Panglima Gatot

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 15 Okt 2017, 07:16 WIB PIGURA
Panglima Gatot

POLITIK TNI adalah politik negara. Politik negara yang dimaksud ialah politik yang diabdikan bagi tegaknya NKRI, ketaatan prajurit kepada hukum, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan apa pun. Demikian ketika Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berpidato dalam peringatan HUT ke-72 TNI di Cilegon, Banten, 5 Oktober lalu.

Gatot juga menyampaikan TNI akan selalu taat kepada atasan, yakni presiden RI yang dipilih secara sah sesuai dengan konstitusi. "Sekali lagi, jangan ragukan kesetiaan TNI!" tukasnya.

Pernyataan itu dinilai penting karena belakangan banyak yang mengkritik atau menuduh Gatot berpolitik praktis. Itu didasarkan pada kerapnya Gatot beraktivitas di luar tugas utamanya mengasah dan menyiapkan kemampuan tempur TNI sebagai alat pertahanan negara.

Dalam cerita wayang, pernyataan sikap Jenderal Gatot tersebut seperti yang disampaikan Gatotkaca saat diwisuda menjadi panglima angkatan perang Amarta oleh Prabu Yudhistira. Gatot--panggilan Gatotkaca--bersumpah bahwa jiwa raganya diabdikan untuk rakyat dan negara Amarta serta para pepundennya (pemimpin), Pandawa.

Berjasa di Kahyangan

Alkisah, 'wahyu' Gatot bakal sebagai panglima angkatan perang Amarta sesungguhnya sudah tampak sejak ia masih jabang bayi. Di usia masih orok, ia digendong Sanghyang Bathara Narada terbang ke Kahyangan.

Di sana Gatotkaca, yang ketika itu masih bernama Tetuka, dijadikan sraya (bala bantuan) dewa mengusir Patih Sakipu yang mengamuk di Kahyangan. Sakipu ialah utusan Raja Negara Gilingwesi Prabu Kalapracona yang ingin menguasai Kahyangan.

Sebelum melaksanakan tugas, Tetuka dipoles terlebih dulu di Kawah Candradimuka. Putra pasangan Werkudara-Dewi Arimbi itu didewasakan dengan berbagai pusaka milik para dewa yang kemudian menyatu dalam jiwa dan raganya. Mentas dari Candradimuka, Tetuka dikisahkan berotot kawat-bertulang besi. Seluruh organ tubuhnya merupakan senjatanya.

Dengan bekal itu, tidak sulit bagi Tetuka menyirnakan Kalapracona dan Sakipu. Menurut sanggit dalang, Tetuka membunuh kedua raksasa tersebut dengan cara menggigit. Itu disebabkan ia memang memiliki taring. Itu 'gen' yang diturunkan ibunya dan kakeknya, Tremboko, yang berwujud yaksa.

Narada menasihatinya untuk tidak menggunakan taring dalam berperang. Haram hukumnya. Etika kesatria tidak diperkenankan melakukan segala sesuatu dengan cara-cara raksasa yang urakan. Sejak saat itu, Tetuka, yang kemudian diberi nama Gatotkaca, menyembunyikan taringnya.

Atas jasanya memulihkan Kahyangan, Gatot mendapatkan bintang jasa dan penghargaan dari Raja Kahyangan Jonggring Saloka, Sanghyang Bathara Manikmaya. Bonus itu dilambangkan berupa pusaka di antaranya caping basunanda, kotang antrakusuma, dan terompah padakacarma yang semuanya itu kian menambah kedigdayaannya. Ia mampu terbang secepat kilat.

Dalam seni pakeliran, Gatot memiliki sejumlah nama lain, di antaranya Bhimasuta, Bimasiwi, Arimbiatmaja, Hidimbyatmaja, Kacanegara, Purubaya, Krincing Wesi, Guritna, dan Guruputra.

Raja Pringgondani

Seiring dengan berjalannya waktu, Raja Amarta Prabu Yudhistira mengambil keputusan mengangkat Gatot sebagai panglima tentara nasional. Pilihan itu diambil setelah mempertimbangkan berbagai aspek keunggulannya. Sebelum putus, Yudhistira meminta pendapat dari keempat adiknya, yakni Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Dengan jabatan itu, Gatot bertanggung jawab atas seluruh keamanan dan pertahanan negara dari rongrongan, infiltrasi atau serangan musuh. Ia memikul amanah tersebut dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi.

Dalam seni pakeliran, Gatot kerap bertindak sebagai koordinator pengamanan negara bersama saudara-saudaranya, para putra Pandawa. Hal itu, antara lain, keamanan di dalam tanah dijaga Antareja, di laut dirondai Antasena, di darat dikawal Abimanyu, sedangkan matra udara berada dalam pengawasan Gatotkaca sendiri. Dengan demikian, pengamanan dan pertahanan Amarta begitu rapat dan tangguh.

Pada suatu ketika, di luar dari jabatan sebagai panglima, Gatotkaca dinobatkan menjadi raja Negara Pringgondani. Ini merupakan hasil musyawarah keluarga besar almarhum Prabu Tremboko setelah anak tertuanya, Arimba, yang menggantikannya sebagai penguasa mati dalam peperangan melawan Werkudara.

Arimbi adalah adik Arimba. Selain keduanya, Tremboko masih memiliki lima anak lain. Mereka ialah Brajadenta, Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Mereka semua sepakat sang keponakan, Gatotkaca, sebagai penerus di singgasana Pringgondani.

Akan tetapi, pada suatu hari, akibat terpengaruh oleh hasutan Patih Astina Sengkuni dan peran para Durna, Brajadenta yang semula bersedia menjadi patih Pringgondani berubah pikiran. Ia menentang Gatotkaca. Ia berkeras kekuasaan Pringgondani harus berada dalam genggaman trah langsung Tremboko. Namun, sikap mbalela-nya yang didukung Kurawa itulah mengakibatkan Brajadenta sirna marga layu (mati).

Gugur di Kurusetra

Tentu, posisinya sebagai raja menggunungkan tanggung jawab Gatotkaca. Namun, karena sumpah dan kesetiaannya telah terucap, Gatot memilih lebih mengutamakan Amarta. Maka, Pringgondani yang semula adalah negara berdaulat dan merdeka akhirnya menjadi bagian dari Amarta dan kerap terdengar 'hanya' sebagai kesatrian.

Ketika pecah perang Bharatayuda, Gatotkaca berharap langsung menjadi senapati. Namun, semua strategi perang diatur Kresna sebagai botoh Pandawa sekaligus pemegang Kitab Jitabsara, buku rahasia dewa yang berisi perang keluarga trah Abiyasa.

Kresna baru menerjunkan Gatot ke medan perang ketika Senapati Astina Karna Basusena maju ke palagan pada malam hari. Di situlah Gatot gugur sebagai kusuma bangsa setelah tertembus pusaka Karna, panah Kunta Wijayandanu.

Poin cerita itu ialah sejak diangkat sebagai panglima, Gatot fokus pada tugasnya. Ia tidak pernah menggok (berpaling) dari amanah tersebut meski memiliki jabatan politis sebagai penguasa di Pringgondani. Tanggung jawabnya itu ia pikul hingga tetes darah penghabisan di Kurusetra. Itulah pembuktikan bahwa politiknya adalah politik negara. (X-7)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More