Inspirasi

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Selasa, 09 Okt 2018, 05:30 WIB podium
Inspirasi

"JIKA aku gagal, aku mencoba lagi, lagi, dan lagi... Kekuatan manusia dapat menangani kegagalan lebih dari yang kita sadari. Berulang kali dalam kehidupan dan perjalananku, aku melihat langsung kekuatan luar biasa dari jiwa manusia.” (Nick Vujicic)
 
Vujicic sosok yang lahir tak bertangan dan berkaki lengkap kini menjadi motivator kelas dunia. Ia menulis banyak buku. Kelahiran Australia 1982 ini telah memotivasi jutaan manusia di berbagai belahan dunia. Pembaca buku-bukunya dan pendengar kata-katanya lebih banyak yang terlahir normal. Ia hanya salah satu orang hebat dari banyak penyandang disabilitas.
 
Kini, di Jakarta, kita juga tengah mendapat inspirasi dari kaum disabilitas itu. Mereka tengah berkompetisi di ajang Asian Para Games (APG) 2018. Lebih sebulan lalu kita pesta olahraga bangsa-bangsa Asia yang membuat kita bangga, kini hal serupa terjadi di Asian Para Games (6-13 Oktober). Para Games ke-3 setelah di Tiongkok (2010) dan Korea Selatan (2014).
 
Asia Para Games 2018 diikuti 43 negara dengan 2.760 atlet, 1.900 ofisial,  8.000 sukarelawan, 5.000 pekerja lapangan, dan ratusan tenaga medis. Jumlah yang lebih besar jika dibandingkan dengan dua perhelatan serupa sebelumnya. Mereka berlomba di 18 cabang olahraga. Sekitar 1.000 jurnalis dari dalam dan luar negeri mewartakan semangat kebersamaan ke banyak negara, kepada dunia.
 
Mereka memang secara fisik dan mental berkekurangan.Meski demikian, spirit mereka menyala-nyala. Mereka menjadi inspirasi sejati: manusia yang telah selesai mengatasi kekurangan dirinya. Mereka telah melampaui keterbatasannya. Mereka memacu diri mengukir prestasi. Pastilah capaian itu diraih dengan kerja amat keras dan disiplin amat tinggi.
 
Justru di tengah hari-hari duka karena bencana di Lombok, NTB, serta di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, aksi dan prestasi atlet para games bisa jadi inspirasi. Jadi penyemangat. Bahwa dalam tubuh yang berkekurangan, ada semangat yang berlipat-lipat. Ketabahan mereka menerima kekurangan untuk berprestasi itulah keunggulannya. Di mata mereka, kekurangan justru jadi tantangan dan peluang.
 
Sudah tepat perhelatan itu mengusung tema The inspiring spirit and energy of Asia (Inspirasi semangat dan energi Asia). Tema itu dipilih berdasarkan empat nilai dari paralimpik, yakni kebulatan tekad (determination), keberanian (courage), kesetaraan (equality), dan inspirasi (inspiration).
 
Semangat itu tecermin pada upacara pembukaan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu lalu. Ada berbagai pertunjukan yang terbagi dalam sembilan segmen yang menampilkan unsur-unsur alam, antara lain matahari, pesona alam bawah laut, dan hujan. Dari pertunjukan kaum disabilitas yang memukau itu tecermin spirit mereka meneguhkan kebersamaan dalam keberagaman.
 
Masih dalam upacara pembukaan, Presiden Jokowi bersama atlet panahan Abdul Hamid dan seorang pelajar, Bulan Karunia Rudianti yang duduk di atas kursi roda, memanah bersama ke arah tulisan besar 'DISABILTY’ (ketidakmampuan). Rontoklah huruf ‘D’, ‘I’, dan ‘S’ terkena bidikan anak panah, tinggalah 'ABILITY' (kemampuan). Sebelum memanah, Bulan bertanya, "Saya di sini. Pak Jokowi ada di mana?" Jokowi pun turun dari tribune kehormatan menemui Bulan, berjongkok dan berdialog. Bulan memberikan kotak yang di dalamnya bertuliskan 'ABILITY' kepada Presiden.
 
“Ajang ini bukan sekadar tentang menang atau kalah. Melalui Asian Para Games kita tinggikan nilai-nilai sportivitas, solidaritas, kemanusiaan, dan hubungan harmonis antarbangsa-bangsa di Asia," kata Ketua Panitia Penyelenggara Asian Para Games 2018 (Inapgoc) Raja Sapta Oktohari.
 
Bersamaan dengan itu pula, di Bali juga digelar pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia (8-14 Oktober), yang dihadiri sekitar 34 ribu peserta dari 189 negara. Mereka berhimpun untuk mencari solusi atas ketidakpastian ekonomi global sekarang ini. Mestinya kian menunjukkan negeri ini memang punya posisi penting. Negeri besar dengan persoalan besar, juga punya peluang besar, memang mesti dikelola dengan energi besar dan terbosan-terobosan besar.
 
Asian Para Games, selain prestasi yang diukur dengan kenyamanan dan keamanan penyelenggaraan dan perolehan medali, harusnya negeri ini kian peduli terhadap kaum disabilitas. Peradaban bangsa ini salah satunya juga diukur dari perlakuannya terhadap kaum ini yang berjumlah sekitar 9 juta orang di Indonesia. Harusnya isu disabilitas mendapat prioritas dalam pembangunan kita. Terlebih kita telah mempunyai UU No 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas.
 
Hingga hari ketiga Asian Para Games, Indonesia mendulang tiga medali emas, yakni dari cabang bulu tangkis beregu putra, lompat jauh (Rica Oktavia), dan tolak peluru (Suparniyati). Ini berita baik. Banyaknya perolehan medali pastilah penting. Namun, inspirasi kegigihan, keberanian, kesetaraan, dan persaudaraan itulah yang utama. Lebih khusus, perjuangan para atlet di Asian Para Games mestinya juga bisa menjadi oasis di tengah kontestasi politik kita yang kian banal dan melelahkan.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More