang memberinya makan. “Kalau tidak ada saudara yang memberi, kami tidak bisa makan,” kisahnya.

Setelah anak keduanya berusia dua tahun, Qoyimah mengambil keputusan yang baginya sulit tapi mesti dia lakukan. “Saya mencari rongsok,” ujarnya, pelan.

Keputusan itu dia ambil lantaran suami­nya sakit, anaknya harus makan dan sekolah. Dia hanya berharap bisa bekerja mendapatkan uang untuk makan karena dia malu kalau terus-terusan harus bergantung pada keluarganya. Dan yang pasti, dia harus mencari uang untuk menyekolahkan anak-anaknya. “Saya hanya ingin keluarga saya sejahtera,” harapnya.

Menjadi tukang rongsokan, menurut Qoyimah, saat itu adalah pilihan tepat. Pertama dia tidak terikat waktu: bisa berangkat dan pulang kapan saja dan dia bisa menyiapkan makan untuk keluarganya sebelum berangkat kerja. Ketika pulang kerja ia masih bisa berkumpul bersama keluarga.

“Waktunya lebih longgar, masih tetap bisa menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” kata dia.

Sejak menjadi tukang rongsokan, Qoyimah selalu berangkat pagi. Pukul 08.00 setelah selesai menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dari rumahnya Qoyimah naik sepeda onthel menuju Kota Yogyakarta. Di sana dia mencari barang bekas, kertas koran, dan plastik botol minuman. Dia berusaha pulang sebelum sore karena ingin memasakkan makanan untuk keluarganya.

Awalnya Qoyimah malu menjadi tukang rongsokan. Dia pun kadang diam-diam kalau berangkat dari rumahnya, jangan sampai tetangga tahu apa pekerjaannya. Akan tetapi, lama-kelamaan rasa itu dia hilangkan terlebih ketika suaminya meninggal dan dia harus melanjutkan roda kehidupan sebagai kepala rumah tangga.

Tidak ada pilihan lain selain tetap melanjutkan sebagai tukang rongsokan. Baginya, pekerjaan apa pun mulia yang penting dijalani dengan jujur dan ikhlas. Apalagi dia tidak mencuri. Dia membeli barang bekas yang sudah tidak dipakai orang.

“Saya hanya ingin bekerja sekuat tenaga agar anak-anak bisa makan, sekolah, dan mendapatkan ilmu melebihi saya, ibunya, yang hanya tukang rongsokan. Biarlah yang menderita hanya ibunya,” ujar perempuan berusia 55 tahun itu. Pandangannya lalu tertuju pada anak-anak kecil yang mulai berdatangan ke posyandu untuk memeriksa kesehatan.

Aktivitas itu Qoyimah lalui saban hari, sampai kedua anaknya lulus SMK dan kini telah berkeluarga masing-masing. “Alhamdulillah, anak-anak saya tidak malu. Mereka malah bangga saya bekerja keras untuk membiayai mereka sekolah,” kenangnya dan terlihat buliran air keluar dari pojokan kedua matanya.

Dia berpamitan sebentar, menuju ke dalam ruangan. Tangannya membawa buku catatan ketika keluar dan meminta teman-temannya untuk membubuhkan tanda tangan di buku itu.

Mengenal organisasi
Hari itu Qoyimah lalui dengan padatnya kegiatan. Dia berpamitan untuk pergi ke puskesmas. Ada pertemuan rutin kader posyandu yang harus didatanginya. Habis itu, Qoyimah meski mengikuti pelatihan advokasi dan sore harinya dia mengajar ngaji di rumahnya.

Semua aktivitas itu dia dapatkan setelah mengenal organsiasi Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka). “Itu juga yang membuat saya tidak minder lagi,” kata dia.

Pada 2011, Qoyimah mendapat undangan ke balai desa. Waktu itu ada Seknas Pekka mengumpulkan ibu-ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Dan Qoyimah masih ingat, dia duduk di bagian paling belakang karena merasa minder. Kalau diminta angkat tangan, Qoyimah merasa tangannya berat mengangkat. “Jadi saya duduk diam saja di belakang,” ujarnya lalu tersenyum sendiri mengenang masa-masa itu.

Meski selalu diam dan duduk di belakang, kalau ditanya, Qoyimah selalu bisa menjawab. Itulah sebabnya Qoyimah selalu dilibatkan dalam acara-acara Pekka. Hingga suatu saat Qoyimah diminta ikut pelatihan Pekka di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Qoyimah mengenang banyak sekali ilmu yang didapatkannya saat itu. Dia tak pernah mengira hidupnya bakal berubah seperti itu, tukang rongsok dan miskin bisa ke Lombok dan mendapatkan pendidikan gratis, naik pesawat, dan tidur di hotel.

“Alhamdulillah ilmunya banyak sekali. Dulu saya kalau bicara malu, sekarang tidak. Walupun gigi saya tinggal dua, saya pede saja. Sudah berani bicara dan saya sangat bersyukur,” ucapnya, mantap.

Sejak saat itulah Qoyimah bertambah aktivitas, yang dulunya hanya sebagai tukang rongsokan kini dia menjadi kader perempuan Pekka dan kader penggerak perempuan di sejumlah tempat. Lalu belum lama ini, dia menjadi wali amanah di Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Koperasi Pekka.

“Saya juga mendapatkan pelatihan bagaimana mengadvokasi diri sendiri dan membantu orang lain yang membutuhkan advokasi,” imbuhnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More