Reformasi Sana-Sini

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Selasa, 22 Mei 2018, 05:10 WIB podium
Reformasi Sana-Sini

MI/Ebet

REFORMASI juga revolusi punya postulatnya sendiri di setiap negeri, juga di sini.

Dua dekade lalu, reformasi di Indonesia mengakhiri tiga dekade Orde Baru yang sudah tampak usang.

Rezim ini tak hanya rungkuh sebab korupsi dan nepotisme yang menjadi-jadi.

Itu sebabnya, daya tahan negara jadi rapuh dan tak lekas pulih ketika krisis keuangan/ekonomi menerpa.

Konglomerasi yang ditumbuhkan ternyata meluruh.

Ia jadi beban. Kamis pagi, 21 Mei 20 tahun lalu, Presiden Soeharto dipaksa turun takhta setelah berhari-hari mahasiswa berdemonstrasi.

Namun, para pengusung reformasi memang tak menyiapkan 'cetak biru' sebagai pemandu jalan.

Refomasi bergerak serupa banteng matador keluar dari biliknya.

Para pendukung pemerintahan lama banyak yang bersalin rupa, sementara kaum reformis tak punya daya tahan yang tangguh.

Para penumpang gelap menyergap.

Reformasi jadi oleng jalannya.

Kini justru ada kerinduan tengah dibangkitkan sebuah era yang telah

ditumbangkan itu.

"Enak zamanku, to?" Sebuah pertanyaan olok-olok terhadap reformasi.

Hasil survei Indo Barometer terbaru mengafirmasi Soeharto pemimpin yang dinilai paling berhasil (32,9%), diikuti Bung Karno (21,3%) dan Joko Widodo (17,8%).

Jangan lupa Soeharto berkuasa 32 tahun, Bung Karno 20 tahun, dan Joko

Widodo baru 3,5 tahun.

Kita memulai reformasi lebih awal jika dibandingkan dengan Malaysia maupun Singapura.

Pers bebas, demokrasi ditopang dengan politik multipartai, dwifungsi ABRI dicabut, Timor Timur dilepas, dan Aceh yang bertahun-tahun berkonflik jadi berdamai.

Penduduk miskin juga jauh berkurang.

Namun, kesenjangan ekonomi kian melebar.

Angka survei itu juga harus dibaca bahwa Orde Reformasi harus terus

memperbaiki diri, elitenya harus terus meningkatkan kompetensi.

Jika tidak, reformasi akan terus menjadi olok-olok, dan hanya layak dikubur sebagai kenangan.

Bagi saya, reformasi dengan segala kekurangannya tetaplah pilihan terbaik dari berbagai pilihan yang ada.

Di Malaysia, politikus yang tengah bersinar, Anwar Ibrahim, mulai

meneriakkan reformasi ketika pada 1999 ia dijebloskan ke dalam penjara

oleh atasan dan mentornya, Mahathir Mohamad.

Namun, reformasi baru terjadi Mei ini, 20 tahun kemudian, ketika barisan oposisi memenangi pemilu 10 Mei yang lalu.

Yang berbeda, reformasi di negeri jiran baru tercapai setelah Mahathir Mohamad, yang pernah menjadi PM Malaysia selama 23 tahun, maju dan bersekutu dengan kubu Anwar.

Kini usia Mahathir 93 tahun dan Anwar 70 tahun, Nadjib Razak yang dikalahkan 64 tahun. Dua senior mengalahkan junior.

Anwar yang tengah dipenjara pun segera dibebaskan beberapa hari setelah

Mahathir dilantik sebagai perdana manteri.

Jabatan yang pernah ia sandang selama 22 tahun (1981-2003).

Anwar bebas setelah mendapat pengampunan dari Yang Dipertuan Agong Sultan Hamid V.

Mestinya ia bebas Juni bulan depan, tetapi kemudian dipercepat.

Nadjib yang hari itu hendak pergi ke Indonesia langsung dicekal. Rumahnya terus digeladah.

Korupsi selalu menjadi jalan menuju kuburnya sendiri.

Pemimpin yang loba.

Ia diduga terlibat megakorupsi lembaga milik negara 1MDB, yakni 1Malaysia Development Berhad, lembaga investasi Malaysia yang bercikal bakal dari Otoritas Investasi Terengganu yang berdiri 2008 untuk mengembangkan pemasukan minyak negara bagian itu.

Namun, Terengganu berubah pikiran. Pada 2009 Najib mengambil alih dan menjadikannya sebagai perusahaan milik Kementerian Keuangan Malaysia.

Ada bau korupsi dan nepotisme yang menyengat di situ.

Selain skandal 1MDB, Nadjib juga dituduh menerima suap hampir US$200 juta atau sekitar Rp1,8 triliun (Rp9.217 per dolar AS) dalam pembelian dua kapal selam Prancis ketika Nadjib menjabat menteri pertahanan.

Selain atas kasus suap, pengadilan Prancis juga menyelidiki kasus pembunuhan atas model asal Mongolia yang dibunuh pengawal PM Najib. Begitulah kalau kekuasaan sudah jatuh.

Segala soal dan skandal membuka jalannya sendiri.

Nadjib ialah anak Tun Abdul Razak Dato Hussein, Perdana Menteri kedua Malaysia.

Itu sebabnya, istri Anwar yang juga menjadi wakil perdana menteri dalam kabinet Mahathir meminta dalam penggeladahan polisi jangan berlaku lajak.

Ia meminta polisi menghormati Nadjib sebagai anak mantan pemimpin Malaysia yang disegani.

Kita sudah punya pengalaman dua dekade mengelola dempokrasi di negeri

yang teramat plural ini.

Tak salah Anwar Ibrahim memilih Indonesia sebagai negeri pertama yang dikunjunginya.

Ia memang tokoh yang mempunyai banyak sahabat di Indonesia.

Kali ini Anwar bertemu BJ Habibie, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua PBNU Said Agil Siroj, dan beberapa politikus.

Ia memang diundang untuk melihat 20 tahun reformasi Indonesia.

Malaysia dalam banyak hal belajar dari Indonesia: pendidikan, politik,

budaya (sastra khususnya), mengelola energi BBM (Petronas).

Anwar pun terus terang, ia memang belajar reformasi dari Indonsia.

Kita sendiri justru menyia-nyiakannya dengan permusuhan yang tak kunjung usai.

Ada yang menjadikan reformasi Malaysia menjadi inspirasi di sini.

Wacana bersekutunya kubu Yudhoyono-Prabowo dimaknai bisa memuluskan jalan itu.

Terasa aneh sebab mereka justru belajar reformasi dari kita.*

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak tujuh kampus ternama yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) terpapar radikalisme. Apakah Anda setuju mahasiswa dan dosen yang sudah terpapar paham radikalisme itu dipecat?





Berita Populer

Read More