Utamakan Pendidikan Anak

Penulis: Fario Untung Pada: Jumat, 25 Agu 2017, 23:01 WIB KICK ANDY
Utamakan Pendidikan Anak

MI/SUMARYANTO BRONTO

TIDAK ada imbalan yang sepadan untuk membayar jasa seorang ibu. Pengorbanannya tak akan pernah berhenti sepanjang hayat di kandung badan. Dukungan dan doa selalu ia berikan kepada buah hatinya. Itu yang dilakukan Yuniati, ibu dua anak bernama Satya Candra Wibawa Sakti dan Oktaviana Ratna Cahayani. Yuniati dan suaminya, Febdi Nuryanto, asal Yogyakarta merantau ke Palembang dan Riau atas ajakan keluarga. Yuniati bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) dan Febdi menjadi buruh di kebun. Satya dan Oktaviana disekolahkan pakde mereka.

Hingga SD Satya dan keluarganya kembali ke Yogyakarta. Pada 1995, Yuniati memulai pekerjaan sebagai buruh cuci pakaian karena suaminya berhenti kerja akibat sakit. Dari penghasilan inilah, Yuniati menyekolahkan kedua buah hatinya. Kondisi ekonomi yang sangat terbatas kerap membuat dirinya terpaksa berutang untuk membayar biaya pendidikan kedua anaknya serta kehidupan sehari-hari keluarga. Profesi sebagai buruh cuci seakan tidak dapat memberikan pilihan lain baginya untuk berutang kepada rentenir kala itu.

Sarjana
Semua ini dirinya lakukan semata hanya untuk memberikan bekal berupa pendidikan yang tinggi bagi anak-anaknya supaya kelak kedua buah hatinya itu tidak menjalani kehidupan seperti orangtuanya. Segala perjuangan yang sudah ia lakukan selama belasan tahun pun akhirnya berbuah manis. Satya Candra Wibawa Sakti pun bisa menempuh pendidikan S-1 Jurusan Kimia di Universitas Negeri Yogyakarta, lalu melanjutkan pendidikan S-2 dengan jurusan yang sama di salah satu universitas ternama Indonesia, yakni Universitas Gadjah Mada, pada 2008.

Tak tanggung-tanggung, Satya pun berhasil melanjutkan pendidikan S-3 di Universitas Hokkaido, Jepang. Segala prestasi yang dimiliki Satya selalu membawa dirinya untuk mendapatkan beasiswa. Meski seperti itu, Sayta mengaku tak gampang untuk bisa menempuh pendidikan setinggi itu dengan latar belakang ekonomi keluarga yang jauh dari kata mencukupi dan serbakekurangan. Setelah lulus SMA, Satya mengaku ingin langsung bekerja demi membantu keuangan keluarga. Namun, sang ibu meyakinkan dirinya untuk selalu optimistis demi meraih pendidikan setinggi mungkin.

Setelah mendapatkan gelar doktor, Satya pun langsung kembali ke Indonesia. Berbekal segala pengetahuan dan ilmu yang sudah ia dapatkan, Satya langsung menjadi dosen kimia organik pada Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Tentunya semua itu berkat dukungan dan doa dari ibunya untuk bisa meraih pendidikan yang sangat tinggi. (M-4)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More