Asa Hasil Pilkada

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Jumat, 29 Jun 2018, 05:10 WIB podium
Asa Hasil Pilkada

'JAGOKU di Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak menang', tulis seorang kawan, Eli Pujiaastuti, via grup Whatsapp. Kawan sekolah dasar yang berpuluh tahun bermukim di Surabaya itu mengungkapkan lagi, memilih pasangan itu, pesona utamanya memang Emil. Pria kelahiran 20 Mei 1984 yang baru 2,5 tahun menjadi Bupati Trenggalek.

Ada begitu banyak kegembiraan selain Eli. Pada pilkada serentak 2018, menurut versi hitung cepat (quick count) Charta Politika, Khofifah-Emil mengantongi 53,48% suara. Pesaing mereka, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, meraih 46,52% suara. Jawa Timur ialah medan pertempuran demokrasi lokal tingkat provinsi yang ketiga kalinya bagi Khofifah; kelahiran Surabaya, 19 Mei 1965 itu petarung politik yang tangguh.

Padahal, ia dua kali menjadi menteri, di era SBY dan Jokowi.

Kemenangan pasangan calon yang diusung Partai NasDem, Partai Demokrat, Golkar, PAN, PPP, dan Hanura sudah terbaca setelah Saifullah Yusuf gagal berpasangan dengan Bupati Banyuwangi Azwar Anas. Pemimpin muda yang harum itu tiba-tiba mundur. Puti Guntur, anggota DPR Dapil Jawa Barat, cucu Soekarno, menggantikan posisi Azwar. Pasangan itu diusung PKB, PDIP, dan Gerindra.

Emil, yang tak direstui PDIP untuk maju sebagai wakil Khofifah, telah menjadi pesona di Jawa Timur. Muda, terpelajar (lulusan sebuah universitas di AS), punya kemampuan berkomunikasi di forum internasional, santun, punya leadership bagus, amat cocok dengan era zaman ini. Wajah Emil yang tampan dan istrinya seorang artis cantik jadi pelengkap daya tarik sebagai tokoh politik.

Di Jawa Barat, Ridwan Kamil terlebih dulu menyandang ketokohan serupa Emil. Kelahiran Bandung, 4 Oktober 1971 ini arsitek lulusan ITB, melanjutkan pendidikan di AS, punya reputasi internasional. Ia aktif di medsos, merakyat, penuh ide, menjadi pesona anak-anak muda di banyak kota. Pasangan Ridwan-Uu Ruzhanul Ulum yang diusung NasDem, PKB, dan PPP, unggul 34,66% suara. Saingan terdekat mereka Sudrajat-Saikhu meraih 28,94% suara versi hitung cepat KPU.

Di Sulawesi Selatan, pasangan Nurdin Abdullah-Sudirman Sulaiman yang diusung PDIP, PAN, dan PKS itu menurut versi hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia menangguk 42,92% suara. Pesaing terdekat mereka, pasangan Nurdin Halid-Azis, memperoleh 38,47% suara. Di tangan Nurdin yang dua periode menjadi bupati, Bantaeng menjadi wilayah geografis yang maju. Pria kelahiran 7 Februari 1963 ini menyelesaikan S-2 dan S3-nya di Jepang. Ia gabungan praktisi bisnis dan akademisi; kini ia guru besar ilmu kehutanan di Universitas Hasanuddin.

Wakil Nurdin Abdullah, Sudirman Sulaiman, kelahiran 1983, ialah insinyur teknik mesin lulusan Universitas Hasanuddin yang semula menekuni dunia profesional. Adik Amran Sulaiman (kini menteri pertanian) itu ialah anak muda religius, aktivis pramuka, dan rupa-rupa organisasi sewaktu di kampus. Nurdin-Sudirman dinilai akan menjadi pasangan yang akan lebih bisa memajukan Sulawesi Selatan.

Tiga contoh di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan ialah calon gubernur-wakil gubernur terpilih yang berasal dari level di bawahnya: bupati dan wali kota. Bisa jadi masih amat banyak pasangan calon terbaik yang menang perhelatan Pilkada 2018 yang digelar di 171 daerah: 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.

Di tengah kekecewaan kita karena banyaknya pemimpin daerah yang tersangkut korupsi, Pilkada 2018 bisa disebut menjadi harapan baru.

Ini disebut sebagai pilkada yang paling menunjukkan kecerdasan dan kedewasaaan para pemilihnya. Tak saja pelaksanaannya aman, hasilnya amat menjanjikan. Demokrasi di level lokal ini justru semacam perlawanan terhadap elite politik nasional yang hobinya bikin gaduh.

"Saya merasa gembira hasil Pilkada 2018 bisa memulihkan kembali demokrasi sebagai cara terbaik memilih pemimpin," kata Azyumardi Azra, guru besar dari Universitas Islam Negeri Indonesia.

Naik kelasnya para bupati/wali kota menjadi gubernur/wakil gubernur ialah jenjang karier kepemimpinan politik pada jalur yang benar.

Mereka segera diuji dalam praktik; jika berhasil kelak mestinya negeri ini tak kesulitan mencari calon pemimpin nasional. Pemimpin yang kerja nyata, bukan hanya pintar bicara hasil polesan penjaga citra semata.

Karena itu para pemilih, partai pengusung, dan rakyat secara umum harus terus mengingatkan para pasangan terpilih agar tak mengingkari tujuan utamanya menjadi pemimpin, yakni memakmurkan rakyat mereka.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More