Memanfaatkan Infrastruktur

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Rabu, 06 Feb 2019, 05:30 WIB podium
Memanfaatkan Infrastruktur

BAGAIMANA kita melihat Indonesia? Kelompok yang optimistis akan mengatakan, Indonesia merupakan potensi luar biasa dan dengan kekuatannya akan terus menjadi besar. Sebaliknya, yang pesimistis akan mengatakan, Indonesia ialah negara yang besar, tetapi bisa menjadi punah karena tidak bisa bertahan hanya karena mengandalkan sumber daya alam.

Peneliti senior Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero, mencoba melihat dari perspektif berbeda. Saat sharing bersama PT Waskita Beton Precast dan para pemimpin redaksi, ia menunjukkan data Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN. Indonesia merupakan negara yang angkatan kerja produktifnya lebih baik daripada negara-negara ASEAN lainnya. Indeks pembangunan manusianya, walaupun bukan yang terbaik, berada di kelompok menengah.

Kekuatan lain dari Indonesia ialah jumlah penduduk yang 40% dari jumlah penduduk ASEAN, demikian pula produk domestik brutonya. Yang lebih mencengangkan, PDB Jakarta ternyata lebih besar jika dibandingkan dengan PDB Finlandia, sedangkan PDB Jabodetabek lebih besar daripada PDB Cile atau Vietnam sebagai sebuah negara.

Dengan potensi seperti itu, menurut Poltak, ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh dengan kekuatannya sendiri. Itu bisa terlihat dari industri otomotif. Lebih dari 70% mobil yang diproduksi di Indonesia diserap pasar Indonesia sendiri. Daya beli dan jumlah kelas menengah yang ada di Indonesia membuat banyak orang mau masuk ke Indonesia.

Kalau kemudian Indonesia dinilai terlalu berlebihan membangun infrastruktur, menurut Poltak, justru masih kurang. Peneliti dari Core Indonesia Hendri Saparini bahkan menggambarkan Indonesia sebagai lahan kosong yang masih membutuhkan infrastruktur lebih banyak lagi, baik itu jalan, pelabuhan, maupun juga listrik.

Berbagai kritik mengenai tingkat penggunaannya yang belum optimal, Hendri menyebutkan, ada tiga fungsi yang melekat pada infrastruktur. Pertama ialah fungsi untuk meningkatkan efisiensi, kedua ialah fungsi pemerataan, dan ketiga ialah fungsi penyediaan sarana kebutuhan publik. Tugas pemerintah pusat ialah menyediakan barang kebutuhan publik, sedangkan dua fungsi lain seharusnya dijalankan pemerintah daerah.

Pengalaman pembangunan jalan tol Jagorawi menunjukkan perlunya waktu untuk memberikan manfaat paling optimal. Ketika pertama kali dibangun di akhir 1970-an, hanya ada dua exit yang ada, yaitu Cibinong dan Ciawi. Sekarang di jalur itu paling tidak bertambah lima exit, mulai Cimanggis, Cibubur, Cileungsi, Sentul, dan Sentul Selatan. Nilai ekonomi yang diakibatkan dari pertumbuhan baru itu sangat signifikan untuk pendapatan daerah.

Oleh karena itu, mantan Menteri Tenaga Kerja Abdul Latief mengajak kita untuk tidak menggunakan kacamata politik dalam melihat pembangunan infrastruktur. Ia pun berpendapat, Indonesia perlu terus membangun infrastruktur karena itu akan memberi manfaat bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Pemerintah jangan goyah oleh berbagai kritik yang muncul karena tugas utama pemerintah ialah menyediakan barang kebutuhan publik. Siapa misalnya yang akan membangun infrastruktur di Papua kalau bukan pemerintah yang melakukannya.

Latief bahkan mengusulkan agar pemerintah dan badan usaha milik negara mengirimkan lebih banyak anak muda untuk belajar pembangunan infrastruktur ke negara lain agar mereka bisa lebih terampil. Tiongkok dan Korea Selatan merupakan tempat yang paling cocok untuk menambah pengetahuan tentang ilmu konstruksi.

Pengalaman negara lain menunjukkan, kemajuan akan diraih setelah infrastruktur tercukupi. Amerika Serikat bisa keluar dari depresi ekonomi 1930 setelah Presiden Franklin Delano Roosevelt membangun Trans-Amerika. Tiongkok bisa melompat menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran.

Hukum besi ekonomi memang menyebutkan, trade follow the road, perdagangan itu akan mengikuti jalan. Setelah itu, industri akan mengikuti perdagangan. Untuk itulah, kita harus terus membangun infrastruktur dan tidak perlu takut bahwa itu tidak akan bisa termanfaatkan.
Kita bersyukur pemerintah tetap menyediakan anggaran cukup untuk pembangunan infrastruktur pada tahun ini. Setidaknya ada Rp415 triliun yang disiapkan pemerintah untuk menyediakan berbagai barang kebutuhan publik.

Tentu seperti dikatakan Poltak, infrastruktur itu bukan hanya sekadar beton yang dibangun di atas tanah. Yang juga harus dilakukan bagaimana menciptakan kegiatan ekonomi yang ada di atas tanah itu.

Di sini dibutuhkan tangan-tangan yang kreatif dan inovatif. Kita membutuhkan pemimpin daerah yang pandai untuk melihat peluang. Ia harus mampu mendorong masyarakatnya untuk bisa mengambil manfaat ekonomi dari berbagai infrastruktur yang sekarang sudah mulai tersedia. Dengan itulah, maka Indonesia akan semakin maju.

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/2) akan digelar debat kedua Pilpres 2019. Debat kali ini akan mengangkat tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kedua ini?





Berita Populer

Read More