Badai Belum Berlalu

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Sabtu, 29 Sep 2018, 05:30 WIB podium
Badai Belum Berlalu

AMERIKA Serikat terus memberikan tekanan kepada perekonomian global. Pidato Presiden Donald Trump di depan Sidang Umum PBB dengan menyerang secara terbuka Iran, Suriah, dan Tiongkok memunculkan ketegangan baru. Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Jerome Powell mengumumkan langkah untuk membawa perekonomian AS kembali ke titik normal dengan menaikkan tingkat suku bunga dana federal 0,25% menjadi 2,25%.
       
Bank Sentral AS bahkan memberikan sinyal, kenaikan tingkat suku bunga acuan akan terus dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi AS ke arah yang benar. Sampai akhir Desember nanti tingkat suku bunga acuan diperkirakan akan naik menjadi 2,5%. Tahun depan Federal Fund Rate diperkirakan akan dinaikkan menjadi 3% dan 2020 menjadi 3,5%.
        
Langkah Bank Sentral AS itu membuat dolar mengalir kembali 'ke rumahnya'. Apalagi Presiden Trump sudah menurunkan pajak korporasi dari 25% menjadi 21%, sehingga membuat AS menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi.
         
Bagi Indonesia yang sedang gencar mencari investor, kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Tidak tanggung-tanggung pesaing dalam menarik investasi ialah AS. Kita harus bisa menciptakan kondisi yang jauh lebih menarik untuk membuat para pemilik modal mau berinvestasi di Indonesia.
         
Inilah tantangan yang harus bisa kita jawab. Sejauh ini belum ada kebijakan investasi yang baru dan benar-benar merupakan terobosan besar. Kita baru bisa menawarkan pelayanan perizinan satu pintu. Kenyataannya investor tetap kesulitan untuk memulai bisnis, apalagi dengan kebijakan yang sering berubah-ubah.
         
Contoh paling nyata yakni pengembangan kawasan industri Kendal. Kawasan ini diresmikan bersama Presiden Joko Widodo dan PM Singapura Lee Hsien Loong pada 2016. Hingga sekarang pengusaha Singapura masih ragu untuk memanfaatkan kawasan industri seluas 2.700 hektare bagi kegiatan investasi mereka.
          
Kita tentu perlu mencari tahu mengapa investor masih ragu untuk merealisasikan bisnisnya. Memang ada kekhawatiran terhadap sikap xenofobia yang kadang kita pertontonkan. Kalau itu menjadi hambatan, tentu harus ada kompensasi lain yang diberikan agar para investor yakin menanamkan modalnya di Indonesia.
          
Langkah terobosan itu tentu harus dikaitkan dengan arah besar kebijakan pembangunan yang hendak kita lakukan. Ada pemikiran misalnya, kita membutuhkan investasi padat karya untuk mengurangi angka pengangguran. Pemerintah seharusnya berani untuk memberikan insentif khusus kepada perusahaan yang bisa memperkerjakan lebih dari 10 ribu tenaga kerja.
        
Apa misalnya insentif yang bisa diberikan? Perusahaan yang berorientasi ekspor dan padat karya mendapatkan pengembalian pajak. Apabila perusahaan harus membayar pajak badan 25%, untuk perusahaan yang berorientasi ekspor dan memperkerjakan lebih dari 10 ribu pegawai dikembalikan pajaknya 5% atau 10%.
        
Keberanian seperti ini perlu dilakukan karena kita bersaing dengan negara lain dalam menarik investor. Pemerintah tidak perlu takut kehilangan penerimaan pajak karena kalau Indonesia menjadi negara yang menarik untuk investasi akan banyak perusahaan masuk Indonesia dan otomatis akan bertambah jumlah perusahaan yang akan membayar pajak.
        
Sekarang ini kita hanya menggunakan instrumen moneter untuk menjawab ketidakpastian global. Bank Indonesia terpaksa menaikkan 7-days reverse repo rate 0,25% menjadi 5,75% untuk menjawab langkah yang dilakukan Bank Sentral AS. Pertanyaannya, akan seberapa tinggi tingkat suku bunga yang akan kita terapkan untuk menjaga jangan sampai arus modal ke luar Indonesia dan nilai tukar rupiah tidak terus tertekan?
         
Jangan lupa semakin tinggi tingkat suku bunga akan membuat orang malas berinvestasi. Dengan beban bunga yang semakin tinggi, potensi gagal dalam berbisnis pun semakin besar. Salah-salah kredit bermasalah akan memukul sektor perbankan sendiri.
          
Sekarang ini memang kondisi perbankan masih sehat. Rasio kecukupan modal perbankan masih di atas 20%. Kredit bermasalah di bawah 3%. Sementara tingkat penyaluran kredit di atas 10%.
          
Namun, pembalikan itu bisa terjadi secara cepat kalau kita tidak pandai mengelola perekonomian. Apalagi ada satu lagi bom waktu yang bisa menyulitkan kita, yakni harga minyak dunia. Sekarang ini harga minyak sudah melewati US$80 per barel dan diperkirakan akan mencapai US$100 per barel.
          
Badai itu belum berlalu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah AS mengenakan sanksi ekonomi secara sepihak kepada Iran mulai 5 November. Kita harus mengencangkan sabuk keselamatan agar perekonomian kita tidak terguncang hebat.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More