Kultur

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Rabu, 27 Jun 2018, 05:30 WIB podium
Kultur

VIDEO pendek dialog antara Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad dan para pemuda negeri jiran itu menarik untuk disimak. Dalam dialog untuk menjawab Wawasan Malaysia 2020 itu, Mahathir ditanya tentang kemampuan anak-anak Malaysia dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Mahathir menjawab, dirinya tidak meragukan kemampuan bangsa Melayu. Anak-anak muda Malaysia mempunyai potensi yang tidak berbeda dengan anak-anak negara lain. Hanya saja yang harus diperbaiki ialah kulturnya, budayanya, atau nilai hidup yang dijalani.

Mengapa? Sering kali Mahathir melihat anak-anak zaman sekarang tidak konsisten. Mereka ingin maju, ingin menikmati kehidupan yang lebih baik, tetapi tidak mau bekerja keras. Kalau disuruh bekerja, sering malas, tetapi kalau diberi libur, langsung semangat.

PM Malaysia itu memberi contoh kebiasaan untuk menuntut hari libur pengganti, yaitu Senin, ketika hari libur resmi jatuh Minggu. Yang terjadi kemudian, orang pergi berlibur mulai Jumat hingga Senin. Bagaimana negara akan maju kalau satu minggu diisi tiga hari kerja dan empat hari libur?

Mahathir mengingatkan anak-anak muda Malaysia untuk mau bekerja keras. Tidak ada bangsa yang maju tanpa bekerja keras. Apalagi ketika kita harus mengatasi ketertinggalan dari bangsa lain. Kita hanya akan bisa mengejarnya apabila mau bekerja lebih keras daripada bangsa-bangsa yang sudah lebih maju itu.

Pesan yang disampaikan Mahathir pantas untuk menjadi bahan refleksi kita bersama. Penyakit yang kita hadapi tidak berbeda dengan apa yang terjadi di Malaysia. Kita terlalu lembek dan tidak ditempa untuk menjadi bangsa yang tangguh.

Juni ini merupakan cerminan paling nyata dari sikap santai kita. Mulai awal bulan sampai menjelang akhir bulan, praktis isinya hanya hari libur. Kalau satu bulan dari 12 bulan kita buang hanya untuk libur, bagaimana lalu kita akan bisa menjadi bangsa pemenang dalam era persaingan ketat seperti sekarang?

Ahli sosiologi Samuel L Huntington sejak lama menulis buku tentang Culture Matters. Bagaimana bangsa yang berangkat dari titik yang sama kemudian bisa berbeda tingkat kehidupan masyarakatnya. Huntington membandingkan antara Ghana dan Korea Selatan.

Pada 1960-an kedua negara itu boleh dikatakan sama-sama negara miskin. Namun, 20 tahun setelah itu, Ghana tetap negara miskin, sementara Korea berubah menjadi negara maju dan menjadi anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).

Menurut Huntington, Korea bisa menjadi bangsa maju karena pemimpin negara itu mampu membangun kultur yang kuat. Dengan menanamkan disiplin yang keras, terbangunlah bangsa Korea yang memiliki etos kerja yang kuat. Dari etos kerja itulah kemudian dihasilkan produk.

Bahkan dengan kreativitas mereka, produk itu mampu direproduksi menjadi barang yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Setelah itulah, baru bangsa Korea menikmati gaya hidup atau lifestyle.

Langkah yang hampir sama dilakukan bangsa Tiongkok sekarang. Bangsa yang baru mulai membangun mulai 1990 itu kini berubah menjadi kekuatan ekonomi nomor dua di dunia. Amerika Serikat pun harus menghadang produk-produk Tiongkok agar tidak menguasai pasar mereka.

Tentu kita pantas bertanya, Indonesia seperti apa yang sebenarnya hendak kita bangun? Apakah kita ingin menjadikan negara kita sejajar dengan bangsa-bangsa lain? Kalau kita ingin menjadi bangsa yang hebat, kita harus membangun manusia-manusia yang tangguh dan memiliki komitmen untuk tidak mau kalah dari bangsa lain.

Kita tidak pernah akan menjadi bangsa besar apabila sikapnya masih seperti sekarang. Kita mau hidup enak, mau sama dengan bangsa lain menikmati gaya hidup, tetapi tidak mau bekerja keras. Kita menginginkan gaji besar, tetapi mau bekerja dengan secukupnya saja.

Apalagi dengan sikap dari para pemimpin yang tidak pernah bisa bersaing dalam keharmonisan. Kita terus mengumbar perbedaan di antara kita, saling mencari kelemahan satu dengan yang lain, bukan mencari persamaan dan mendorong kekuatan yang dimiliki bangsa ini.

Perebutan kekuasaan di Indonesia sekadar untuk mencari kekuasaan itu sendiri. Bukan kekuasaan diperebutkan untuk menciptakan Indonesia yang lebih maju dan lebih makmur. Seharusnya perbedaan berakhir ketika rakyat sudah menentukan pilihan pemimpin mereka dan baru kita bersaing lagi secara terhormat lima tahun kemudian.

Kita memang tidak bisa sekadar mengeluh. Kita harus mau bersama-sama memperbaiki kultur yang tidak baik pada kita sebagai bangsa. Hanya dengan kemauan untuk memperbaiki diri dan bekerja keras, kita menjadi bangsa yang mampu membuat Indonesia menjadi hebat.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More