Podium

Jalur Sutra Modern

Selasa, 16 May 2017 05:05 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

TIONGKOK kini bagai ‘Raja Midas’ abad ke-21. Ia menjadi negeri paling percaya diri menjadi penguasa dunia. Ketika Amerika Serikat dan Eropa tengah digoyang bangkitnya populisme, seperti juga Indonesia yang tengah diterpa politik identitas, Tiongkok bagai rajawali terbang tinggi. Negeri yang di Indonesia tengah digunjingkan sebagai ancaman ras kuning, tapi siapa yang bisa membendung agresivitas investasinya? Sistem kepartaian monolitik yang dikritik banyak negara demokratis nyatanya menjadi modal kestabilan dalam membangun.

Sejarah lama pun bukan sekadar nostalgia. Jalur sutra bukan hanya menjadi ingatan peristiwa menakjubkan abad ke-3 SM di masa Dinasti Han. Dinasti yang membuka jalur perdagangan Tiongkok-Timur Tengah dan Eropa. Jejak sejarah yang puluhan abad hanya menjadi pembicaraan kini tengah benar-benar dihidupkan. Sejarah mestinya memang menjadi sumber inspirasi bangsanya. Sementara itu, Indonesia justru tengah sibuk berebut masa lalunya.

Presiden Xi Jinping-lah motor penggeraknya. Sejak dilantik pada 2013, ia memantapkan langkahnya menghidupkan jalur sutra kuno menjadi jalur sutra modern. Seperti juga poros maritim dunia yang diperkenalkan Joko Widodo di Indonesia, yang diambil dari spirit kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Namun, proyek hebat ini belum terlalu jelas implementasinya. Poros maritim sesungguhnya diinisiasi Bung Karno.

“Untuk menjadi bangsa yang kuat dan sejahtera, kita harus menjadi bangsa bahari.”
Untuk mewujudkan mimpinya, Tiongkok baru saja menggelar Road Forum for International Cooperation di Beijing (14-15 Mei). Ada 50 negara, 29 kepala negara, termasuk Presiden Jokowi, hadir. Acara ini digelar untuk mendukung jalur sutra modern dengan semboyan ‘One belt one road’. Tentu saja jalur sutra modern ini akan melintasi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Benar kata senior economist United Overseas Bank Limited, Suan Teck Kin, Tiongkok teramat aktif mencari konektivitas dengan seluruh dunia.

Negeri itu akan menggelontorkan dana US$124 miliar (sekitar Rp1.645 triliun) untuk membiayai jalur sutra modern. Bayangkan, negeri itu akan terkoneksi dengan Afrika, Asia, dan Eropa melalui pelabuhan laut, jalur perkeretapian, jalur udara, dan jalur darat. Proyek ini akan mencakup 60 negara mewakili 60% penduduk dunia, 40% PDB global, dan 75% sumber daya energi dunia.

China Development Bank akan pula mengalokasikan lebih dari Rp1.000 triliun untuk berbagai proyek. Tiongkok telah merangkul Malaysia untuk membangun pelabuhan di Malaka. Bahkan, kini tengah membujuk Singapura, sangat mungkin Indonesia, untuk membangun proyek serupa. Kini Tiongkok tengah membangun pelabuhan di Pakistan, Sri Lanka, dan bandara di Nepal.

Menurut Asian Development Bank, untuk membangun infrastruktur kawasan Asia saja hingga 2020 membutuhkan dana US$8 triliun. Dalam segi investasi Tiongkok tentu akan menjadi negara paling seksi. Itu sebabnya, Indonesia yang berpenduduk separuh dari populasi Asia Tenggara harus memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin. Presiden Jokowi telah empat kali bertemu Presiden Xi Jinping untuk membahas berbagai kerja sama ekonomi. Jalur kereta api cepat Jakarta-Bandung itulah salah satu hasilnya.

Pada Maret 2017, Bank Rakyat Tiongkok mengumumkan cadangan devisa Tiongkok naik US$6,9 miliar menjadi US$3,1 triliun. Ini jauh mengungguli negeri mana pun. Jepang berada di peringkat dua dengan nilai US$1,25 triliun. Tiongkok juga baru saja meluncurkan kereta barang pertama ke London, ibu kota Inggris. Setelah di banyak negeri kebanjiran produk Tiongkok, Inggris tak terkecuali. Belasan kota di Eropa sudah terlebih dahulu dilayani kereta barang dari Tiongkok.

Di Afrika, Tiongkok juga dijuluki tuan ‘Benua Hitam’. Investasi di bidang infrastruktur jalan, pengadaan air bersih, listrik, hingga sektor kebutuhan dasar. Ini yang tidak terpikirkan oleh negara mana pun, termasuk Amerika Serikat. Wajar jika Amerika menjadi amat jengkel. Namun, bisnis bukan soal kemarahan, melainkan soal memanfaatkan kesempatan.

Rencana Tiongkok menguasai perekonomian dunia bukanlah jatuh dari langit. Sebelumnya Tiongkok telah pula menyiapkan lembaga tandingan Bank Dunia, yaitu Asian Infrastructure Investment Bank (Bank Investasi Infrastruktur Asia). Jalur sutra modern sesungguhnya serupa ikrar untuk kian memantapkan. Segala sesuatunya telah lama disiapkan, termasuk pembiayaan. Keras pada korupsi juga salah satu persiapan penting. Jalur sutra baru memang bukan simsalabim. Bukan nostalgia.

Komentar