Evaluasi Mudik

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Sabtu, 23 Jun 2018, 05:10 WIB podium
Evaluasi Mudik

PENGELOLAAN mudik dan balik Lebaran 2018 pantas kita beri apresiasi. Secara keseluruhan mudik dan balik kali ini lebih baik daripada tahun lalu. Koordinasi antarinstansi yang lebih intensif dan keberanian untuk cepat mengambil keputusan menjadi kunci keberhasilan pengelolaan mudik dan balik tahun ini.

Kita pantas acungi jempol keputusan Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia Irjen Royke Lumowa untuk membuat tol menjadi satu arah, baik ketika warga hendak mudik atau kemudian ketika warga hendak balik. Diskresi untuk mengatur lalu lintas sepenuhnya berada di tangan polisi lalu lintas. Dengan pemantauan langsung di lapangan, keputusan bisa cepat diambil.

Semua ini tentunya tidak mengurangi keharusan kita untuk berani melakukan evaluasi. Masih banyak hal yang membutuhkan penyempurnaan. Dengan kemauan untuk melakukan koreksi, kita akan bisa belajar dan memperbaiki lagi pelayanan kepada masyarakat.

Kita harus ingat bahwa mudik dan balik berkaitan dengan Lebaran tidak hanya berlangsung sekali ini saja. Bagi kita, ini sudah menjadi bagian dari tradisi. Karena itulah, evaluasi perlu dilakukan sebab tahun depan kita akan menghadapi pekerjaan yang sama.

Tiga hal setidaknya bisa menjadi catatan untuk kita perbaiki bersama-sama. Faktor pertama yang menjadi penyebab kemacetan ialah perilaku dalam berkendaraan. Sering kali pengguna jalan tidak disiplin. Mereka yang berjalan lambat justru menggunakan lajur paling kanan sehingga mengganggu kecepatan.

Saat mudik dan balik kemarin kemacetan terutama terjadi pada tempat peristirahatan. Sering kali mereka yang hendak berbelok ke tempat peristirahatan tidak memedulikan kendaraan di belakang sehingga menutup banyak lajur jalan.

Faktor kedua ialah sistem pembayaran yang ada di pintu-pintu tol. Sistem yang dipakai tidak peka sehingga walaupun sudah tidak ada pembayaran secara tunai, tetap dibutuhkan waktu untuk memprosesnya. Bekerja sama dengan Bank Mandiri, PT Jasa Marga sebenarnya menjual on board unit (OBU) yang memungkinkan pembayaran dilakukan secara otomatis. Selain jumlahnya yang sangat minim, OBU sama sekali tidak efektif karena tidak cukup cepat untuk memproses pembayaran.

Kalau kita lihat kemacetan di tol, penyebab utamanya ialah antrean panjang pada saat pembayaran. Meski tahu sistem pembayaran tidak efektif, Jasa Marga tidak kunjung membenahinya. Pada zaman Dahlan Iskan menjadi Menteri BUMN, ia pernah meminta pintu gerbang pembayaran dibuka karena kemacetan yang diakibatkan sudah tidak masuk akal.

Faktor ketiga yang harus dibenahi ialah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keselamatan. Kasus terakhir di Danau Toba merupakan contoh betapa kita tidak terlalu memedulikan keselamatan. Meski tahu kapasitas kapal motor yang ditumpangi tidak mencukupi, orang tetap berjejal untuk naik.

Lebih ironis lagi, kemampuan kapal-kapal kita untuk menolong sesama yang mengalami kecelakaan juga sangat terbatas. Dari rekaman amatir kita bisa melihat korban yang terapung tidak bisa diselamatkan karena jumlah peralatan yang terbatas di kapal yang ada di dekatnya.

Perbaikan terhadap masalah ini sangat mendesak karena sebelumnya terjadi kapal karam di Sulawesi Selatan. Banyak korban berjatuhan karena kemampuan kita dalam penyelamatan korban ketika terjadi kecelakaan sangatlah rendah.

Kita tidak bisa hanya menyerahkan kepada takdir. Ada persoalan kualitas manusia yang harus kita perbaiki. Apalagi, kita sudah mencanangkan untuk menjadi bagian masyarakat dunia. Konsekuensinya kita harus meningkatkan kemampuan diri.

Paling utama ialah perbaikan pada masalah kedisiplinan. Kita harus menjadi orang yang tahu tanggung jawab pribadi, apalagi ketika berkaitan dengan keselamatan banyak orang. Kita harus lebih berhati-hati bertindak dan selalu memikirkan dampaknya terhadap orang lain.

Kita tidak perlu malu belajar kepada bangsa Tiongkok. Dulu mereka begitu terbelakang dan tidak memiliki disiplin. Mereka bisa meludah dengan seenaknya di mana-mana. Namun, sekarang mereka mampu melakukan transformasi dan melampaui kita yang sebenarnya sudah maju terlebih dulu.

Mengapa itu bisa terjadi? Karena mereka konsisten memperbaiki kualitas warga bangsanya. Mereka konsisten menanamkan disiplin. Hasilnya, setiap warga bangsa tahu tanggung jawab mereka dan paham bagaimana menjaga keselamatan jiwa masing-masing.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More