Kritik terhadap Modernisasi

Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2 Pada: Minggu, 15 Okt 2017, 11:07 WIB Weekend
Kritik terhadap Modernisasi

Richard Koh Fine Art dan Galeri Nasional Indonesia mempersembahkan pameran seni rupa kontemporer dari seniman asal Thailand, Natee Utarit. -- MI/Abdillah M Marzuqi

MEMANG hanya sedikit lukisan yang dipamerkan. Tak sampai 10, tepatnya 7 lukisan yang dipajang. Memang jumlah itu sangat berbanding terbalik dengan besaran ruang pamer. Meskipun demikian, jangan harap bisa dengan cepat ­meninggalkan ruang galeri. Setiap lukisan tak akan mengizinkan. Setiap lukisan punya daya tarik yang mampu membuat kaki tak mau ­beranjak dari dari hadapannya.

Apalagi semua lukisan berukuran raksasa. Rata-rata berukuran 2x5 meter, bahkan di antaranya ada yang melebihi 7 meter. Dengan dimensi itu, pandangan mata akan terdorong untuk mengamati setiap detail yang disajikan di atas kanvas. Karya-karya itu tersusun dari beberapa panel yang membentuk diptych, ­triptych, dan polyptych. Susunan itu seolah membawa kembali ke tradisi lukisan religius klasik dengan bingkai dan penataan serbarinci.

Itulah kesan singkat dari pameran tunggal perupa ­Thailand Natee Utarit bertajuk Optimism is Ridicolous: The Altarpieces di Galeri Nasional Indonesia. Pameran yang berlangsung 3–17 0ktober 2017 itu dipersembahkan Richard Koh Fine Art (RKFA) dan Galeri ­Nasional Indonesia.

Optimism is Ridiculous: The Altarpieces ialah rangkaian lukisan karya yang dikerjakan sejak 2012 serta pernah tampil di pelbagai galeri di Asia. The Altarpieces merupakan kritik Utarit terhadap modernisasi Barat, sindiran terhadap modernisme dan kapitalisme dengan segala godaan yang dibawanya terhadap adat dan tradisi setempat.

Ketertarikan Utarit pada lukisan religius Barat berasal dari pendekatan apropriatif terhadap seni rupa klasik Barat.

“Dalam lukisan-lukisan ini saya menawarkan tafsiran mengenai dunia dan pelbagai kepercayaan yang muncul di dunia Barat, menurut cara pandang Asia dari saya sendiri,” terang lulusan Jurusan Seni Grafis Universitas Silpakom, Bangkok, Thailand, itu.

Pameran keliling
Optimism is Ridiculous: The Altarpieces merupakan ­pameran keliling, sedangkan Galeri Nasional Indonesia menjadi perhentian kedua. ­Pameran ini sebelumnya sudah tampil di Museum Ayala, Kota Makati, Filipina, pada Februari 2017. Setelah Jakarta, pameran itu akan hadir di ­Singapura.

Praktik multifaset Utarit berfokus pada eksplorasi media lukisan yang menghubungkan fotografi dengan seni rupa klasik Barat. Ia memanfaatkan unsur cahaya dan perspektif dalam lukisan sebagai sarana untuk mengeksplorasi citra yang kompleks.

Lukisannya menghadirkan metafora yang luas dan ­beragam melalui gambaran alam benda (still life), suatu rangkaian kiasan mengenai kondisi sosial dan politik ­Thailand saat ini.

Pada pameran ini, Utarit menyuguhkan interpretasinya tentang dunia dan ­pelbagai ­kepercayaan yang muncul di belahan Barat dari sisi ­perspektif seseorang yang berasal dari Benua Asia. Karya lukis Utarit merepresentasikan gambaran Tuhan, dunia sekitar, dan kejadian kontemporer melalui keyakinan Buddha yang dianutnya.

Keseluruhan karya tersaji dalam jejak-jejak pemikiran keyakinan pada isu mendasar seperti tentang kematian, ketidakadilan, dan penderitaan manusia sekaligus juga karya yang menggambarkan dan menyusun kiasan-kiasan manusia ke dalam pengalaman universal pada bingkai budaya Thailand dan simbol sakral Barat.

Karya-karya Natee Utarit sudah dikoleksi sejumlah ­lembaga seni rupa terkemuka. ­Misalnya saja di Bangkok University, Queensland Art ­Gallery, dan Gallery of ­Modern Art di Brisbane, Australia, dan ­Singapore Art Museum di ­Singapura, serta sejumlah koleksi pribadi di Eropa dan Asia. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More