Yang Terhormat Sukrasana

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 24 Sep 2017, 01:01 WIB PIGURA
Yang Terhormat Sukrasana

SEORANG anggota DPR, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di gedung parlemen baru-baru ini, memprotes sikap komisioner lembaga antirasywah yang dinilai tidak tahu etika.

Sang wakil rakyat itu menghendaki setiap komisioner kalau bicara seharusnya diawali dengan menyebut anggota DPR ‘Yang Terhormat’. Sebelumnya, ketika menjawab pertanyaan dewan, tidak ada satu pun dari lima komisioner yang mengawali pernyataan dengan kata sanjungan yang dibanggakan anggota DPR tersebut.

Sebutan ‘Yang Terhormat’ memang seperti sudah melekat atau menjadi protokoler baku bagi siapa saja yang berbicara dengan anggota DPR dalam acara resmi. Akan tetapi, apakah sebutan itu sesungguhnya sudah benar-benar pas bila ditilik dari sepak terjang anggota dewan selama ini?

Mengabdi di Maespati

Secara naluri, setiap insan ingin dihormati. Namun, tidak semua butuh disebut ‘yang terhormat’. Itu disebabkan ia tahu diri, tahu malu, berani mengukur diri, introspeksi sehingga sebutan tersebut justru membebani.

Dalam konteks itu, ada kisah wayang yang menceritakan seorang tokoh yang selama hidupnya emoh bersinggungan dengan kebutuhan untuk dihormati. Bahkan, karena selalu sadar akan kekurangan yang ada pada dirinya, ia malah tidak ingin dilihat atau diketahui khalayak. Namun, di balik itu, ia sangat berjasa bagi bangsa dan negaranya.

Tokoh kontroversial itu bernama Sukrasana. Ia putra bungsu Resi Suwandagni-Dewi Darini di Dusun Argasekar yang masuk wilayah Negara Maespati. Sukrasana memiliki kakak kandung bernama Bambang Sumantri. Dalam kesederhanaan, keluarga itu hidup bahagia dan sejahtera.

Dari sisi fisik, meski kakak beradik, antara Sukrasana dan Sumatri jauh berbeda. Sukrasana kerdil dan berwajah setengah raksasa. Sebaliknya, Sumantri normal dan bermuka tampan. Namun, dalam hal olah kepribadian Sukrasana lebih unggul daripada sang kakak.

Sejak kecil, keduanya dididik laku prihatin oleh bapak mereka sendiri. Baik dalam hal sprititual maupun kanuragan atau olah kesaktian. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka tumbuh menjadi pemuda cerdas dan sakti. Menjadi kesatria pilih tandhing (kompetitif).
Menurut sanggit dalang, ketika merasa sudah cukup bekal, Sumantri dan Sukrasana ingin mengabdi kepada negara yang saat itu dipimpin Prabu Arjunasasrabahu. Mereka lalu meminta izin dan restu orangtua untuk maksud mulia tersebut. Jamadagni mendukungnya dengan pesan agar senantiasa menjaga diri dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesatria.

Walaupun sama-sama mengabdi, Sukrasana tidak tampil secara terbuka. Ia hanya ingin berada di belakang sang kakak. Oleh karenanya, ia meminta Sumantri agar jangan ada yang mengetahui dirinya. Apa pun nanti yang ia persembahkan hanya boleh diketahui bahwa itu perjuangan Sumantri.
Sumantri menerima permintaan adiknya. Ia memang sangat sayang kepada adiknya dan sebaliknya, ia mengerti bahwa sang adik juga begitu sayangnya pula pada dirinya. Maka, keduanya ibarat sebuah tim yang bertekad menyumbangkan jiwa raga mereka bagi negara.

Berangkatlah keduanya ke Maespati. Mereka tidak berjalan beriringan. Sukrasana yang bisa terbang dan menghilang hanya membayangi sang kakak dari kejahuan. Ia seperti mengawal Sumantri hingga sampai tujuan.

Taman Sriwedari

Setelah melewati berbagai seleksi berliku, akhirnya Sumantri mendapat kepercayaan Arjunasasrabahu. Ia diutus melamar putri kedhaton Negara Magada yang bernama Dewi Citrawati yang akan dipersunting sebagai permaisuri. Berangkatlah Sumantri menjadi duta raja.

Pada saat bersamaan, ada seribu raja yang juga melamar Citrawati. Salah satunya Prabu Darmawisesa dari Negeri Widarba. Bersama lebih dari 70 raja sekutunya, mereka didukung ribuan prajurit stand by di seluruh penjuru Istana Magada. Bila lamarannya ditampik, Darmawisesa berniat mengeksusinya lewat kekerasan.

Hal ini membuat Raja Magada Prabu Citradarma dirundung kekhawatiran. Namun, mendengar ada utusan dari Prabu Arjunasasrabahu yang juga ikut melamar, Citradarma merasa mendapat pertolongan. Ia lalu meminta sang duta Maespati menghadapnya. Poinnya lamaran akan diterima bila berhasil mengusir seribu raja yang memiliki maksud sama.

Maka Sumantri menemui raja-raja tersebut. Ia mengatakan ada sayembara dari raja bahwa barang siapa yang bisa mengalahkannya, lamarannya diterima. Terjadilah adu kesaktian. Di sinilah peran Sukrasana hadir tanpa bisa ditahui keberadaannya. Satu per satu dari seribu raja takluk.
Dalam perjalanan memboyong Citrawati ke Maespati, muncul niat Sumantri menguji kesaktian Arjunasasrabahu. Sukrasana mengingatkan sekaligus menasihatinya agar mengurungankannya karena itu tidak baik. Namun, Sumantri tidak menggubrisnya hingga akhirnya ia hampir tewas di tangan Arjunasasrabahu yang bertiwikrama.

Sumantri kemudian mendapat tugas berat lagi dari sang raja, yakni memindahkan Taman Sriwedari dari Kahyangan ke Maespati. Ini merupakan permintaan sang permaisuri. Sumantri merasa tidak mampu. Lagi-lagi adiknya datang membantu. Sukrasana ‘mendatangkan’ Taman Sriwedari ke Istana Maespati hanya dalam waktu kurang dari satu malam.

Semua peran Sukrasana tidak diketahui siapa pun, bahkan oleh Arjunasasrabahu yang merupakan titisan Bathara Wisnu. Itulah yang memang ia kehendaki. Ia sejujurnya menghibahkan semua pengabdiannya untuk nama baik sang kakak. Tragisnya, Sukrasana sirna di tangan Sumantri. Itu gara-gara keberadaannya diketahui Citrawati saat menikmati Sriwedari. Ia dikira hantu yang akan mengganggu.

Secara otomatis

Hikmah dari kisah itu ialah pengabdian dalam bisu. Sukrasana berjasa kepada negara tapi ia tidak ingin diketahui. Ia tidak bermimpi ada jabatan atau kedudukan dan kehormatan baginya.

Sikap Sukrasana tersebut paradoks dengan anggota dewan yang ingin semua pihak yang berurusan dengan dewan harus menghormati mereka dengan menyebut ‘Yang Terhormat’.

Idealnya, penghormatan itu tidak boleh dipaksakan atau dibakukan dalam urusan protokoler. Penghormatan itu muncul secara alamiah karena memang pantas dihormati. Maka, dalam hal ini, Sukrasana sesungguhnya sosok yang pantas mendapat sebutan ‘Yang Terhormat’. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More