Keluarga Penebar Bom

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Selasa, 15 Mei 2018, 05:10 WIB podium
Keluarga Penebar Bom

MI/Ebet

SAYA pandangi beberapa kali foto keluarga itu.

Keluarga yang tampak bahagia. Keluarga yang saya bayangkan sakinah, mawadah, dan warahmah.

Sepasang suami-istri, Dita Supriyanto-Puji Kuswati, dengan empat anak: dua putra dua putri.

Yang tertua berusia 18 tahun, lalu berikutnya 16 tahun, 12 tahun, dan yang termuda 9 tahun.

Saya bayangkan, menilik dua orangtuanya yang tampak terpelajar dan religius, anak-anak mereka pastilah dibekali dengan ilmu agama dan ilmu dunia secara seimbang. Saya bayangkan...

Namun, keluarga inilah diduga penebar bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (13/5) pagi itu.

Jika benar, mereka anak-anak yang berbakti pada orangtua, namun justru tersesat memilih jalan kekerasan.

Tiga gereja yang menjadi target bom ialah Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Malam harinya, bom meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya kantor Polrestabes Surabaya menjadi target pengeboman.

Sepanjang 25 jam itu serial aksi kekerasan mematikan 25 orang: 12 orang masyarakat sipil dan 13 orang mereka yang diduga teroris.

Jumlah yang luka lebih banyak lagi, di atas 40 orang.

Kita berduka untuk ke sekian kalinya karena aksi terorisme. Betapapun negara menjamin keamanan, ketakberdayaan publik itulah faktanya menghadapi aksi teror.

Rangkaian kekerasan di Surabaya dan Sidoarjo terjadi kurang dari sepekan setelah kekerasan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Kita pun jadi mafhum terorisme memang tengah kembali beraksi di negeri ini.

Aparat negara seperti ditampar mukanya. Dunia mengecam dan mengutuk.

Sejak awal reformasi (tahun 2000) demokrasi yang bertumbuh, terorisme menjadi noda yang menyertainya, hingga kini. Sudah tak terbilang kali aksi kekerasan terjadi.

Jakarta beberapa kali menjadi terget.

Bali dua kali menjadi lokus pengeboman, lebih dari 200 orang meninggal dunia dengan tiga bomber: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron.

Ketiganya telah dihukum mati.

Akan tetapi, tindak terorisme di Indonesia terus hidup.

Ada dua gembong teroris asal Malaysia, yakni Azhari dan Nurdin M Top yang bertahun-tahun menjadikan Indonesia sebagai 'medan laga'.

Keduanya juga telah mati ditembak polisi. Namun, sekali lagi, terorisme tak mati.

Era terorisme ala Jamaah Islamiyah dan Alqaeda yang dipimpin Osama bin Laden usai, muncul generasi teroris baru.

Mereka membentuk beragam kelompok seperti Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).

Aksi teror yang dilakukan Dita Supriyanto melibatkan istri dan anak-anaknya, baru pertama kali di negeri ini.

Juga bom di Kantor Polrestabes Surabaya, melibatkan dua anak.

Kita semua tercengang, tak percaya ada iman yang ditanamkan pada anak-anaknya sendiri bahwa kekerasan bisa menjadi jalan ke surga.

Dita pernah menulis di media sosial beberapa tahun lalu untuk keluarganya agar tabah menghadapi kehidupan.

Sebab, kesulitan di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan di negeri akhirat.

Kedekatan pada Sang Khalik itulah yang akan menjadi jalan yang memudahkan.

Menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Dita merupakan Ketua JAD Surabaya.

Adapun Ketua JAD dan JAT Indonesia ialah Aman Abdurrahman yang ditangkap Densus 88 dan kini tengah menghadapi persidangan.

Ada 1.100 orang Indonesia yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan Islamic State (IS), sekitar 500 orang di antaranya telah kembali ke Indonesia.

Namun, Polri tak bisa melakukan apa pun karena undan-undang tak memberinya wewenang, begitu kata Tito.

Menurut mantan pentolan Jamaah Islamiyah Ali Fauzi, sebenarnya selama ini Jawa Timur merupakan daerah reproduksi.

Banyak orang dari Jawa Timur yang direkrut kemudian melakukan aksi terorisme di luar daerah.

"Kenapa yang dulu Surabaya dikenal sebagai rahim, sekarang Surabaya menjadi medan perang kedua? Karena sejumlah daerah pertempuran sudah habis, mereka akan membuat medan baru," katanya.

Ia juga meminta masyarakat agar tak ciut nyali dengan aksi terorisme ini.

Ia mengajak seluruh masyarakat bersatu untuk melawan terorisme.

Menurutnya, terorisme ini merupakan kejahatan besar dan terorganisasi.

Ia pun menyesalkan jika ada yang menyebut aksi terorisme sebagai pengalihan isu, drama politik, konspirasi.

"Saya katakan, itu semua salah. Ada kelompok tertentu yang ingin membuat Indonesia ricuh," jelasnya.

Terorisme melibatkan keluarga, dan Dita berasal dari keluarga berada, kian komplekslah kejahatan terorisme di Indonesia.

Bahwa kini terorisme bukan semata karena kemiskinan.

Mereka beraksi di saat yang tepat, ketika masyarakat tengah terbelah dengan tajam karena politik dan agama dibawa serta.

Ketika media sosial dipenuhi ujaran kebencian, hasutan, dan fitnah. Selain Revisi Undang-undang Antiterorisme, menangkalnya butuh masyarakat yang bersatu untuk melawannya.

Bukan masyarakat yang terbelah.

Terlebih lagi ada elite yang memberi angin mendukung kejahatan kemanusiaan itu.

 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More