Literasi Media itu Penting

Penulis: Rayna Lois Euunike Mahasiswi Jurnalistik Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta Pada: Rabu, 13 Sep 2017, 11:00 WIB Surat Pembaca
Literasi Media itu Penting

MUNCULNYA berita hoaks menjadi salah satu pemicu fenomena putusnya pertemanan, gesekan, bahkan sampai permusuhan. Hal itu sering kali dialami beberapa bahkan sebagian besar masyarakat sebagai konsumen informasi. Bahkan, UNESCO menyaran­kan untuk menghadapai hoaks perlu adanya literasi media, yaitu kemampuan menganalisis dan memfilter apakah informasi sebuah berita fakta atau bohong. Namun, pada kenyataannya masyarakat lebih memercayai media sosial ketimbang media mainstream atau media arus utama sepeti koran, radio, majalah, dan televisi.

Menurut data yang saya temukan, lebih dari 43 ribu media tersebar di seluruh Indonesia, tetapi hanya kurang dari 5.000 media dan situs daring online yang tercatat resmi dan memiliki keakuratan informasi yang diakui. Kebenaran penyebaran informasi atau berita di media sosial perlu dipertanyakan sebab banyak dari berita tersebut hanya berisi pendapat dari orang yang membuatnya dengan maksud dan tujuan tertentu, bahkan dengan tujuan perpecahan.

Menurut mekanisme penyebaran berita yang baik dan benar, sampainya berita pada konsumen harus melewati beberapa tahap dan penyaringan yang ketat. Dalam media arus utama, redaktur dan editor merupakan gatekeeper sebelum berita sampai pada pembaca. Namun, pentingnya literasi media sejak dini dalam diri masyarakat merupakan gatekeeper lapisan utama dan terpenting saat pembaca menerima berita dari pelbagai media.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menghentikan penyebaran berita hoaks di media sosial, bahkan media arus utama. Wacana untuk menerapkan pembelajaran mengenai li­terasi media sejak usia sekolah dasar dipandang sebagai upaya yang kelak akan menjadi solusi penyebaran hoaks yang merugikan.

Pada media mainstream ada yang disebut kode etik jurnalistik, yaitu di dalamnya ada poin bahwa saat wartawan mencari berita harus melakukan check and recheck. Harus ada konsep berimbang dalam berita tersebut sehingga suatu media tidak terlihat berpihak pada satu orang atau lembaga tertentu.

Peran pemerintah dalam mengatasi berita hoaks sangat penting, begitu pula media serta dewan pers yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam hal tersebut. Perlu ditegaskan kembali, literasi media dalam masyarakat menjadi benteng terbaik dalam menghadapi maraknya penyebaran berita hoaks.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More