Ngalah Dhuwur Wekasane

Penulis: Ono Sarwono Pada: Minggu, 17 Sep 2017, 13:30 WIB PIGURA
Ngalah Dhuwur Wekasane

BERULANG kali Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyatakan kegeramannya terhadap para pelaku yang tiada hentinya memfitnah atau menghina Presiden Joko Widodo. Pekan lalu (10/9), ia menyampaikannya lagi ketika memberikan sambutan peresmian gedung Sekretariat DPC PDIP di Kepanjeng, Malang, Jawa Timur.

Dalam konteks sebagai orangtua, Megawati bak seorang ibu yang sepenuh hati melindungi anaknya dari segala cercaan. Ia tidak rela anaknya terus-menerus menjadi sasaran dan target hujatan para pecundang.

Sikap Megawati tersebut, dalam kisah wayang, seperti yang dinubuatkan Kunti Talibrata kepada Pandawa. Namun, kelebihannya Kunti membela putranya dari kekejaman Kurawa dengan membekali ajaran mulia.

Berkat model pembelaan sang ibu yang demikian, Pandawa tidak rusak karena fitnah, tetapi malah menjadi insan-insan berkepribadian luhur. Menjadi kesatria pilih tandhing (kompetitif) sekaligus role model titah kekasih dewa di marcapada.

Dihujani fitnah
Alkisah, sejak berpulangnya Raja Astina, Pandu Dewanata, para putranya yang dikenal sebagai keluarga Pandawa, terus-menerus menjadi bulan-bulanan Kurawa, kakak sepupu mereka sendiri. Motivasi Kurawa--putra-putri Drestarastra--menghantam adiknya itu semata-mata soal kekuasaan.

Dimentori sang paman, Sengkuni, Kurawa menjadikan Pandawa sebagai musuh yang mesti dibasmi. Ini karena Pandawa merupakan ahli waris takhta. Berdasarkan paugeran, merekalah yang berhak memegang kendali kepemimpinan Astina pacsameninggalnya Pandu.

Upaya Kurawa menggayang saudaranya dengan berbagai cara. Di antaranya menyebar fitnah ke seluruh penjuru negeri. Misalnya, mengecap asal-usul Pandawa tidak jelas. Pandawa dikatakan keturunan bangsa lain, bukan anak Pandu. Maka, mereka secara konstitusional tidak berhak menjadi pemimpin Astina.

Contoh fitnah atau penghinaan lain adalah yang menjurus ke pembunuhan karakter. Puntadewa, sebagai sulung Pandawa, dikatakan sebagai lelaki tidak kredibel dan kapabel. Diolok-olok berbadan kurus, tidak punya energi, klemar-klemer (lambat atau lelet), dan tidak tegas.

Werkudara, anak kedua, digambarkan sebagai gedhe gombong (besar tapi rapuh). Dikatai sebagai kaum Sudra yang tidak memiliki sopan-santun dan bodoh, kepada siapa pun ngoko (bicara pada tingkatan paling rendah dalam bahasa Jawa). Sikap dan perilakunya pun dikatakan kaku dan grusa-grusu, tanpa perhitungan.

Kemudian Arjuna, anak ketiga, difitnah sebagai banci yang tidak tahu malu. Kelakiannya diragukan karena suka bersolek. Ia dituduh pula suka klenik karena kerap menyambangi dukun-dukun di dusun dan kampung serta gemar keluyuran ke tempat-tempat sepi nan angker.

Nakula dan Sadewa, kembar yang lahir dari rahim Dewi Madrim--istri kedua Pandu--dikatakan sebagai anak yatim piatu dungu. Keduanya disumpahi sebagai anak ‘kemarin sore’ yang bisanya hanya merengek.

Begitulah fitnah, penghinaan, atau ujaran kebencian yang dihujankan terhadap Pandawa. Tujuannya supaya rakyat Astina membenci Pandawa. Sebaliknya, Kurawa mengharum-harumkan diri dan menyatakan yang paling berhak dan mampu melanjutkan kepemimpinan negara.

Membangun karakter
Menanggapi gempuran racun itu, Kunti tampil membela anak-anaknya. Tapi pembelaannya bukan balik mengumbar sumpah serapah ke Kurawa. Kunti memilih mengaliskan anak-anaknya dari tukar-menukar fitnah. Siang-malam ia dengan sabar mendidik anak-anaknya untuk tetap berperilaku utama meski terus dihardik dengan ujaran kebencian.

Werkudara ialah satu-satunya anaknya yang semula mempertanyakan sikap ibunya yang dianggap takut atau kalah. Ia ingin Kurawa dihadapi saja secara ‘adat’. Bahkan, Werkudara menyatakan sanggup sendirian membungkam Kurawa yang terdiri atas seratus orang.

Tapi, dengan kasih sayang dan kelembutan, Kunti meyakinkan kepada anak-anaknya bahwa laku yang ia pilih itu yang terbaik. Petuahnya, menyirna kan kezaliman bukan dengan kezaliman. Suradirajayaningrat lebur dening pangastusti, keangkaramurkaan dapat dihancurkan dengan kebajikan. Santiaji inilah yang dilantunkannya ke setiap lubuk sanubari kelima putranya.

Maka, ketika pada akhirnya taktha Astina benar-benar dikudeta Kurawa, Kunti mencegah anak-anaknya untuk merebutnya kembali. Menurutnya, itu tidak elok, memalukan. Bagaimanapun, Pandawa dan Kurawa adalah saudara, sama-sama keturunan Prabu Kresna Dwipayana alias Abiyasa.

Kunti senantiasa membimbing anak-anaknya untuk mengalah. Konsekuensinya, mereka keluar dari istana dan hidup ngulandara (terlunta-lunta) dari hutan ke hutan. Tapi, atas ajaran Kunti, keprihatinan itu bukan menjadi kepahitan hidup melainkan justru menjadi medan menggeladi diri membangun karakter.

Dalam menjalani lakunya itu, Pandawa kerap memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang dilanda kesusahan, atau bahkan yang teracam jiwanya. Misalnya, dalam lakon Bima Bumbu, Werkudara mampu membebaskan Demang Ijrapa dan keluarganya dari cengkeraman raja kanibal Prabu Baka.

Juga dalam lakon Wiratha Parwa. Pandawa menggagalkan kudeta yang berupaya mendongkel kekuasaan Prabu Matswapati. Pandawa berhasil menumpas gembongnya, yaitu Rupakenca, Kencakarupa, dan Rajamala.

Masih banyak darma Pandawa lainnya bagi kemaslahatan sesama. Selama melakoni keprihatinannya itulah Pandawa teruji dan terasah sehingga menjadi kesatria-kesatria pinunjul (hebat).

Keadilan terwujud
Demikianlah Kunti, sang ibu berhati kumala yang tidak pernah lelah nggulawentah (mendidik) putra-putranya menjadi insan-insan berbudi luhur. Ia emoh pribadi anak-anaknya terjerembap sederajat dengan pemfitnah. Inilah poin Kunti membela putranya.

Soal urusan duniawi, Kunti percaya kepada keadilan dan kuasa Syanghyang Manon. Seburuk apa pun yang terjadi, itu tidak harus menjadi penghalang Pandawa untuk senantiasa ngudi (mengejar atau berusaha keras) titel sejati sebagai kesatria utama.

Hikmah kisah itu ialah Kunti menghindari sampah dikanter dengan sampah. Tapi fitnah dibantah dengan bukti bahwa Pandawa mampu menunjukkan diri, bukan sebagaimana seperti yang dituduhkan.

Konsep Kunti membela anaknya yang seperti itulah dalam perspektif kearifan lokal kita merupakan makna sejati ungkapan peribahasa Ngalah dhuwur wekasane. Tidak meladeni kesesatan, tapi terus berusaha di jalan yang benar hingga akhirnya keadilan terwujud.* (M-4)

sarwono@mediaindonesia.com

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Perlukah pelaku penyebaran hoaks diberi hukuman berat?





Berita Populer

Read More