Simbol Kedaulatan Pangan Warisan Peladang

Penulis: Aries Munandar Pada: Minggu, 22 Okt 2017, 05:46 WIB Khazanah
Simbol Kedaulatan Pangan Warisan Peladang

MI/Ebet

PADI sebanyak 6 ton diperoleh Kanius dari lima petak lahan miliknya setiap kali panen. Kelima petak lahan tersebut masing-masing seluas 0,5 hektare. Sebanyak dua petak berupa lahan kering di dataran tinggi dan tiga petaknya lagi lahan paya atau rawa dangkal di lembah.

Kanius bertanam padi setahun sekali dengan pola gilir balik atau rotasi lahan. Pola perladangan seperti ini jamak dilakoni komunitas adat Dayak di Kalimantan Barat. Begitu pula komunitas Dayak Jalai, seperti Kanius, dan mayoritas warga di kampungnya di Desa Tanggerang, Kecamatan Jelai Hulu, Ketapang, Kalimantan Barat.

Setiap kali panen, Kanius selalu menyimpan hasilnya di lumbung padi. Jurung, begitu masyarakat setempat biasa menyebutnya. Padi yang disimpan di jurung masih menyertakan batang malai sehingga relatif awet disimpan dalam jangka waktu lama. Lama penyimpanan padi di jurung berkisar 1-3 tahun atau musim.

Jurung menyerupai rumah panggung dengan ditopang beberapa tiang dan beratapkan sirap. Desain dan karakter bangunannya sangat khas serta fungsional dengan mengadopsi kearifan lokal. Desain bangunannya berbentuk segilima, dengan bagian tengah melebar.

"Ruangannya melebar ke atas untuk mengurangi kelembapan dan tampias saat hujan," kata Benyamin Efraim, Direktur Eksekutif Institut Dayakologi, lembaga penelitian dan advokasi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat.

Dinding jurung aslinya tersusun dari helaian kulit kayu, tetapi sekarang banyak yang diganti dengan bilahan papan. Jumlah tiang penopangnya bervariasi, yakni empat, enam, dan delapan buah. Jumlah tersebut disesuaikan dengan luas serta kapasitas bangunan. "Jurung saya bertiang empat. Ukurannya sekitar 2x3 meter," ujar Kanius, 48, saat ditemui di kampungnya, beberapa waktu lalu.

Tiang penopang di setiap penjuru dilengkapi jelapangan, yakni penampang di bagian pangkal sebelum berimpit dengan gelegar. Jelapangan dibuat melingkar dengan sisi setebal 5 sentimeter untuk menghalangi tikus naik ke jurung. Tangga jurung yang terbuat dari balok kayu bertakuk juga bisa dilepas atau dipindahkan demi menghindari gangguan satwa.

Replika kepala naga menghiasi ujung atap bagian depan jurung. Sementara itu, replika ekornya bertengger di ujung bagian belakang. Ukiran berbentuk makhluk legendaris tersebut merupakan simbol dari kekuatan spritual yang melindungi jurung.

Tepung tawar

Pembangunan sebuah jurung harus didahului ritual adat alung dingin. Ritual serupa tepung tawar ini untuk memohon restu dari penguasa alam semesta. Kesangi (beras halus), kunyit, hahidup, dan sengkubak beserta sebentuk timah, empat keping uang logam, dan sebutir telur menjadi bahan utama ritual.

Kesangi dan hahidup melambangkan kehidupan. Sementara itu, kunyit dan sengkubak bermakna pemanis dan penawar. Sebentuk timah beserta empat uang logam melambangkan kedamaian dan kesuksesan. Pelbagai harapan tersebut kemudian dihimpun melalui simbolisasi telur sebagai perekat.

Kecuali hahidup, sesajian tersebut kemudian dimasukkan di lubang tiang pertama dan ditaburkan pada lubang tiang berikut. Hahidup ditanam di sekitar jurung sebagai makna dari kelangsungan hidup untuk mencapai kesejahteraan. "Alung dingin dilakukan supaya terhindar dari marabahaya," jelas Benyamin, Kamis (12/10).

Lelaku spritual juga dilakukan pada saat menyimpan hasil panen pertama dalam satu musim. Lelaku itu dilakukan untuk mengambil semangat padi melalui ritual menjulang atuq. Melalui ritual ini, pemilik jurung melabuhkan harapan agar padi yang disimpan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama setahun.

Hasil panen padi memang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari ketimbang dijual. Untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya, warga bertanam karet, beternak, dan menangkap ikan di sungai.

Lambang kemakmuran

Jurung bagi komunitas Dayak Jalai sejatinya lebih dari sekadar tempat penyimpanan padi. Keberadaannya juga menyiratkan kekayaan nilai budaya sekaligus identitas sosial sebagai masyarakat agraris dan simbol kedaulatan pangan.

Jurung sering pula diidentikan dengan status sosial dan etos kerja serta kemakmuran. 'Rumah basar panuh buat, jurung tinggi panuh padi' menjadi ungkapan populer di komunitas Dayak Jalai. Ungkapan ini bermakna, kekayaan seeorang tergambar dari aset yang dimilikinya, yakni rumah besar penuh harta dan jurung besar sarat padi.

Nilai aset di jurung bisa ditaksir dari jumlah tiang penopangnya. Semakin banyak tiang semakin besar kapasitasnya. Itu berarti berlimpah pula hasil ladang dari pemilik jurung. Selain luasan lahan, isi jurung bergantung etos kerja atau kemampuan peladang dalam menggarap lahan.

"Satu orang bisa memiliki lebih dari satu jurung. Kakek saya dahulu sampai punya tujuh jurung. Beliau memang dikenal sebagai pekerja keras," tutur Benyamin, yang juga berasal dari Desa Tanggerang.

Namun, fungsi jurung kini perlahan mulai tergeser oleh budaya pragmatis. Beberapa peladang lebih memilih menyimpan hasil panen mereka dengan karung plastik karena dianggap lebih praktis. "Karung-karung plastik itu disimpan di rumah, jadi tidak perlu lagi membuat jurung," ungkap Kanius.

Simbol kedaulatan pangan ini pun semakin tergerus seiring dengan serbuan investasi. Area untuk perladangan kian menyempit lantaran dikonversi menjadi lahan perkebunan, hutan tanaman, dan pertambangan. Pekerjaan sebagai peladang pun mulai banyak ditinggalkan warga dan beralih menjadi pegawai atau buruh perusahaan.

Benyamin menilai perubahan sosial ini mengancam warga tercerabut dari akar budaya mereka. Berladang bagi komunitas adat Dayak, menurutnya bukan aktivitas bercocok tanam dan untuk memenuhi kebutuhan hidup belaka. Ada beragam seni, budaya, dan ritual yang melingkupi tradisi ini, termasuk budaya berjurung.

"Berladang sudah menjadi identitas sosial bagi masyarakat adat Dayak, apa pun profesinya. Bapak saya, misalnya, tetap berladang meskipun seorang guru. Dia merasa belum lengkap sebagai orang Dayak jika tidak berladang," pungkasnya.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More