Nisa, antara Silat dan Panahan

Penulis: Administrator Pada: Senin, 21 Agu 2017, 03:30 WIB Olahraga
Nisa, antara Silat dan Panahan

MI/NURUL FADILLAH

PEMANAH putri Diananda Choirunisa tak menyangka bisa menyumbang medali emas bagi Indonesia di ajang SEA Games Kuala Lumpur 2017.

Emas yang diraihnya di nomor recurve perseorangan putri bukanlah emas pertamanya di multiajang olahraga terbesar se-Asia Tenggara itu.

Wanita yang karib disapa Nisa itu juga pernah mendapatkannya ketika bertanding di nomor beregu putri SEA Games 2013 Myanmar.

Emas kali ini pun menjadi lebih berarti bagi Nisa karena mendapatkannya atas jerih payah sendiri di pertandingan.

Nisa meraih emas setelah mengalahkan pemanah Filipina, Nicole Marie, dengan skor 6-4 pada laga final di Lapangan Panahan Majelis Sukan Negara Bukit Jalil, Kuala Lumpur kemarin.

"Saya tidak menyangka bisa meraih emas karena semula saya memang tidak menargetkan dapat emas di nomor per-seorangan. Target emas yakni di beregu putri yang akan tanding besok (hari ini). Kuncinya tadi saya hanya yakin saja, enggak memikirkan apa-apa," ujar Nisa.

Prestasi Nisa kali ini tak terlepas dari peran serta kedua orangtuanya yang merupakan atlet. Ayah Nisa, Zainuddin, merupakan mantan atlet pencak silat asal Jawa Timur (Jatim) yang pernah meraih perak di SEA Games 1995.

Sang ibu, Ratih Widyanti, merupakan mantan srikandi panahan asal Jatim.

Sebagai anak mantan atlet yang menguasai cabang olahraga berbeda, Nisa sempat bingung memilih jenjang karier.

Prestasi yang kurang menonjol di pendidikan membuat Nisa memilih karier di olahraga.

Alhasil, Nisa pun berada di antara dua pilihan, antara pencak silat dan panahan.

"Saya waktu itu sempat bertanya kepada mereka, kalau ikut pencak silat dan panahan risikonya seperti apa dan medalinya bagaimana. Akhirnya ibu menjelaskan, kalau panahan itu risikonya cuma satu, kulit saya bisa hitam, sedangkan pencak silat saya bisa patah tulang."

"Tapi yang lebih meyakinkan saya ialah persoalan medali. Ibu bilang kalau pencak silat itu medalinya cuma satu, panahan banyak, jadi saya memilih panahan," pungkasnya. (Nurul Fadillah/R-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More