Pooling

Setujukah Anda dengan Hukuman Mempermalukan Koruptor?

Senin, 3 October 2016 10:46 WIB

SELAMA ini kita masih terlalu manis memperlakukan koruptor. Meski korupsi termasuk extraordinary crime, pelakunya malah diperlakukan lebih 'mulia' ketimbang pelaku kejahatan lainnya. Beda dengan maling ayam, koruptor tak diborgol. Mereka juga hanya diharuskan mengenakan rompi tahanan, bukan baju tahanan.

Untuk menghadirkan efek jera, penerapan hukuman secara maksimal menjadi kemestian dan akan lebih efektif lagi jika disertai hukuman sosial. Terpidana korupsi, misalnya, diharuskan menyapu jalan dengan atribut yang jelas sehingga orang tahu bahwa ia koruptor. Atau, namanya diumumkan besar-besar di media massa.

Namun, jangan sampai sanksi sosial itu malah mengikis ketakutan melakukan korupsi dan menimbulkan paradoks, atau sesuatu hal yang dapat diterima.

Contohnya Singapura. Negara tersebut pernah membuat sanksi sosial bagi warganya yang kedapatan membuang sesuatu (sembarangan), yaitu dengan diberi sanksi sosial menyapu di jalan raya.

Namun ternyata, hukuman tersebut tidak membuat efek jera karena malah ada sebagian dari mereka yang bangga dengan sanksi sosial tersebut dan memublikasikannya ke Facebook.

Mempermalukan koruptor ialah salah satu solusi untuk mematikan korupsi karena rasa malu merupakan benteng terkuat dalam menahan godaan korupsi. Kita yakin, sangat yakin, hukuman sosial dengan semangat mempermalukan mampu membuat koruptor jera dan calon-calon koruptor takut melakukan korupsi.

Polling

Setujukah Anda dengan hukuman mempermalukan koruptor?

Komentar