Dari Rahmat Rahmaniyyah ke Rahmat Rahimiyyah

Penulis: Prof Dr KH Nasaruddin Umar Pada: Rabu, 07 Jun 2017, 05:57 WIB Renungan Ramadan
Dari Rahmat Rahmaniyyah ke Rahmat Rahimiyyah

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof Dr KH Nasaruddin Umar. -- Grafis/Seno

TANTANGAN kita ke depan bagaimana meningkatkan rahmat rahmaniyyah menjadi rahmat rahimiyyah. Rahmat rahmaniyyah ialah rahmat semesta alam yang diberikan Allah SWT kepada siapa pun tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, golongan, keyakinan, agama, dan mazhab. Termasuk juga di dalamnya binatang, tumbuh-tumbuhan, jin, dan malaikat.

Contoh rahmat rahmaniyyah ialah rahmat kehidupan, menggunakan pancaindra, dan mengakses kekayaan alam, menikmati cahaya matahari, dan sinar bulan.

Rahmat rahmaniyyah dan rahmat rahimiyyah diambil dari penjelasan dan penggunaan kata al-rahman dan al-rahim yang termasuk di dalam al-Asma’ al-Husna’.

Rahmat rahmaniyyah ini ditegaskan Allah SWT dalam ayat: Rahmati wasi’at kulla syai’in (Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu/QS al-A’raf/7:156).

Rahmat rahmaniyyah dapat diakses siapa pun. Yang berusaha untuk mendapatkannya akan dipenuhi-Nya sungguhpun orang itu kufur dan pendosa. Yang penting mereka sudah memenuhi persyaratan universal.

Itulah sebabnya banyak kita jumpai orang-orang selayaknya mendapatkan azab, tetapi mendapatkan rezeki.
Sementara itu, rahmat rahimiy­yah ialah rahmat yang secara khusus diperuntukkan hamba-hamba pilihan Allah SWT, yaitu orang-orang yang beriman sepenuh hati dan melaksanakan amal saleh dengan ikhlas.

Mereka ini akan mendapatkan rahmat yang tidak akan diberikan kepada orang-orang awam, apalagi orang kafir. Hanya mereka yang sampai pada tingkat atau maqam sosial dan spiritual yang lebih tinggi yang mendapatkannya.

Allah SWT tentu tidak menyamakan ­orang yang telah menempuh perjuangan panjang dan mahasulit dengan mereka yang tidak melakukan usaha apa pun. Soal berapa lama hamba-Nya akan berada di dalam rahmat rahmaniyyah baru hijrah ke rahmat rahimiyyah, hanya Allah SWT Yang Mahatahu.

Perbedaan antara rahmat rahmaniyyah dan rahmat rahimiyyah, yang pertama itu bersifat temporer, tidak holistis, dan hanya berlaku di dalam kehidupan dunia.

Sebaliknya, rahmat rahimiyyah lebih lama dan eternal, bahkan berlangsung dan berlanjut sampai di hari akhirat kelak. Misalnya, ada orang yang dikaruniai istri atau suami dan anak keturunan. Jika hanya bahagia dalam jangka waktu tertentu kemudian belakangan merepotkan dan menyiksa, itu contoh rahmat rahmaniyyah.

Sikap orang-orang yang mendapatkan rahmat rahmani berusaha menghindari dosa karena takut siksa neraka. Ia membayangkan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Mahaadil, yang akan menempatkan sang hamba sesuai dengan amalnya.

Jika dosanya lebih besar, ia dimasukkan ke neraka. Sebaliknya, jika amal kebajikannya lebih besar, ia akan ditempatkan di surga. Mereka selalu cemas karena khawatir dosa mereka lebih berat ketimbang amal mereka dan selalu membayangkan ancaman siksa neraka.

Orang-orang yang mendapatkan rahmat rahimiyyah berusaha menghindari dosa karena takut tersiksa dengan rasa malu kepada Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Mereka lebih takut disiksa rasa malu kepada Allah SWT ketimbang dibakar di dalam neraka.

Orang-orang yang tobat lalu menjauhi dosa karena takut siksa neraka biasa disebut inabah, sedangkan orang yang tobat lalu menjauhi dosa karena takut siksa dengan rasa malu kepada Tuhan biasa disebut istijabah.

Orang yang istijabah lebih tersiksa rasa malu kepada Tuhannya ketimbang panasnya api neraka.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Senin, 24 Sep 2018 / Ramadan 1439 H
Wilayah Jakarta Barat
Imsyak : WIB
Subuh : WIB
Terbit : WIB
Dhuha : WIB
Dzuhur : WIB
Ashar : WIB
Maghrib : WIB
Isya : WIB

PERNIK

Read More