Ananda Sukarlan - Perundung Adalah Pengecut

Penulis: Retno Hemawati Pada: Selasa, 18 Jul 2017, 10:35 WIB Hiburan
Ananda Sukarlan - Perundung Adalah Pengecut

Ananda Sukarlan -- Dok. MI/Atet Dwi Pramadia

PIANIS Ananda Sukarlan, 49, semakin gencar berkampanye antiperundungan (anti-bullying) untuk para penderita autisme. Dia juga berpendapat praktik perundungan yang semakin marak di sekolah penyebabnya ialah tidak adanya toleransi. “Jadi, sebenarnya kita semakin dididik untuk tidak menghargai perbedaan. Saya juga merasa ada masalah keharmonisan dalam rumah tangga sehingga membuat orang merasa perlu merundung orang lain,” kata Ananda kepada Media Indonesia, kemarin.

Ada hal tidak kalah penting yang ingin ia sampaikan terkait dengan perundungan. Menurutnya, korban perundungan juga harus memahami dan mengerti hal itu bukanlah masalah korban, melainkan justru pelaku. Anak-anak yang lahir dengan kebutuhan khusus seperti autisme dan yang lainnya tidak bersalah dengan adanya perbedaan itu. “Justru perundunglah yang sebenarnya tidak merasa aman dan tidak nyaman dengan diri mereka sendiri,” kata lulusan SMA Kolese Kanisius Jakarta itu.

Ia menambahkan kebanyakan orang yang melakukan perundungan selalu tidak bisa menghargai perbedaan. Mereka juga melakukan secara berkelompok mencari teman supaya bisa beramai-ramai melakukan perundungan. “Maka saya katakan perundung itu sebenarnya pengecut. Mengapa demikian? Perundung menurut saya bukan berarti penjahat. Dia pasti ada masalah krisis identitas. Dia juga butuh pengakuan bahwa dia ada di pihak yang menang,” kata ayah satu anak itu.

Dia juga ingin para korban perundungan bisa memaafkan para pelaku, kecuali kalau ada yang cedera, luka, dan meninggal, itu bisa diproses secara hukum. “Ini juga masalah pendidikan. Si perundung sebaiknya juga diberi tahu, diberi pemahaman setiap orang lahir berbeda. Tidak semua orang dilahirkan sama, bahkan kekurangan dan kelebihannya berbeda jauh.”

Orang autis, lanjut dia, juga bukan berarti orang yang sangat kurang. “Mereka bisa melakukan banyak hal yang orang normal tidak bisa lakukan, sekaligus tidak bisa melakukan lain hal juga yang orang normal bisa lakukan,” kata pianis Indonesia yang menetap di Spanyol itu.

Kampanye
Dia ingin dengan semakin giat berkampanye orangtua lebih sensitif anak mereka dirundung atau tidak. Dia mencoba memberikan gambaran. Biasanya kalau anak dirundung di sekolah, di rumah dia akan diam dan tidak berkata apa-apa terkait dengan sekolahnya.

“Tapi bisa diberi pengarahan jika anaknya autis atau dalam spektrum autis, seperti Bill Gates, atau saya pianis dengan sindrom asperger. Tidak semua orang yang normal dalam tanda kutip harus menang dan sukses. Itu keadilan Tuhan. Jika Tuhan mengambil sesuatu dari kita, Dia akan memberikan sesuatu untuk kita,” katanya bijak.

Sayangnya, sebagian orangtua di Indonesia bahkan tidak mau mengakui anak mereka autis. Buat mereka itu seperti stigma, malu punya anak autis. “Mari kita beri contoh komponis Wolfgang Amadeus Mozart, pesepak bola Lionel Messi dan banyak orang dengan sindrom tertentu jadi sukses, mungkin ada masalah antisosial, pasti ada masalahnya, tapi mana ada sih orang enggak ada masalah?” tutupnya dengan pertanyaan. (H-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More