Turbulensi

Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group Pada: Sabtu, 05 Mei 2018, 05:30 WIB podium
Turbulensi

TIDAK ada perjalanan yang selalu mulus. Turbulensi selalu akan terjadi dan kita harus siap untuk bisa melewati goncangan yang terjadi setiap saat. Inilah yang sedang terjadi pada pasar uang dan pasar modal kita. Nilai tukar rupiah terus tertekan dan mendekati Rp14 ribu per dolar AS.

Indeks harga saham gabungan tergerus sehingga kembali berada pada posisi di bawah 6.000 setelah sempat melesat di atas 6.600. Turbulensi selama ini terjadi karena faktor dari luar. Manuver yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat negara-negara partner dagang tersentak dan akhirnya memilih jalan untuk melakukan negosiasi.

Perekonomian AS diuntungkan gebrakan Trump dan tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Pemulihan ekonomi AS membuat para pemilik modal ikut mengambil posisi. Mereka tidak mau terlambat untuk ikut menikmati perbaikan di negara ekonomi terbesar di dunia itu. Arus modal pun mengalir deras kembali ke 'Negeri Paman Sam' setelah Bank Sentral AS mengindikasikan menaikkan tingkat suku bunga acuannya.

Turbulensi itu mereda setelah rapat Dewan Gubernur Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Namun, di Indonesia tekanan masih terus berlanjut. Mengapa? Pernyataan Ketua Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso ternyata memantik spekulasi baru.

Ketua OJK secara mengejutkan mengatakan perbankan nasional masih bisa bertahan kalaupun rupiah terdepresiasi sampai Rp20 ribu per dolar AS. Semua orang kaget karena pernyataan itu hanya merupakan simulasi dari stress test terhadap kondisi perbankan nasional.

Stress test seharusnya hanya menjadi konsumsi internal bukan untuk dipublikasikan. Pasar seperti mencoba mengetes kebenaran pernyataan Ketua OJK itu. Kita berharap spekulasi ini tidak berlanjut. Terlalu mahal harga yang harus kita bayar apabila rupiah terus melemah.

Apalagi banyak komoditas kebutuhan masyarakat yang masih harus diimpor, seperti susu bayi yang masih harus kita datangkan dari luar negeri. Kalau harga susu bayi terlalu maha, itu akan memberatkan keluarga yang baru punya bayi.
Untuk itu, kita berharap semua pihak ikut menjaga keadaan.

Janganlah kita terlalu mudah mengeluarkan pernyataan yang bisa memberikan dampak negatif. Kalau keadaan menjadi tidak terkendali, yang merasakan akibatnya kita semua. Apalagi potensi untuk terjadinya turbulensi masih banyak. Dari luar negeri kita belum tahu kelanjutan isu nuklir Iran yang akan diputuskan Presiden Trump pada 12 Mei.

Dari dalam negeri selain isu pemilihan kepala daerah, kita menunggu pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal I yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS). Hal yang terakhir ini bisa menjadi amunisi baru untuk menyerang kebijakan pemerintah. Sekarang ini begitu kuat semangat untuk mengungkapkan kelemahan kita seakan tidak ada hal baik yang sudah kita lakukan dan pantas membuat kita lebih percaya diri menghadapi tantangan ke depan.

Kehidupan bangsa ini tidak pernah akan bisa lebih baik apabila kita selalu melihat diri kita ini buruk. Bahwa masih ada kekurangan, itu harus kita akui, tetapi tidak bisa pula kita mengatakan tidak ada hal yang sudah kita kerjakan. Kelemahan yang masih ada jangan hanya dieksploitasi sebagai kegagalan, tetapi juga secara bersama sama kita harus memperbaikinya.

Banyak hal yang masih perlu kita kerjakan untuk membuat perekonomian negara ini menjadi lebih baik. Semua itu tidak bisa hanya diselesaikan dengan cara mengeluh. Kita harus melakukan sesuatu untuk membuat kondisi ini menjadi lebih baik.

Sekali lagi sektor riil yang harus kita dorong untuk bergerak. Mulai sektor informal yang menyerap jutaan lapangan kerja sampai industri yang sudah menetapkan sistem 4.0. Kecepatannya harus kita pacu. Sekarang ini sektor riil terlalu lamban untuk menggerakkan perekonomian.

Kondisi ini membuat kehidupan masyarakat seperti terimpit. Pendapatan masyarakat cenderung tetap, sementara biaya kehidupan justru meningkat. Kita lihat bagaimana ibu-ibu rumah tangga mulai mengeluh mengelola keuangan keluarga karena harga-harga kebutuhan pokok yang terus naik.

Di tengah perjuangan berat yang dilakukan kebanyakan anggota masyarakat untuk bertahan hidup, pemerintah dianggap tidak memahami masyarakat ketika mereka dikejar-kejar pajak. Inilah yang membuat para pejabat harus lebih sering turun ke bawah untuk menangkap dinamika di tengah masyarakat.

Hanya dengan itulah akan bisa dikeluarkan kebijakan yang lebih tepat untuk membuat perekonomian negara ini melaju dengan lebih tenang tanpa banyak turbulensi.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More