Mencegah Penebangan Dini

Penulis: Fario Untung Pada: Sabtu, 16 Sep 2017, 10:14 WIB Humaniora
Mencegah Penebangan Dini

Warga dan petugas berjalan di Hutan Desa Manjau seluas 1.070 hektare di Laman Satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat---MI/Aries Munandar

KEBUTUHAN hidup yang kian mendesak hampir saja membuat Laode Bara Gunu menebang pohon-pohon jati miliknya. Meski sebenarnya belum umur masak pohon, jati di lahan seluas 1,4 hektare itu akan dijual kepada tengkulak.

Beruntung niat Laode urung terlaksana. Dengan Program Pinjaman Tunda Tebang Tanaman Kehutanan dari Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pria warga Desa Laiba, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, itu bisa memperoleh uang tanpa menebang pohon.

"Di lahan 1,4 hektare itu saya punya 500 pohon dan saya dapat pinjaman kredit Rp100 juta," kata Laode kepada Media Indonesia, Jumat (8/9). Total lahan yang dimiliki Laode mencapai 12 hektare. Meski luas, tetap saja ia kesulitan memenuhi kebutuhan hidup dan kerap terpancing untuk menjual pohon secepatnya.

Di sisi lain, walau jati memang bisa dijual sebelum umur masak pohon, penebangan dini tidak hanya menghasilkan harga rendah tetapi juga kurang baik bagi lingkungan. Soal terakhir ini pula yang sekarang semakin disadari Laode berkat adanya program tunda tebang.

"Jadi tujuannya mungkin agar kita yang yang memiliki lahan pohon jati tidak asal menebang pohon sebelum tiba masa panen sehingga kualitas hutan tetap terjaga," tutur Laode.

Namun, untuk masuk dijaminkan dalam program tunda tebang pohon harus memiliki diameter 45 cm. Jika diameter kurang dari itu, hanya bisa masuk program refinancing dengan nilai Rp20 ribu per batang pohon. Nilai ini diambil dari kisaran penggantian biaya tanam.

Dari jumlah pohonnya, Laode berhasil mendapatkan pinjaman kredit sebesar Rp100 juta. Pinjaman ini memiliki jangka delapan tahun dengan bunga 7,5% setiap tahunnya. "Kalau dihitung-hitung, satu pohon itu dihargai sekitar Rp200 ribu sampai dengan Rp250 ribu. Tergantung ukurannya saja yang nanti akan disurvei dan dihitung pihak BLU," jelasnya.

Dengan uang pinjaman itu, Laode tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membuat usaha baru. Ia berencana membuat area pemeliharaan sapi dengan luas 6 hektare.

"Setelah kami pelihara sapi itu, nantinya kotoran yang dihasilkan akan saya gunakan kembali menjadi pupuk kompos untuk kebutuhan lahan dan kebun saya lainnya. Jadi semua berguna untuk satu sama lainnya," terangnya.

Potensi hutan
Kepala Pengembangan Bisnis Multistakeholder Forestry Programme, BLU Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan, Widya Wicaksana menjelaskan program pinjaman tunda tebang ini tak lain untuk menunda penebangan tanaman kehutanan sampai tercapainya umur masak tebang. Selain itu, program ini bertujuan mempertahankan dan meningkatkan potensi hutan.

"Tentunya dapat diperoleh manfaat hutan secara optimal dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Sebab yang menjadi pengelola hutan adalah masyarakat sekitar hutan yang akan secara ototmatis akan memajukan perekonomiannya serta menjaga ekosistem hutan itu sendiri," tutur Widya.

Menurutnya, prinsip pendanaan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan ekonomi rakyat. Lebih jauh, pinjaman itu diharapkan dapat mengurangi kemiskinan, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan produktivitas hutan dan memperbaiki mutu lingkungan melalui kegiatan rebilitasi hutan dan lahan (RHL) dengan persyaratan yang terjangkau dan prinsip kehati-hatian.

"Program tunda tebang ini kami harapkan dapat membantu masyarakat di sekitar wilayah hutan untuk mendapatkan pinjaman bunga yang terjangkau dengan hanya menjaminkan pohonnya kepada kami. Lalu dari pinjaman yang didapat, diharapkan dapat dialihkan ke sektor yang juga produktif, bukan untuk konsumtif," sambung Widya.

Untuk memudahkan kontrol dan pengelolaan pinjaman, penerima pinjaman diatur dalam sebuah kelompok tani. Namun, pinjaman individu tetap terbuka diberikan dengan syarat hanya untuk lahan maksimal seluas 2 hektare. Sementara itu, jenis tanaman yang umumnya diajukan pada program tunda tebang adalah sengon, jati, dan jabon.

"Tentunya dengan program seperti ini kami harap masyarakat yang memiliki lahan bisa lebih produktif dalam mengelola lahannya dan jangan asal tebang. Jadi bila ada lahan baru, bisa langsung segera ditanam pohon yang baru sehingga tujuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dapat terlaksana," jelas Widya.

Di banyak daerah, program yang dijalankan sejak 2014 ini telah banyak menyelamatkan petani dari tengkulak. Hal itu juga dirasakan benar oleh Laode. Ketika belum mendapatkan pinjaman dari program tunda tebang ini, ia selalu kerap menggadaikan lahannya itu kepada tengkulak karena memang sudah tidak ada jalan lagi untuk mendapatkan sejumlah uang yang dibutuhkan.

"Dulu sebelum 2014 itu, ya, kalau butuh uang pasti ke tengkulak. Jika sudah berurusan dengan tengkulak, satu pohon itu dihargainya sangat rendah, paling di bawah Rp100 ribu dan bunga yang diberikan sangat tinggi, bisa mencapai 20%," pungkas Laode. (Rio/M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More