Sebelum Pencemaran Pembalut makin Besar

Penulis: Rio/M-3 Pada: Sabtu, 07 Okt 2017, 07:01 WIB Humaniora
Sebelum Pencemaran Pembalut makin Besar

DOK U-TORC

KALI Brantas belum lama ini jadi sorotan. Sayangnya, bukan karena kabar baik melainkan kondisi tercemar akibat sampah pembalut dan popok.

Saat kelompok penyelamat lingkungan, Ecoton, melakukan aksi pembersihan di sejumlah anak Kali Brantas di Kota Kediri, Jawa Timur, jumlah pencemar tersebut mencapai 300 kg.

Kondisi tersebut merupakan potret kesekian dari tingginya pencemaran sampah popok dan pembalut. Jenis sampah ini kerap juga dimasukkan sebagai sampah plastik karena material yang digunakan. Data yang didapat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), total sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan sebanyak 14% merupakan

sampah plastik. Di sisi lain, permasalahan lingkungan yang diciptakan pembalut dan popok lebih berlipat. Bukan saja sulit terurai, jenis sampah ini bisa menimbulkan penyakit serius karena kotoran manusia di dalamnya.

Keprihatinan akan makin volume sampah pembalut juga menghinggapi empat mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB), Ni Made Surianti, Sang Ayu Made Arisasmita, Ida Ayu Made Wedaswari, dan Ni Komang Yastri Anasuyari. Bergabung dalam satu tim, mereka membuat inovasi pembalut wanita

yang ramah lingkungan dengan menggunakan pati singkong. "Salah satu produk yang menggunakan bahan dasar plastik adalah pembalut. Pembalut

ini merupakan sebuah produk yang permintaan di masyarakat selalu tinggi dan sifatnya terus-menerus," ungkap Ni Made Surianti di Jakarta, Senin (1/10). Dengan menggunakan pati singkong, produk pembalut yang mereka beri nama U-Torc tersebut dapat lebih cepat terurai ketimbang plastik konvensional yang berbahan minyak bumi. "Nah plastik itulah yang bahan dasarnya terbuat dari pati singkong sehingga ketika dibuang, U-Torc bisa dengan mudah terurai di tanah karena memang terbuat dari singkong,"

sambung Surianti. Pemilihan pati singkong, dijelaskannya, karena telah banyak diteliti dan sudah dikembangkan sebagai plastik oleh beberapa

perusahaan plastik di Tanah Air. "Itu memudahkan kami untuk mendapatkan

bahan baku untuk pembalut U-Torc. Selain itu, singkong merupakan komoditas pertanian yang banyak dihasilkan petani lokal," tambahnya.

Selain itu, sebagai mahasiswa jurusan pertanian, Suarianti mengatakan pemilihan bahan pati singkong menjadi wujud menunaikan kewajiban serta tanggung jawab untuk menggunakan produk komoditas lokal sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani. "Kami sebagai mahasiswi pertanian sudah seharusnya mulai mengembangkan produk yang memanfaatkan hasil pertanian sehingga dapat membantu perkembangan pertanian Indonesia," paparnya. Untuk membuat satu pembalut berukuran 23x14 sentimeter,

mereka membutuhkan dua lembar plastik pati songkong dengan ukuran sekitar 25 sentimeter.

Uji coba pasar

Kini Surianti bersama ketiga kawannya mengaku sedang mencoba menjajaki permintaan pasar akan produk U-Torc. Namun, hal tersebut baru benar-benar akan difokuskan setelah kesemuanya lulus kuliah. "Saat ini kita sudah semester akhir. Jadi memang sekarang lagi fokus tugas akhir dan setelah itu baru akan fokus pada produksi U-Torc," jelas Surianti. Saat ini timnya sudah menerima tawaran kerja sama dari sebuah toko ritel daring untuk memproduksi U-Torc dalam jumlah tertentu. Ia pun berharap ke Depannya semakin banyak penjual yang ingin memasarkan. Dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendukung penuh inovasi

yang sudah ditunjukkan para mahasiswi IPB tersebut. "Tentu hal-hal seperti ini akan kita selalu dukung dan bahkan kita bantu sosialisasikan

ke masyarakat akan adanya produk ini. Selain itu, kami berharap akan banyak pihak lain yang mau berinovasi," tutur Direktur Pengelolaan

Sampah KLHK R Sudirman di Jakarta, Senin (2/10). Namun, Sudirman mengakui pihaknya belum dapat memberikan data soal jumlah sampah dari jenis pembalut wanita dan popok balita. Itu disebabkan pihaknya sedang melakukan penelitian dan penghitungan soal berapa banyak sampah plastik yang ditimbulkan sampah jenis tersebut. "Saat ini memang masih dihitung berapa volume sampah plastik yang dihasilkan dari dua produk ini. Kita harus menghitung berapa jumlah wanita dan balita yang menggunakan

produk tersebut," jelasnya. Selain itu, dukungan lain yang akan diberikan

pemerintah kepada mahasiswi IPB yang mengeluarkan inovasi ini ialah mendorong pihak produsen supaya mau menggunakan dan menggeser produk lama ke produk yang ramah lingkungan seperti ini. "Kalau dari pihak KLHK memang hanya memiliki wewenang soal dampak lingkungannya. Tapi tetap, kita akan bantu kementerian dan lembaga terkait supaya mendorong pihak produsen menggunakan produk ramah lingkungan seperti ini," pungkas Sudirman.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More