Menjadikan Pariwisata DNA Perekonomian

Penulis: MI Pada: Jumat, 20 Okt 2017, 15:40 WIB Politik dan Hukum
Menjadikan Pariwisata DNA Perekonomian

MI/Arya Manggala

MEMASUKI tiga tahun masa pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah membuktikan kinerjanya, antara lain dengan menjadikan brand ‘Wonderful Indonesia’ yang terbaik di dunia.

Lebih lanjut mengenai upaya dan pencapaian apa saja yang telah dan akan dilakukan oleh Kemenpar dalam kurun 2014-2019, berikut petikan wawancara Media Indonesia Puput Mutiara dan Rosmeri Sihombing dengan Menteri Pariwisata Arief Yahya, di ruang kerjanya di Gedung Sapta Pesona, Kemenpar, Jakarta, Selasa (17/10):

Apa yang dilakukan Kemenpar dalam memenuhi visi dan misi pemerintahan Presiden Jokowi-Jusuf Kalla yang tertuang dalam Nawa Cita?

Berdasarkan diskusi yang panjang dengan Presiden, salah satu yang dibahas adalah mengenai DNA bangsa ini. Jepang dikenal karena otomotifnya, Korea dengan ekonomi kreatif, Amerika unggul di Teknologi Informatika (IT), dan Thailand lewat pariwisata dan pertanian. Lalu Indonesia apa? Kalau bukan pariwisata, apa lagi yang bisa jadi yang terbaik dan terbesar di dunia? Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan pun jelas, pariwisata sebagai leading sector atau sektor unggulan. Ini yang akan terus kita upayakan supaya target-target yang ditetapkan langsung oleh Presiden dapat tercapai.

Dalam program Nawa Cita disebutkan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) harus mencapai 20 juta pada 2019. Bagaimana capaian tahun ketiga?

Data indeks daya saing pariwisata yang penilaiannya dilakukan dua tahun sekali oleh World Economic Forum (WEF) menyebutkan, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia terus meningkat. Di 2015, jumlahnya hanya 10 juta, tahun berikutnya naik jadi 12 juta, dan tahun ini melonjak ke 15 juta. Berdasarkan hitunghitungan, kami optimistis target 20 juta di 2019 akan tercapai, bahkan bisa lebih.

Kontribusi wisman terbesar dari negara mana?

Saat ini, kontribusi terbanyak masih dari Tiongkok dengan hampir 2,5 juta wisman, menyusul Singapura 2,275 juta, Eropa mencakup Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Rusia, dan yang lainnya total 2,198 juta. Baru kemudian negaranegara seperti Australia, Malaysia, Jepang, India, Korea Selatan, Amerika, Timur Tengah, Filipina, Thailand, dan yang lainnya sehingga total menjadi 15 juta wisman tahun ini.

Apa strategi Kemenpar dalam meraih capaian itu?

Meskipun dari segi branding boleh dibilang kita sudah berhasil, fokus kita bukan hanya di brand tetapi juga produk. Kalau pakai rumus 4P, promosi kita jalankan, produknya kita perbaiki, price-nya juga, begitupun place. Empat tempatnya paralel saya kejar. Pada dasarnya produk kita bagus, nature kita bagus, tapi kita lemah di branding. Dengan promosi besar-besaran sampai ke negara-negara luar, terbukti branding kita terbaik di dunia, bahkan sudah mengalahkan Truly Asia-nya Malaysia dan Amazing Thailand.

Apa yang akan diintensifkan untuk mencapai target 20 juta wisman?

Promosi branding besar-besaran masih kita lakukan terutama di tempat-tempat yang iconic. Di Singapura kita gila-gilaan, strateginya adalah menjaring ikan di kolam orang lain. Kalau saya bulatkan, di Singapura penduduk aslinya 3,5 juta, 1,5 juta ekspatriat. Jadi, total residennya 5 juta. Tapi, turisnya ada 15 juta. Nah, sekarang turisnya sudah ada di Singapura, kita habisin saja besar-besaran, pasti datang ke Indonesia. Mereka tinggal menyeberang, yang tadinya 40 dolar, saya buat setengah harga. Produk juga terus kita perbaiki, salah satunya dengan menambah destinasi pariwisata unggulan. Selain 10 Bali Baru, kita juga punya Top 10 Branding yang siap dipasarkan yaitu Bali, Jakarta, Kepri, Medan, Bandung, Joglo Semar, Surabaya, Banyuwangi, dan Makassar. Jadi yang kita promosikan adalah produk yang sudah siap.

Apa tantangan yang dihadapi Kemenpar?

Potensi kita bagus, tapi performance buruk. Jumlah wisatawan kita di 2013 itu hanya sepertiga dari Malaysia. Sekali lagi kita enggak mungkin bisa mengalahkan Malaysia, Thailand, dan Singapura. Karena, dalam persaingan sekarang bukan yang besar makan yang kecil, tapi yang cepat makan yang lambat.
Kita terbelit dengan birokrasi yang menjerat diri kita sendiri. Jadi kita bekerja untuk birokrasi bukan untuk objektif. Mestinya kalau mau maju kita harus tetapkan core business. Setelah ditetapkan, semua kementerian/lembaga (k/l) harus bersatu. Kalau memang core business kita pariwisata, semua wajib mendukung.

Bagaimana dukungan K/L lain dan Pemda?

Tahun 2014, Presiden sudah menetapkan pariwisata sebagai leading sector. Kalau Menpar yang tetapkan target mungkin enggak ada yang dengar, tapi kalau sudah Presiden yang ngomong mestinya semua bisa menjalankan. Sejauh ini hampir tidak ada permintaan saya yang tidak dipenuhi, termasuk membuat jalur penerbangan Silangit-Singapura di Oktober ini. Semua K/L sangat mendukung.

Banyak kawasan wisata di daerah yang potensial, tapi tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai. Apa tindakan kementerian?

Kemenpar bekerja sama dengan beberapa K/L untuk mengatasi persoalan akses. Datanya, 75% orang pakai airlines. Sedikit harus saya ralat, 24% sisanya itu mostly lewat laut dan terjadinya di Kepri (Kepulauan Riau) dan 1% overlines. Jadi saya ingin mengatakan hampir 100% orang di luar Kepri transportasinya airlines.
Bagaimana orang mau datang kalau bandaranya enggak memadai? Misalnya, orang mau ke Danau Toba, kalau lewat Kualanamu harus tujuh jam lagi baru bisa sampai tujuan. Makanya kita buka jalur penerbangan Silangit-Singapura termasuk direct Silangit-Jakarta supaya orang lebih mudah aksesnya. Masalah infrastruktur lain juga sudah kita perbaiki. Kita punya 70 ribu desa. Untuk membangun hotel di desa atau kota kecil, itu butuh waktu 5 tahun menunggu. Supaya ada pemerataan, kita ciptakan homestay desa wisata. Targetnya tahun ini ada penambahan 2 ribu homestay, di 2018 sebanyak 3 ribu, di 2019 ada 5 ribu penambahan. Jadi, total 10 ribu homestay nantinya tersebar di 10 Bali Baru dan destinasi lain.

Sektor pariwisata diyakini bakal menjadi pemasok devisa terbesar, melebihi devisa sektor minyak dan gas (migas). Caranya?

Untuk Indonesia, pariwisata menjadi penyumbang PDB (produk domestik bruto), devisa, dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah. Dilihat dari sisi devisa, tahun 2013 pariwisata peringkat keempat penyumbang devisa nasional sebesar 9,3%. Dengan pertumbuhan penerimaan devisa tertinggi 13% dan biaya marketing hanya 2% dari proyeksi devisa. Di 2016 kontribusi devisa pariwisata naik ke peringkat dua, mengalahkan migas dan batu bara. Angkanya juga menarik. Di 2013, migas jadi peringkat satu dengan nilai US$32,633, sedangkan pariwisata di posisi empat dengan US$10,054 juta.
Kemudian, tiap tahunnya migas terus menurun. Penurunan pada 2016 justru berbanding terbalik dengan sektor pariwisata yang naik dari US$12,225 juta di 2015 menjadi US$13,568 juta. Kalau dirata-ratakan, peningkatan di sektor pariwisata itu sebesar 25%, bisa dibayangkan tahun-tahun berikutnya mencapai berapa.

Sekarang kan sudah era digital. Apa Kemenpar punya program tertentu terkait digitalisasi itu?

Untuk bisa menjalankan strategi dengan baik agar target kita tercapai, harus sadar perkembangan zaman. Sekarang eranya sudah digital, 70% orang search and share pakai digital media. Anak-anak kita sekarang inginnya yang cepat, mudah, dan murah. Karena itu salah satu program prioritas kita ke depan adalah digital tourism. Promosi dan sebagainya itu kita lakukan juga lewat digital, termasuk melibatkan peran media
massa. (Mut/S2-25/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More