Bisnis Inti

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Rabu, 27 Feb 2019, 05:30 WIB podium
Bisnis Inti

DIREKTUR Utama Pertamina Nicke Widyawati tahu persis bahwa bisnis inti dari perusahaan minyak dan gas yang dipimpinnya sekarang ada di sektor hulu. Keuntungan sektor hulu jauh lebih tinggi daripada sektor hilir yang menguras banyak tenaga. Oleh karena itu, langkah yang akan dilakukan Pertamina ialah fokus untuk melakukan eksplorasi di ladang-ladang baru yang ditawarkan Satuan Kerja Khusus Migas.

Kesadaran seperti ini sebenarnya bukan baru sekarang ada di Pertamina. Akan tetapi, langkah untuk menggarap sektor hulu tidak pernah benar-benar direalisasikan. Tingginya risiko yang ada di sektor hulu membuat pimpinan Pertamina selalu ragu.

Lihat saja apa yang dialami Dirut Pertamina Karen Agustiawan. Keinginan untuk menggarap sektor hulu akhirnya justru berbuntut pidana. Investasi yang dilakukan Pertamina di Australia dianggap merugikan negara karena eksplorasi yang dilakukan tidak membawa hasil.

Nicke paham betul akan risiko tersebut. Namun, ia tidak mau terbelenggu oleh persoalan hukum sehingga tidak berani untuk berbuat. Apalagi, sepanjang Pertamina tidak mampu meningkatkan produksi migas dalam negeri, maka ketergantungan kepada impor akan semakin tinggi dan perekonomian Indonesia akan terus dirudung masalah.

Pengalaman dalam memulihkan produksi Blok Mahakam di Kalimantan Timur dan sekarang pengelolaan Blok Rokan di Riau memberi banyak pelajaran kepada Pertamina. Modal itulah yang membuat Pertamina lebih percaya diri untuk melakukan eksplorasi di beberapa tempat di Indonesia.

Direktur Keuangan Pertamina Pahala Mansury melihat kinerja keuangan dalam kondisi sehat. Dilihat dari pendapatan sebelum dipotong pajak dan depresiasi (EBITDA), angkanya masih sekitar US$7 miliar. Padahal, belanja modal 2019 baru sekitar US$4,3 miliar. Pertamina masih mempunyai ruang cukup untuk mendanai investasi baru termasuk di bidang eksplorasi.

Hanya, eksplorasi migas merupakan investasi jangka panjang. Kalaupun Pertamina mulai melakukan sekarang, hasilnya baru bisa didapatkan sekitar 15 tahun mendatang. Padahal, persoalan yang dihadapi Indonesia sekarang ialah lebarnya perbedaan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan sehari-hari.

Untuk menutupi kebutuhan minyak mentah dalam negeri sekarang ini, pemerintah sudah mengeluarkan aturan untuk membeli jatah 15% dari produksi minyak milik kontraktor kontrak kerja sama. Kebijakan itu cukup signifikan menurunkan impor minyak mentah untuk kebutuhan kilang dalam negeri. Namun, dengan meningkatnya kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri, khususnya pada masa mendatang, eksplorasi migas tetap harus segera dilakukan.

Di samping memperbesar investasi di sektor hulu, Pertamina berencana meningkatkan produksi BBM di dalam negeri. Ada dua investasi kilang baru yang akan dilakukan dengan nilai sekitar US$16 miliar. Investasi itu dilakukan bekerja sama dengan perusahaan minyak nasional Timur Tengah.

Pertamina mempunyai target, kilang dalam negeri akan bisa menghasilkan BBM hingga 2 juta barel per hari pada 2025 yang akan datang. Sekarang ini impor BBM masih sangat besar dan inilah yang ikut mendorong defisit perdagangan.

Satu lagi yang menjadi rencana Pertamina ialah membangun kilang untuk biofuel. Kilang Pertamina di Plaju, Sumatra Selatan, akan diubah menjadi kilang yang menghasilkan biofuel dari minyak kelapa sawit. Teknologi untuk menggunakan minyak kelapa sawit sudah banyak dikembangkan termasuk oleh perusahaan minyak Italia, ENI.

Kebijakan energi harus ditetapkan pemerintah karena energi memainkan peran sebagai penggerak ekonomi. Tidak mungkin sebuah negara menjadi maju apabila tidak ditopang ketersediaan energi.

Inilah yang menjadi tantangan Indonesia sekarang ini. Apalagi selama berpuluh-puluh tahun energi selalu dijadikan sumber devisa negara. Paradigma itu harus diubah dengan energi harus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Migas jangan dijadikan sumber devisa, tetapi dipakai untuk mendukung kegiatan industri yang bisa memberikan nilai tambah lebih tinggi.

Pertamina sendiri dihadapkan kepada dilema ketika di satu sisi mereka harus menjadi penopang pembangunan ekonomi, tetapi di sisi lain harus memberikan keuntungan. Dua peran yang bertolak belakang itu sering kali membuat pimpinan Pertamina pada akhirnya tidak berani berbuat apa-apa.

Cara pendekatan seperti yang dilakukan Petronas Malaysia bisa dipakai untuk Pertamina. Di satu sisi mereka diberi tanggung jawab memenuhi kebutuhan energi dalam negeri dengan harga terjangkau, tetapi di sisi lain Petronas didorong untuk menjadi perusahaan minyak dunia. Syaratnya, janganlah aksi korporasi mudah dijerat oleh tuduhan merugikan keuangan negara. Maukah kita melakukan itu? Kitalah yang harus memutuskannya.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More