Menjadikan Pembudidaya Kian Berdaya

Penulis: MI Pada: Jumat, 20 Okt 2017, 15:55 WIB Edsus 3 Tahun Jokowi-JK
Menjadikan Pembudidaya Kian Berdaya

USAI mengamankan perairan Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai memperhatikan sektor budidaya. Berbagai program budidaya perikanan digelontorkan sepanjang tahun ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyebut bantuan untuk pembudidaya ikan digencarkan pada tahun ini, setelah dua tahun sebelumnya gencar memberantas illegal fishing. Sebanyak 297,34 juta ekor benih dan 392 paket pakan mandiri diberikan kepada pembudidaya.

Selain itu, KKP membangun 2.915 unit sarana dan prasarana budidaya berupa fasilitas bioflok, keramba jaring apung (KJA), dan mina padi, serta memberikan 8 ribu sertifikat hak atas tanah nelayan.

“Setelah berhasil memberantas IUUF (illegal, unreported, and unregulated fishing), kita sekarang fokus ke pemberdayaan. Salah satunya, program pakan mandiri supaya pembudidaya ikan kita bisa lebih berdaya,” ucap Susi di Jakarta, Rabu (18/10).

Pendiri Susi Air itu menilai program pakan mandiri sudah menurunkan biaya produksi para pembudidaya. Selama ini, para pembudidaya membeli pakan ikan dari pabrikan yang menjual dengan harga sekitar Rp6.500 per kilogram (kg).

“Itu yang membuat margin mereka terbatas. Karenanya, kita memberikan program pakan mandiri dengan menyediakan mesin dan kendaraan,” tukasnya.

Program bantuan yang paling melonjak dari target ialah bantuan benih ikan unggul atau bermutu guna menaikan produksi budidaya. Target KKP, program bantuan benih hanya 100 juta ekor untuk seluruh provinsi, tetapi realisasi sudah mencapai 297,34 juta ekor atau hampir tiga kali lipat dari target.

“Jadi saya kira ini sudah melebihi target. Karena bantuan benih ini sebenarnya tidak terbatas, bantuan benih ini bisa diberikan kepada masyarakat yang terkena musibah, masyarakat yang betul-betul membutuhkan, dan masyarakat yang tidak mampu membeli benih,” ungkapnya.

Di samping itu, program lele bioflok diharapkan menjadi salah satu pendorong peningkatan angka produksi. Sebanyak 103 paket lele bioflok yang diprogramkan pada tahun ini. Bantuan itu akan diberikan kepada 88 lembaga yang terdiri atas 3 lembaga pendidikan, 12 kelompok pembudidaya, dan 73 pondok pesantren.

Program-program tersebut pun disebut sudah membuahkan hasil. Angka sementara produksi budidaya pada semester I tahun ini mencapai 7,5 juta ton, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yang sekitar 5 juta ton. Produksi tersebut berasal dari rumput laut yang sebesar 4 juta ton dan ikan budidaya 3,5 juta ton.

Kenaikan produksi budidaya tersebut pun diharapkan Susi bisa mengerek tingkat konsumsi ikan masyarakat. Sebab, dari 43,94 kilogram (kg) per kapita, sebanyak 60% merupakan suplai dari perikanan budidaya.

Ia pun menilai peningkatan konsumsi ikan budidaya harus diprioritaskan ke pondok-pondok pesantren. Sebab, menurut Susi, tingkat konsumsi ikan per kapita per tahun santri pesantren sangat rendah, yakni 9 kg per kapita per tahun. Karena itu, dia berharap dengan bantuan lele bioflok ke pondok pesantren, produksi ikan budidaya bisa naik sekaligus meningkatkan konsumsi ikan para santri.

“Adanya bantuan bioflok ini, anak-anak pesantren bisa mengonsumsi protein secara langsung dari hasil bioflok. Satu lubang bisa menghasilkan setengah ton dalam waktu 2,5 bulan. Paling tidak bisa bertambah, setidaknya dalam seminggu sekali bisa makan ikan. Biar protein mereka bertambah,” imbuh Susi.

Lebih lanjut, bioflok selain diberikan untuk para santri dan pondok-pondok pesantren juga ditujukan buat masyarakat di wilayah perbatasan. “Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan mempertahankan ketersediaan dan ketahanan pangan masyarakat perbatasan,” ucap Susi.

Saat dihubungi Media Indonesia, Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Imza Hermawan mengaku pihaknya sudah mulai merasakan manfaat dari bantuan pemerintah. Fasilitas pakan mandiri dan program bioflok yang paling dirasakan dampaknya oleh para pembudidaya ikan lele. Dengan pakan mandiri, ia menyebut ada penghematan biaya operasional hingga Rp1.000-Rp3.000 per kg.

“Setahun terakhir ini bantuan KKP ke teman-teman pembudidaya sudah makin baik. Bantuan yang sangat bermanfaat bagi kami adalah pakan mandiri,” kata dia.

Kendati demikian, ia meminta KKP untuk terus mendampingi para pembudidaya dalam menjalankan program-program bantuannya. Pasalnya, tidak seluruh pembudidaya paham dengan peralatan atau teknologi yang diberikan pemerintah. Budidaya dengan sistem bioflok juga dinilai memerlukan pengetahuan dan keahlian spesifik.

“Kami dari asosiasi sudah pernah urun rembug untuk meminta pendampingan intensif,” pungkas Imza.

Terus Galakkan IUUF
Di sisi lain, Susi menyatakan akan tetap memerangi IUUF selama dua tahun sisa pemerintahan Jokowi-JK. Dalam kurun 2014-2017, sebanyak 317 kapal pencuri ikan yang ditenggelamkan Susi.

“Kami akan tetap melanjutkan pemberantasan IUUF. Sudah lebih 10 ribu kapal yang kami usir yang selama ini mencuri ikan di perairan kita. Lalu, masih ada 700 kapal eks asing lagi yang masih berhenti di pelabuhan-pelabuhan, sedang diproses kepulangannya,” beber Susi.

Ia mengungkapkan, pencurian ikan kini tidak lagi dilakukan oleh kapal asing dan eks asing. Sudah banyak kapal-kapal lokal yang bekerja sama dengan asing untuk mengambil hasil laut Indonesia melalui transhipment di laut lepas. Tuduhan itu dibeberkan dari pantauannya melalui Global Fishing Watch yang bisa dilihat oleh publik. Saat ini makin banyak kapal-kapal ikan Indonesia yang bertemu dengan kapal ikan asing di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).

“Untuk mengawasi itu, kita bekerja sama dengan Jepang untuk menambah radar. Lalu, kami akan membangun sarana prasarana pengawasan di daerah rawan IUUF dan exit-entry point,” ucapnya.

Upaya tersebut dilakukan agar capaian KKP dalam tiga tahun pemerintahan tetap terus berlanjut. Ia menyebut pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) perikanan saat ini sudah berada di atas PDB nasional.

“Pertumbuhan nasional kita 5,01%, sedangkan PDB perikan­an di 2015 itu 8,35%, di 2016 sebesar 7,03%, dan 2017 kuartal II 7,08%. Sebelum pemerintahan Pak Jokowi, pertumbuhan perikanan selalu di bawah,” ucapnya.

Selain itu, potensi tangkap naik dari 7,31 juta ton pada 2013 menjadi 12,54 juta ton pada 2016. Produksi perikanan juga naik dari 22,3 juta ton pada 2015 menjadi 23,5 juta ton pada 2016, dan 11,84 juta hingga kuartal II 2017.

Dari neraca perdagangan, Indonesia pun akhirnya bisa memperoleh peringkat pertama se-ASEAN pada tahun lalu. Thailand dan Vietnam yang selama ini berebut menjadi posisi pertama langsung mengalami keanjlokan neraca perdagangan pascapemberantasan IUUF oleh pemerintah Indonesia. (Jes/S2-25/OL-6)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More