Podium

Penghargaan untuk Orang Bodoh

Jum'at, 19 May 2017 06:01 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group

TENGGELAMKAN!

Kata imperatif ini menjadi 'milik' Menteri Susi Pudjiastuti.

Ia amat populer, seperti punya tuah. Kata ini pun kerap 'dipinjam' siapa saja, para pembuat meme khususnya, untuk memberi penekanan 'menghajar' siapa saja yang bersalah.

Para durjana pastilah yang menjadi sasaran utama.

Menenggelamkan kapal asing pencuri ikan di lautan Indonesia memang jadi 'hobi' menteri kelautan dan perikanan kabinet Jokowi itu.

Tak ada kompromi.

Karena itu, meradanglah mereka yang merasa dirugikan.

Mereka mengkritik Susi sebagai orang bodoh sebab hanya bisa menenggelamkan kapal.

Kritik sebagai orang bodoh di dalam negeri itulah yang diungkapkan Susi di Smithsonian, Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (11/5) pekan silam.

Hari itu Susi mendapat penghargaan prestisius, Peter Benchley Ocean Awards, kategori kepemimpinan.

Penghargaan maritim tertinggi di dunia itu merupakan pengakuan atas pembuat kebijakan publik dan prestasi yang dicapai serta pengakuan masyarakat.

'Orang bodoh' itu pun jadi bintang.

Padahal, menurut Susi, menjadi orang bodoh saja tak cukup untuk bisa menggerakkan TNI-AL meledakkan kapal pencuri ikan.

Kata Susi, orang bodoh itu harus jadi menteri dulu supaya bisa meledakkan kapal.

"Anda telah menenggelamkan kapal dengan jumlah yang bahkan jauh lebih banyak daripada US Navy (Angkatan Laut AS)," puji senator AS Sheldon Whitehouse.

Sejak menjadi menteri pada Oktober 2014, sedikitnya 380 kapal yang terbukti mencuri ikan ditenggelamkan.

Lewat Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 2 Tahun 2015, ia larang alat penangkap ikan pukat hela (trawl) dan pukat tarik (seinen nets).

Para pengguna cantrang pun protes keras. Bahkan, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar meminta peraturan menteri Susi dicabut, dievaluasi.

Namun, menteri yang hanya berijazah SMP itu pantang mundur.

Ia minta politikus jangan mencampuri kebijakannya agar laut tak makin keruh.

"Saya yakin bahwa apa yang kita lakukan sudah benar. Apalagi secara parameter ekonomi juga sangat luar biasa. Jadi, perang melawan illegal fishing adalah perang yang menguntungkan. Tak ada perang yang menguntungkan selain perang melawan illegal fishing," kata Susi.

Ikan memang menjadi melimpah, lautan jadi bersih, dan industri kapal dalam negeri jadi menggeliat.

Susi pun berterus terang, dalam mengonservasi laut, pihaknya perlu bantuan semua pihak, termasuk dari Amerika Serikat.

Namun, ia tak bisa menjanjikan keistimewaan terhadap kapal-kapal AS.

Artinya, kalau kapal-kapal 'Negeri Paman Sam' melanggar perairan Indonesia, ia tak segan menenggelamkannya! Hadirin pun riuh tanda setuju.

Pada 16 September 2016, Susi juga diganjar penghargaan Leaders for a Living Planet dari World Wildlife Fund (WWF) yang bermarkas di Washington DC.

Susi dipuji sebagai sosok hebat yang langka dalam melestarikan lingkungan.

Langkah Susi perlu kita dukung, bukan semata karena ia mendapat penghargaan internasional, melainkan karena memang nyata dalam menyelamatkan laut, menyelamatkan lingkungan.

Laut yang bertahun-tahun dibiarkan dijarah.

Hukum pun kerap rapuh menghadapinya.

Di negara yang para penjahatnya berkelindan dengan penguasa, hukum akan jadi mainan.

Betul kata Albert Camus, "Hari ini kejahatan diadili, hari ini pula ia mendikte hukum."

Kita makin yakin, menjadi pejabat di negeri ini butuh orang-orang tak biasa.

Beruntunglah kita punya 'orang bodoh' bernyali tinggi seperti Susi.

Komentar