Pertanyaan Ahyar

Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group Pada: Selasa, 27 Mar 2018, 05:10 WIB podium
Pertanyaan Ahyar

MI/Duta

"APAKAH Indonesia akan benar-benar bubar pada 2030 seperti kata Pak Prabowo? Bagaimana jika Pak Prabowo terpilih menjadi presiden pada Pilpres 2019, apakah ekonomi akan lebih baik? Apakah cerita masa silam Pak Prabowo yang kurang sedap tidak akan menghambat ia menuju kursi presiden?"

Itu sebagian kecil pertanyaan Ahyar, sopir taksi yang Sabtu pagi pekan silam membawa saya pulang seusai program Bedah Editorial Media Indonesia di Metro TV.

Ia penggemar TV berita, dan rupanya pernah membawa saya beberapa bulan lalu.

Itu sebabnya, ketika bertemu lagi, Ahyar mengajukan pertanyaan seperti tembakan mitraliur.

Saya menjawab dengan nada lambat yang kerap disela pertanyaan lain oleh lelaki berusia 54 tahun itu.

Apakah Indonesia akan bubar atau tidak, kata saya, tergantung kinerja pemerintah dan para politikus.

Pemerintah yang benar akan bekerja untuk rakyatnya dan politisi yang berkualitas akan memberi spirit dan memompakan omtimisme memandang ufuk masa depan pada rakyatnya.

Prabowo mengutip novel fiksi Ghost Fleet karya Peter Warren Singer dan August Cole dari Amerika Serikat.

Saya tunjukkan data bahwa indeks kerapuhan negara yang dikeluarkan lembaga nonpemerintah di Washington DC, AS, Fund for Peace, Indonesia berada di angka 94.

Ini artinya posisi negeri kita masih lebih baik jika dibandingkan dengan Tiongkok (85), Thailand (82), dan India (72), meskipun memang masih di bawah Malaysia (116), Brunei (122), dan Singapura (161).

Itu sebabnya banyak yang menyesalkan ucapan Prabowo.

Ada yang menyabut itulah yang disebut fenomena posttruth, mengutamakan opini berlebih ketimbang fakta yang suci.

Soal Prabowo menjadi presiden, demokrasi memang memberi tempat kepada siapa pun untuk menjadi presiden sepanjang memenuhi syarat dan menempuh prosedur yang benar.

Apakah Indonesia akan lebih baik atau sebaliknya, mestinya Indonesia akan lebih baik.

Bukankah Gerindra singkatan dari Gerakan Indonesia Raya?

Bukankah di bawah partai ini Prabowo hendak membawa Indonesia menjadi 'macan Asia' seperti bunyi iklannya di waktu yang lalu?

Soal cerita masa silam Prabowo yang tak sedap, saya menjawabnya, kita bersyukur Prabowo pulang dari luar negeri setelah reformasi 1998 dan mendirikan partai politik sebab infrastruktur terpenting membangun demokrasi ialah partai politik.

Tanpa partai politik kita tak bisa menghasilkan pemerintahan.

Bagus Prabowo ingin berkuasa dengan cara yang benar, jalur politik.

Tentang masa silam Prabowo, berdasarkan buku BJ Habibie, Detik-Detik yang Menentukan (2010) dan buku Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), memang dalam sejarah militer Indonesia agaknya Prabowo tentara paling berani dan bahkan nekat.

Pastilah karena pertama ia menantu Presiden Soeharto waktu itu.

Bayangkan, Maret 1983, ketika ia berpangkat kapten sebagai Wakil Komandan Detasemen 81/Antiteror Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) yang bermarkas di Cijantung, Prabowo berencana menculik beberapa jenderal.

'Menurut Kasi 2/Ops, di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil atas perintah Prabowo ialah Letjen TNI Benny Moerdany, Letjen TNI Soedharmono, Marsdya TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono', tulis Sintong dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009).

Kepada Mayor Luhut Panjaitan, atasannya, Prabowo pernah mengajak untuk mendukung mengamankan Benny karena akan melakukan coup de etat terhadap Soeharto.

"Bang, nasib negara ini ditentukan seorang kapten dan seorang mayor," kata Prabowo kepada Luhut.

Kata-kata itu, menurut Sintong Panjaitan, jika dijabarkan, Prabowo akan menjadi pemeran utama dalam mengamankan para jenderal itu dan Luhut sebagai pendukung.

Kapten Prabowo juga berani memarahi dan menunjuk-nunjuk Wakil Komandan Jenderal Kopassandha Brigjen TNI Jasmin, yang ketika ia melapor tentang rencana makar Benny, Jasmin tak percaya.

Luhut Panjaitan pun berkesimpulan Prabowo mengalami stres berat.

Ia pun kemudian menghadap Soemitro Djojohadikoesooemo, ayah Prabowo, bahwa putranya akan diberi cuti dua minggu.

Dengan kasus Maret 1983, rencana penculikan terhadap para jenderal seperti ditulis Sintong tak aneh jika pada saat kemudian ketika menjabat Danjen Kopassus, demi mengamankan Soeharto pula, Prabowo terlibat penculikan para aktivis.

Tak aneh pula jika kemudian ketika jabatannya dicopot sebagai Pangkostrad--karena menurut laporan Panglima TNI Wiranto kepada Presiden BJ Habibie, pasukan Prabowo bisa mengancam Presiden--Prabowo nekat menemui Habibie dan dengan nada marah mengatakan Habibie presiden naif.

'Semua penempatan dan pengarahan pasukan untuk mengamankan semua objek vital, terutama keselamatan presiden dan wakil presiden. Saya justru sedih dengan munculnya persepsi bahwa saya mengancam keselamatan Presiden BJ Habibie', tulisan Prabowo dalam buku yang ditulis Fadli Zon, Politik Huru Hara Mei (1998).

"Saya ingin Indonesia terus berjaya, siapa pun presidennya, Pak." Begitu komentar Ahyar. "Saya tetap optimistis Indonesia akan terus bertahan dan kian kuat," katanya lagi.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

WAKIL Ketua DPR Fahri Hamzah memastikan tak mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilu 2019. Dia mengaku ingin fokus membenahi PKS yang menurutnya sedang berada di titik nadir lantaran banyak memecat kader tanpa prosedur. Apa Anda setuju dengan sikap Fahri ini?





Berita Populer

Read More