Kepemimpinan Soft Power

Penulis: Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group Pada: Kamis, 09 Agu 2018, 05:30 WIB podium
Kepemimpinan Soft Power

KINI dunia tanpa pemimpin dalam arti lama. Dunia yang selama ini praktis dipimpin AS, sekarang mengalami transformasi kepemimpinan. Disadari atau tidak, semua itu dipercepat Donald Trump.

Di bawah Presiden Donald Trump, AS bukan hanya kehilangan kepemimpinan dunia, melainkan juga kehilangan banyak sekutu dan memproduksi banyak seteru.

Trump memusuhi Uni Eropa, sebaliknya bahkan lebih hangat kepada Rusia, sebagaimana ditunjukkannya dalam pertemuannya dengan Presiden Vladimir Putin di Finlandia. Padahal, negara-negara Uni Eropa merupakan sekutu sejati sejak Perang Dunia II.

Senapas dengan itu, Trump juga mengecam NATO, yang dinilainya tiada berguna. Bahkan, di matanya NATO benalu yang mengisap AS. Untuk menghidupi kesepakatan militer itu, AS memberi kontribusi 2% GDP. Kata Trump, "AS membayar untuk melindungi Eropa, kemudian kehilangan miliaran dalam perdagangan."

Trump juga memusuhi Kesepakatan Paris tentang pemanasan global. AS keluar dari kesepakatan itu, padahal dampak pemanasan global kini semakin gawat. Kebakaran yang terjadi di California ialah yang terburuk dalam sejarah AS. Tokyo untuk pertama kali mengalami temperatur di atas 40 derajat celsius. Korea Selatan mencatat suhu tertinggi 43 derajat celsius, terpanas sejak negara itu mengukur suhunya pada 1907.

Apakah setelah ditinggalkan AS dunia kehilangan kepemimpinan? Jawabnya, tidak. Contohnya, Trans-Pacific Partnership yang semula terdiri 12 negara, setelah AS keluar, 11 negara tetap kukuh berkomitmen. Pertemuan mereka di Cile, Maret lalu, menghasilkan keputusan mengubah nama menjadi Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership. Akhir tahun ini enam negara meratifikasi perjanjian itu.

Demikian pula halnya dengan Kesepakatan Paris yang ditandatangani 196 negara terus berlanjut tanpa AS. Sebanyak 1.200 universitas, investor, bisnis, wali kota, dan gubernur dari berbagai negara di dunia menyatakan diri tetap menjadi bagian Kesepakatan Paris dan berkomitmen untuk terus mengurangi emisi karbon dioksida.

Trump bahkan membawa AS mengkhianati WTO dengan kebijakan perang dagang. Melalui Twitter, Trump mencicit, katanya perang tarif bekerja lebih baik daripada harapan siapa pun. Pasar Tiongkok anjlok 27% dalam empat bulan terakhir. Apa jawab Tiongkok? Wishful thinking. Katanya, defisit perdagangan AS-Tiongkok malah naik US$3 miliar menjadi US$46,3 miliar dalam Juni. Kenaikan pertama dalam 4 bulan. Perang dagang berubah menjadi perang klaim, entah siapa yang berbohong.

Kevakuman kepemimpinan dunia versi lama itu mendorong lahirnya berbagai inisiatif kepemimpinan. Ketidakpercayaan Trump kepada NATO memicu Presiden Prancis Emmanuel Macron mendirikan European Intervention Initiative untuk mempertahankan Eropa tanpa AS. Kerja sama militer itu diikuti sembilan negara (Belanda, Belgia, Denmark, Estonia, Jerman, Inggris, Portugal, Prancis, dan Spanyol). Ikut sertanya Jerman dan Inggris bersama Prancis menunjukkan kekuatan inisiatif Macron itu. Mereka menyadari tindakan militer perlu keputusan cepat. Uni Eropa terlalu lamban dan birokratis untuk urusan perang.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, dalam kunjungannya ke Jepang, akhir Juli lalu, membawa gagasan aliansi multilateral. Jerman dan Jepang harus lebih bersatu untuk menghadapi doktrin proteksionisme perdagangan Trump. Katanya, "Sendiri, akan berat untuk menjadi ‘rule maker’ di dunia multipolar. Ketika kita mengombinasikan kekuatan kita, kita mungkin dapat menjadi sesuatu seperti ‘rule shapers’, yaitu desainer dan motor ketertiban dunia." Inilah antara lain jenis pemimpin baru dunia.

Doktrin unilateral Trump membuka peluang bagi Tiongkok untuk memimpin dunia, menurut versinya. Presiden Tiongkok Xi Jinping mengajak Uni Eropa untuk bersama membela multilateralisme dan sistem perdagangan bebas berbasiskan aturan. Kata Xi di forum BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) di Johannesburg, dunia sekarang bergerak menuju multipolaritas.

Sesungguhnya dunia ini pun menuju kepemimpinan 'soft power', yaitu di tangan Swiss, Kanada, Belanda, dan negara-negara Skandinavia (Swedia, Finlandia, Denmark, dan Norwegia). Inilah negara yang ekonomi dan kulturalnya memengaruhi opini dan pengambilan kebijakan dunia.

Swiss menjadi pemimpin sebagai negara nomor satu dalam hal reputasi bagi urusan kewargaan dan keterbukaan untuk bisnis. Kanada menjadi pemimpin dalam urusan pendidikan, kesehatan, dan keamanan publik. Negara-negara Skandinavia mendominasi 15 posisi dalam berbagai peringkat teratas dunia.

Dunia multilateral, dunia multipolar dengan berbagai macam jenis kepemimpinan itu membuat dunia kiranya makin tidak perlu punya pemimpin tunggal, negara superpower model AS. Transformasi itu dipercepat justru oleh pikiran sempit sang pemimpin, Donald Trump.

Hemat saya, soft power malah kian menjadi rujukan, termasuk dalam mengukur kehebatan Indonesia di tengah percaturan dunia multilateral/multipolar.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More