Balada Kecebong dan Kampret

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Selasa, 24 Jul 2018, 05:30 WIB podium
Balada Kecebong dan Kampret

INILAH balada para kecebong dan kampret*) dalam fantasi saya. Hidup sarat kemuliaan di atas bentala satwa. Mereka berbeda dengan manusia negeri ini yang menjadikan media sosial sebagai medan kurusetra.

'Mahzab' mereka ialah perbedaan, bukan persamaan. Doktrin mereka ialah permusuhan, bukan persaudaraan. Mereka mengaku agama jadi air dan api suci, tapi makhraj umpatan kotor dengan penuh benci diproduksi setiap hari. Tak pandang mahaguru, yang mengaku ulama, ataupun orang biasa.

Di media sosial manusia saling memburu, memamerkan taring, menyiapkan cakar. Di media ini mereka serupa monster siap memangsa kapan saja. Mereka berebut dekat dengan Tuhan, tapi firman-Nya diingkari sesuka hati. Bagi mereka, kebenaran tak harus dicari bersama, tetapi harus berlutut sesuai dengan kehendak mereka. Di media sosial yang diburu melimpahnya like dan love, bukan kedalaman arti.

Kecepatan aksi jemari dan nyaring suara itulah yang utama. Fakta yang suci ramai-ramai dibuat mati. Kesalahan kerap ditutup dengan kesalahan berikutnya. Bukan dengan ralat atawa permintaan maaf. Adab kesantunan perwira bahari diganti laku 'keras-kerasan'. Ajujah jadi melimpah.

Dalam dunia satwa kecebong dan kampret justru menyadari perbedaan ialah berkah. Bukan musibah. Saling menghargai pun jadi kunci harmoni. Karena mereka berbeda, laku saling menyakiti dinegasi. Ia menjadi kanon yang dihayati. Dua puak satwa itu meneguhkan perbedaan jadi keindahan. Mereka pahatkan dalam kehidupan, bukan dalam perkataan yang mudah dilesapkan.

Mereka memandu lisan agar tak menceracau seperti manusia. Mereka menjaga badan agar tak liar menggoreskan aksara yang membuncahkan murka. Mereka mendaras untuk memilah mana yang samar, yang cemar, yang benar. Ikhtiar mencari kebenaran ialah keharusan. Bukan perseteruan.

Dalam fantasi saya, barisan kecebong menari-nari dalam gerombolan 'maksi', sementara puak kampret bergelantungan serentak berdendang.

Para kecebong berputar-putar di bawah, di sawah-sawah, di kolam-kolam, di rawa-rawa. Para kampret bersenandung di dahan-dahan, di rumah-rumah tua, di gua-gua. Tak ada hasrat sebutir zarah pun saling merisak, yang ada justru saling mengajak... "Gaudeamus igitur (marilah kita bersukacita)," kata mereka serentak.

Barisan kecebong di bawah tak merasa rendah. Para kampret di atas tak lantas jemawa. Mereka paham 'bawah' dan 'atas' bukanlah tanda wilayah antara yang hina dan yang mulia. Itu sepenuhnya prerogatif Sang Pencipta. Mereka runduk atas segala rahasia alam yang patuh pada hukum-hukum-Nya.

Mereka sependapat-sependirian persaudaraan ialah jangkar kesatwaan. Mereka menolak personifikasi dalam politik belah bambu dunia manusia yang ganas. Inilah homo homini lupus (manusia ialah serigala bagi manusia lain). Mereka sesekali menghela napas atas kepandiran manusia berebut kuasa dengan mengutubkan partai setan dan partai Tuhan.

Mereka pun saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan raga dan kewarasan jiwa. Mereka menyepakati piagam persaudaraan dan menuntut manusia memulihkan nama mereka yang dibenamkan dalam lumpur caci maki: kecebong versus kampret!

"Kami para kecebong menolak personifikasi dalam politik yang picik. Kami tak sudi jadi objek caci-maki yang membuhulkan rasa benci. Kami menolak lupa tentang manusia berabad-abad hanya berebut kuasa dengan segala cara. Di negeri manusia demokrasi berarti boleh memaki-maki setiap hari." Serentak kecebong bermaklumat dalam hikmat. Tekad pun dibulatkan!

"Kami sepakat dengan saudara kami lain spesies: kecebong. Kami diikat rasa solider yang kuat daripada kehendak soliter sendiri-sendiri. Kami mafhum tak lebih mulai dari manusia, tapi kami tahu mana yang hina mana yang tercela. Kami tetap bersatu diri pada kebajikan hewani dan menolak kejahatan insani. Kami para kampret dan kecebong akan tetap bersama dalam satu geografi, satu negeri."

Suara ribuan bahkan jutaan kampret dalam tarikan napas dan nada yang sama. Membangun suasana yang menggetarkan siapa pun yang jiwanya sehat dan nalarnya tak majal. Mereka selekasnya akan membuat petisi pada manusia atas segala pekataan, tulisan, dan sikap semena-mena pada satwa.

Tahun politik 2019 pastilah media sosial akan kian mengerikan. Ia bagai monster yang bisa mengkoyak siapa saja. Itu sebabnya, saya tak hendak menghentikan fantasi atas kampret dan kecebong yang indah ini; jika kami sebagai bangsa tak punya kehendak untuk bersama. Untuk bersatu.

*) Kecebong diidentikkan secara negatif kepada para pendukung pemerintahan Joko Widodo dan kampret dialamatkan secara sumbang kepada kelompok dan pendukung oposisi.

                 

 

 

 

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More