Tiga Silaturahim

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Jumat, 22 Jun 2018, 05:10 WIB podium
Tiga Silaturahim

BAGI saya mudik ke Banyumas kali ini terasa lebih spesial. Pertama, mencoba jalur baru yang disebut pansela (pantai selatan) Jawa. Kami sekeluarga tak memilih pantura (pantai utara) juga bukan jalinteng (jalur lintas tengah, ini istilah saya sendiri), yang karib dengan kemacetan.

Pansela baru dipromosikan pemerintah mudik tahun ini. Jalur yang sedikit lebih jauh jika dibandingkan pantura dan jalinteng, tetapi antikemacetan. Lebih dari itu ada bonus pemandanganalam nan menawan: pantai Samudra Hindia dan alam pegunungan Jawa selatan yang hijau-elok dan kadang berkelok.

Kedua, ada tiga silaturahim yang saya ikuti di kampung. Silaturahim pertama dihelat keluarga besar ibu saya, dengan jumlah peserta sekitar 350 orang yang datang dari berbagai kota dan provinsi. Kali ini telah dibuat silsilah lengkap seluruh anak-beranak dari kakek ibu saya dengan sistem penomoran, yang menunjukkan anak siapa dan generasi ke berapa.

Silaturahim kedua, teman SMP satu angkatan. Acara 'reuni dan silaturahim' itu diikuti sekitar 80 orang, termasuk 10 orang guru di masa kami bersekolah. Kepala sekolah kami kini berusia 82 tahun dan guru lain sekitar berusia 70-an tahun. Ada guru yang datang dengan kursi roda karena stroke, tetapi sangat antusias mengikuti acara. Beberapa guru menitikkan air mata karena rasa haru yang tak tertahankan.

Ketiga, silaturahim lingkup rukun tetangga di lingkungan rumah. Di tahun politik ini, Ketua RT kami ketika memberi sambutan setelah meminta maaf kepada warga atas beberapa pelayanan yang kurang berkenan, juga meminta warga menjaga suhu politik dalam pilkada serentak 27 Juni pekan depan. Warga diminta menghormati pilihan masing-masing dan tetap bersatu.

Ada 171 pilkada serentak 27 Juni 2018, rinciannya 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Di Banyumas, Jawa Tengah, diikuti dua pasang calon, yakni Achmad Husain-Sadewo Tri Lastiono dan Mardjoko-Irfan Haryanto. Pemilihan Gubernur Jawa Tengah juga diikuti dua pasang calon, Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen dan Sudirman Said-Ida Fauziyah. "Meski berbeda suara, marilah kita hormati pilihan masing-masing."

Sambutan itu normatif belaka, tapi jadi penuh arti mengingat Pilkada Jakarta 2017 menorehkan contoh buruk dengan mengeksploitasi politik identitas yang amat membelah masyarakat. Kita percaya Jawa Tengah berbeda dengan DKI Jakarta, ada kedewasaan dalam demokrasi yang tengah bertumbuh. Memang kadang ada kekhawatiran meski sedikit, meniru memainkan politik identitas.

Di ketiga silaturahim itu, secara kebetulan saya juga diminta bicara. Dalam silaturahim keluarga, saya diminta ibu saya yang karena usia sepuh bicaranya sudah terbata-bata, melengkapi beberapa hal yang tertinggal. Saya tahu di grup WA keluarga juga terbelah, yang kira-kira 'diturunkan' dari Pemilihan Presiden 2014 dan Pilkada Jakarta 2017. Namun, ketika bertemu langsung, semua memamancarkan ekspresi kekeluargaan. Ini bagus.

Di lingkungan RT, saya diperkenalkan sebagai 'warga baru stok lama'. Saya juga menekankan jangan golput, dan kesadaran berpolitik itu penting supaya kita tak dibodohi elite. "Suatu saat di lingkungan RT ini juga harus ada yang maju dalam politik praktis. Jangan hanya menjadi penonton." Saya berupaya menyemangati. Saya juga bicara hal sederhana yang amat kurang disinggung para pemimpin formal ataupun agama, yakni soal kebersihan. Islam itu sangat menekankan kebersihan, tapi sampah menggunung di mana-mana. Umat Islam masih banyak yang membuang sampah sembarangan, kali yang berada di utara lingkungan kami pun kalau kemarau isinya penuh sampah.

Di silaturahim SMP, saya diminta untuk memberi kesan-pesan. Saya sapa satu per satu guru, termasuk saya sebutkan pelajaran yang dulu diampu. Guru agama misalnya, kerap mengingatkan pentingnya tabayyun (mencari kejelasan) supaya tak jadi fitnah dalam setiap perkara. Tabayyun, mencari kejelasan, itulah kerja jurnalistik, profesi yang saya geluti. Sayangnya kini banyak orang tak ber-tabayyun setiap menerima informasi, begitu saja disebarkan, terutama di media sosial.

Saya bilang sebelum saya melanjutkan SMA dan kuliah di Jakarta, saya mendapatkan banyak sekali bekal dari para guru yang penuh dedikasi. Secara jujur saya katakan tak ada guru yang tidak menarik dalam mengajar dulu. Kenapa saya suka menulis (dulu mengarang), karena ketika SMP tiap hari saya sudah membaca koran Jakarta langganan kepala sekolah, yang kebetulan masih bersaudara, juga karena guru bahasa Indonesia bisa mengajar dengan hidup: memotivasi dan memberi inspirasi bagaimana menulis. "Guru yang berhasil ialah guru yang mampu menggali potensi terbaik dari para muridnya."

Saya merasa happy dengan tiga silaturahim kali ini. Pastilah ada ribuan silaturahim dalam lingkup serupa itu di negeri ini saban susana Idul Fitri tiba. Silaturahim khas rakyat yang mudah dan umumnya penuh bahagia dan ketulusan. Para elite yang ulahnya kerap bikin gaduh, mestinya belajar dari rakyat, yang ringan kapan saja bertemu. Kalaupun ada kendala, biasanya soal penyesuaian waktu. Bukan soal hati. Parahnya kendala para elite untuk bersilaturahim justru karena terganjal hati yang mengeras.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy meminta sekolah untuk melakukan pengecekan surat keterangan tidak mampu (SKTM) dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB). Hal itu dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan SKTM agar diterima di sekolah negeri. Pasalnya, dalam Permendikbud 14/2018 tentang PPDB disebutkan kuota minimal untuk siswa tidak mampu sebanyak 20%. Apakah Anda setuju pihak sekolah harus melakukan pengecekan dan tidak langsung menerima begitu saja SKTM tanpa verifikasi ke lapangan?





Berita Populer

Read More