Jaga Momentum

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Rabu, 08 Agu 2018, 05:30 WIB podium
Jaga Momentum

LAPORAN Badan Pusat Statistik berkaitan pertumbuhan ekonomi kuartal II membesarkan hati. Perekonomian Indonesia mampu tumbuh di atas perkiraan. Pertumbuhan 5,27% yang disebut sebagai pertumbuhan triwulanan tertinggi dalam lima tahun terakhir merupakan modal baik untuk membuat semester II 2018 bisa lebih menggeliat.

Tidak pernah bosan kita sampaikan potensi besar yang dimiliki negara ini. Yang dibutuhkan tinggal bagaimana menyuntikkan kepercayaan diri untuk memanfaatkan potensi tersebut. Di sini dibutuhkan adanya arah pembangunan ekonomi yang jelas, konsistensi dalam melaksanakannya, dan terciptanya kondisi berusaha yang kondusif.

Daya beli yang dimiliki masyarakat untuk mendorong pertumbuhan sangatlah besar. Apalagi, pada kuartal II lalu pemerintah menyuntikkan tunjangan hari raya dan pemberian gaji ke-13 untuk aparatur sipil negara. Itu merupakan relaksasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan yang agak melambat.

Presiden Joko Widodo sering mengingatkan, perekonomian global yang tidak bersahabat. Proteksionisme yang diterapkan negara besar mengganggu perdagangan global. Pada kondisi seperti ini kita harus memanfaatkan pasar besar yang ada di dalam negeri.

Jangan biarkan pasar kita dibanjiri produk-produk impor. Sepanjang bisa kita produksi sendiri, kita harus dorong produsen dalam negeri untuk memproduksinya. Devisa harus kita hemat untuk keperluan yang mendesak dan benar-benar belum mampu kita hasilkan sendiri.

Presiden juga menyampaikan, kita membutuhkan pasokan dolar untuk menjaga nilai tukar yang sedang tertekan. Lagi-lagi yang dibutuhkan ialah kondisi berusaha yang kondusif agar efisiensi bisa tercapai. Dengan efisiensi, harga produk kita bisa bersaing dan ekspor bisa meningkat.

Kalau pemerintah bisa menciptakan kondisi yang bersahabat dan menjamin sistem pembayaran yang aman, harapan presiden agar pengusaha menempatkan hasil ekspornya di dalam negeri akan bisa dilakukan. Saat bertemu para pengusaha di Istana, presiden mendengarkan langsung bagaimana kesiapan dan ketangguhan pengusaha kita.

Momok yang paling menakutkan masyarakat dan pengusaha dalam melakukan kegiatan ekonomi ialah pajak. Upaya meningkatkan penerimaan negara bukan dilakukan dengan meningkatkan kepatuhan, melainkan lebih kepada menciptakan ketakutan.

Seorang pengusaha misalnya, mengeluhkan bagaimana perusahaannya yang sudah go public tiba-tiba ditetapkan kurang bayar pajak Rp40 miliar. Ia tidak tahu bagaimana perhitungan yang dilakukan aparat pajak. Keberatan hanya bisa ditempuh melalui pengadilan pajak yang sistemnya dipertanyakan karena hakim-hakimnya berasal dari pensiunan pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

Itu pun dengan kewajiban untuk membayarkan terlebih dahulu 50% dari besarnya sengketa pajak yang diajukan.

Perekonomian ini akan sulit menggeliat kalau pengusaha tidak diberi ruang cukup untuk berbuat. Sementara itu, di negara lain, dalam kondisi perekonomian global yang menekan, para pengusahanya diberikan kemudahan. Sepanjang krisis 10 tahun di Amerika Serikat, pengusaha diberi tingkat suku bunga yang rendah dan nilai tukar dolar yang kompetitif.

Presiden Donald Trump bahkan menurunkan pajak perusahaan dari 25% menjadi 21% sehingga pertumbuhan ekonomi mereka bisa naik menjadi 2,85% dan angka pengangguran terendah dalam 54 tahun.

Kebijakan kita sering kali justru kebalikannya. Saat krisis keuangan 1998, suku bunga justru dinaikkan sampai 80% dan nilai tukar rupiah melorot sampai Rp18 ribu per dolar AS. Sekarang ketika ketidakpastian global sedang meningkat, kebijakan kita cenderung kontraktif, yakni suku bunga dinaikkan dan penerimaan pajak tumbuh jauh di atas pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Ketika pengetatan yang dipilih,  yang menjadi korban ialah kegiatan bisnis karena menjadi lebih sulit. Akibat dari melambatnya kegiatan bisnis, lapangan kerja pun berkurang dan akibat lebih lanjutnya ialah menurunnya daya beli. Penurunan daya beli akhirnya akan berpengaruh negatif kepada pertumbuhan.

Itulah yang menyebabkan mengapa momentum baik dari pertumbuhan pada kuartal II ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pemerintah harus mendorong agar kegiatan ekonomi lebih menggeliat lagi. Pajak jangan menjadi momok yang membuat orang takut untuk berbelanja dan melakukan investasi.

Penerimaan pajak pasti akan tercapai kalau kegiatan ekonomi masyarakat semakin berputar cepat. Sebaliknya, penerimaan pasti tidak akan tercapai kalau orientasinya sekadar mengejar target tanpa peduli kegiatan ekonomi masyarakat itu bergerak atau tidak.

Kita harus menciptakan kebersamaan untuk membangun negara ini. Hanya dengan sikap saling percaya dan saling mendukung kemajuan itu akan bisa kita capai. Bukan dengan saling curiga dan saling menyalahkan. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat harus satu visi untuk mencapai Indonesia yang lebih menyejahterakan.


    

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More