Surga Bunga Batik Kudus

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Minggu, 01 Okt 2017, 02:01 WIB Pesona
Surga Bunga Batik Kudus

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Denny Wirawan merayakan 20 tahun perjalanan kariernya lewat koleksi terbaru Balijava. Ia masih mengangkat batik kudus, tapi kali ini dengan eksplorasi keragaman motif bunga.

FEMINITAS dalam beragam karakter, begitulah yang tampak dari koleksi terbaru Denny Wirawan. Dengan label Balijava, peragaan yang berlangsung Kamis (28/9) itu mengeksplorasi beragam motif bunga, lengkap dengan isen-isen-nya (ornamen) dan dengan beragam palet warna.

Seperti koleksi Balijava sebelumnya, Denny masih mengangkat pesona batik kudus. Namun, fokus kali ini pada motif bunga dan ragam nuansa itu menghasilkan kesan feminitas yang sangat kaya.

Salah satunya feminitas yang playful lewat palet warna cerah, seperti hijau daun, dan siluet-siluet balon. Apalagi dengan paduan motif garis di antara bunga-bunga maupun pada bagian tertentu, seperti lengan, tampilan busana makin segar. Kesan feminitas yang tegar dan kuat tampil dalam busana-busana bersiluet megah dengan palet warna gelap yang mewah.

Kepada jurnalis, sebelum peragaan di Grand Ballroom Kempenski, Hotel Indonesia, Jakarta, Denny menjelaskan koleksi bertajuk Wedari itu sekaligus refleksi kehidupan yang ia lalui dan perjalanan selama 20 tahun berkarya di industri fesyen. Keindahan dan kesejukan Wedari, atau yang berarti taman bunga, membuat Denny selalu mensyukuri nikmat yang mahakuasa.

Untuk menghadirkan pesona lengkap Wedari itulah ia mengangkat beragam motif dan isen-isen batik kudus yang belum terpublikasi. Termasuk motif-motif yang terinspirasi oleh bunga peonie, lily, hingga teratai.

Dalam proses pembuatan batik itu, Denny mengaku terlibat sejak awal. "Yang spesial pada Wedari ialah saya terlibat dari awal terhadap pemilihan dan pembuatan motif batik kudus. Bersama dengan Agam Riadi dan pembatik Kudus," ujarnya.

Peragaan busana malam itu, Denny mempresentasikan koleksi Wedari dalam empat bagian. Busana berwarna cerah hadir di dua babak pertama yang sekaligus merepresentasikan nuansa pagi.

Pada segmen tiga, Denny menampilkan batik 'Sogan' bernuansa monokrom, sedangkan pada bagian empat terinspirasi oleh karakter ningrat. Ciri khas seorang ningrat yang tampil gagah berani tapi anggun dan berkarisma hadir dalam balutan batik 'Kelengan' yang didominasi warna gelap.

"Busana malam yang mewah dengan motif flora dan fauna seperti burung merak dan kupu-kupu tampak dalam bagian terakhir ini," pungkas Denny.

Batik sebagai tuan rumah

Digelar menjelang peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh 2 pada Oktober, peragaan Denny sekaligus seperti mengingatkan kita akan kelestarian kain adati. Nyatanya Denny mengungkapkan peragaan tersebut sekaligus ingin mendorong generasi muda untuk selalu mencintai batik.

Misi ini pula yang melatari dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation (BBDF) terhadap karya Denny tersebut.

"Harapan kami semakin banyak pihak dan generasi muda yang terjun ke dunia industri kreatif, mengangkat kain Indonesia sebagai inspirasi karyanya sehingga budaya tradisional Indonesia semakin dapat dicintai dan batik akan selalu menjadi tuan rumah di negara sendiri," kata Program Director BBDF Renitasari Adrian.

Meski batik telah cukup digemari, masih banyak pula motif-motif asli yang terlupakan dan belum tergali lagi. Permasalahan serupa pula yang sebetulnya membayangi batik kudus. Batik yang memiliki keunikan pesona ini mengalami kesulitan regenerasi pembatiknya.

Hal ini mendorong BBDF untuk membangun kelompok pembatik muda dan menggagas pembinaan serta mengadakan pelatihan secara rutin sejak 2011. "Sekarang program itu terus berjalan, kami berharap ini akan terus berkembang sehingga batik Kudus kembali pada kejayaannya," tandas Renitasari. (M-3)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More