Kendalikan Penggunaan Sedotan Plastik

Penulis: Micom Pada: Kamis, 25 Mei 2017, 11:22 WIB Humaniora
Kendalikan Penggunaan Sedotan Plastik

INDUSTRI makanan siap saji diminta mengendalikan penggunaan sedotan plastik bagi konsumen. Karena, sedotan plastik kebanyakan berakhir sebagai sampah di dasar laut yang mengancam keberlangsungan biota laut. Jika dibiarkan, gejala itu pada akhirnya mengancam pula kehidupan umat manusia.

Desakan itu digaungkan oleh pendiri Divers Clean Action (DCA) Swietenia Puspa Lestari, Rabu (24/5), terkait dengan semakin meningkatnya volume sampah plastik yang berasal dari industri makanan siap saji.

Swietenia bersama para aktivis kegiatan selam DCA, sebuah lembaga swadaya masyarakat beranggotakan sekitar 500 relawan di kawasan Jabodetabek dan Bandung, secara berkala mengorganisir kegiatan bersih laut. Dari kegiatan tersebut, DCA menemukan bahwa sedotan plastik merupakan salah satu dari sekian banyak sampah laut yang paling banyak ditemukan.

"Dalam setiap kegiatan bersih laut, kami selalu menemukan sampah sedotan plastik di dalam laut dalam jumlah yang semakin lama semakin signifikan," papar Swietenia.

Sedotan plastik yang ditemukan di dasar laut itu berasal dari darat, salah satunya gerai-gerai makanan siap saji.

Menurut data Divers Clean Action, pemakaian sedotan plastikndi Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan, dan sumber lainnya.

"Yang memprihatinkan, sedotan plastik itu sudah ada yang berakhir di hidung penyu," ungkap Swietenia menyebut contoh dari dampak jahat penggunaan sedotan plastik yang pernah ditemukan dalam sebuah aktivitas bersih laut.

Jika gejala itu terus dibiarkan, maka kehidupan biota laut akan berada dalam bahaya. Bahaya itu pada gilirannya, kata Swietenia, akan membesar dan akhirnya akan menimpa pula manusia yang hidup di daratan.

Untuk mengerem laju sampah sedotan plastik itulah, DCA mengetuk kepedulian industri makanan siap saji dengan menggelar kampanye #Nostrawmovement.

Merespons kegiatan tersebut, Marketing Manager PT Fast Food Indonesia (FFI) Adi Sunandar menyatakan PT FFI mendukung sepenuhnya visi dan program DCA dalam kampanye #Nostrawmovement. Sebagai pemegang franchise Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia, PT FFI menyadari, industri makanan siap saji belum sepenuhnya bisa bebas dari penggunaan sedotan plastik.

Karena itu, KFC ingin menunjukkan tanggung jawab sosial untuk memeperbaiki keadaan.

Menurut Adi, penggunaan sedotan plastik di 500 gerai KFC mencapai 400.000 batang per hari atau 146 juta per tahun. Menyadari dampak lingkungan yang dapat timbul, KFC pun mulai mengedukasi konsumen untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik.

"Caranya, kami mengajak konsumen untuk menolak sedotan plastik saat memesan minum di KFC dan di mana pun," kata Adi.

Selain itu, untuk megganti sedotan plastik, KFC tengah merancang gelas agar kelak di gerai-gerai KFC konsumen dapat memesan minuman tanpa menggunakan sedotan plastik.

Sebelumnya, General Manager Marketing PT Fast Food Indonesia Hendra Yuniarto, menjelaskan, sebagai bagian dari gerakan #Nostrawmovement yang dicanangkan pada 9 Mei 2017, KFC Indonesia bersama Divers Clean Action telah melakukan aksi membersihkan pesisir Pulau Pramuka

Kepulauan Seribu pada 10 Mei 2017. Aksi yang didukung oleh berbagai komunitas selam Indonesia itu berhasil mengumpulkan sampah seberat 81 kg yang kebanyakan terdiri dari berbagai jenis plastik termasuk
sedotan. (OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More