Kuliner Indonesia Pukau Masyarakat Ekuador

Penulis: RO/M-4 Pada: Minggu, 13 Agu 2017, 05:46 WIB Kuliner
Kuliner Indonesia Pukau Masyarakat Ekuador

DOK KEDUTAAN BESAR RI UNTUK EKUADOR.

SELAMA sepekan berlangsung di Restoran Portofino Hotel Hilton Colon Guayaquil, berbagai pilihan kuliner terbaik Indonesia berhasil memukau masyarakat Ekuador. Acara pada 1-6 Agustus yang dibuka Wakil Menteri Pariwisata Ekuador Carlos Larrea dan Duta Besar RI untuk Ekuador Diennaryati Tjokrosuprihatono itu menghidangkan rendang, nasi goreng, dan berbagai makanan pembuka hingga penutup khas Tanah Air.

Khusus untuk pergelaran kuliner dan budaya Indonesia bertajuk Wonderful Indonesia Week 2017, Indonesia mendatangkan tim khusus dari Indonesia Satu Foundation di Amsterdam dengan dukungan juru masak Wisma Duta RI di Quito.

Dengan membayar US$45 per orang, ratusan pengunjung bisa mencicipi masakan Indonesia. Gohu Ternate yang mirip salah satu makanan khas Ekuador pun laris manis diserbu pengunjung. Selain itu, ada rendang, satai ayam, satai maranggi, satai lilit, sayur lodeh, urap, gado-gado hingga asinan, dan rujak buah. Begitu pun dengan nagasari, lemper, kue sus, hingga bir pletok.

Diennaryati Tjokrosuprihatono menyampaikan promosi kuliner dan budaya ini merupakan bagian dari upaya terus menerus yang dilakukan KBRI Quito untuk menarik sebanyak mungkin wisatawan dan pebisnis Ekuador untuk berkunjung dan melakukan kontak bisnis dengan Indonesia.

"Ke depan kita harapkan kedekatan rasa ini akan terus bertumbuh dan semakin mendekatkan kedua bangsa dan lebih memberikan manfaat nyata bagi Indonesia. Kita harapkan melalui program ini setidaknya Hotel Hilton Colon bisa menjadikan masakan Indonesia menjadi salah satu unggulan dalam menu yang disajikan disini," ujarnya.

Menurut Chef Eduard Rosadi dari Indonesia Satu Foundation yang aktif mempromosikan kuliner Indonesia ke berbagai negara, pihak Hilton Guayaquil menunjukkan minat yang besar untuk memperlajari resep masakan Indonesia seperti nasi goreng.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More