Podium

Promosi

Jum'at, 12 May 2017 05:31 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

PALU hakim rupanya bukanlah akhir sebuah perkara, sebuah sengketa. Ada yang salah kira, juga banyak yang salah duga. Hakim bukan malaikat, tapi pasti bukan penjahat. Ia wakil Tuhan di muka bumi. Namun, kenapa kali ini ketukan palunya tak tepercaya? Vonis dua tahun masuk bui pada Basuki Tjahaja Purnama justru menuai gelombang simpati yang luas dan tak berhenti.

Ada yang menyebut lazim vonis hakim yang bertentangan dengan tuntutan jaksa yang hanya menuntut 1 tahun penjara dengan dua tahun percobaan. Itu pun bukan pasal penodaan agama. Namun, tak sedikit yang bilang sebaliknya. Vonis dinilai belum berkekuatan hukum tetap karena Ahok menyatakan banding. Pengacara senior Todung Mulya Lubis menyebutnya sebagai overkill.

Karena bukan jaksa yang menyeret Ahok bersalah, melainkan hakim. Hakim seperti menyiapkan skenarionya sendiri. Ahok yang disiplin mengikuti sidang, menerima dengan perwira vonis itu. Ia melakukan upaya yudisial: banding. Namun, para pendukungnya menilai Ahok yang punya banyak kebajikan publik diperlakukan tidak adil. Ahok dinilai sosok yang konsisten meneguhkan kesetaraan, demokrasi, menjaga Pancasila, dan kebinekaan.

Para seterunya justru menilai penoda agama harus dihukum berat. Bahkan, ada selamatan rasa syukur karena penoda agama masuk bui. Sejak Ahok-Djarot kalah pilkada, para pendukung mereka mengirim ribuan karangan bunga. Ribuan balon dua warna: merah putih juga menghiasi Balai Kota. Namun, ketika ternyata Ahok dipenjara di LP Cipinang, massa pun bergerak ke sana. Hingga larut.

Mereka minta Ahok dibebaskan. Mereka terus mengikuti ke mana Ahok berada, termasuk ke Mako Brimob. Ahok memang pemimpin yang mampu melahirkan para pendukung fanatik. Ia amat dicintai. Air mata pun tumpah dari banyak mata. Lilin solidaritas dinyalakan di banyak kota: Jakarta, Yogya, Manado, Mataram, Batam, Jayapura.... Doa dilafalkan dari iman banyak agama.

Ahok telah ditabalkan sebagai representasi Indonesia yang plural. Mereka memosisikan Ahok sebagai penjaga Pancasila dan kebinekaan. Lagu-lagu nasional pun menggema di setiap 'aksi lilin'. Mereka membandingkan dengan seteru utama Ahok: Rizieq Shihab, yang menjadi motor aksi berkali-kali yang minta Ahok dipenjara seberat-beratnya. Namun, Rizieq justru seperti menghindari panggilan polisi untuk diperiksa sebagai tersangka atas macam-macam perkara.

Prasangka kian merebak. Terlebih tiga hakim yang mengadili Ahok mendapat promosi. Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjadi hakim tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar. Jupriyadi menjadi Ketua Pengadilan Negeri Bandung. Abdul Rosyad menjadi hakim tinggi Palu. Mutasi atau promosi sesungguhnya hal biasa bagi para hakim. Seperti Albertina Ho, hakim bersih yang dipromosikan sebagai Wakil Ketua PN Palembang setelah menyidangkan korupsi pegawai pajak Gayus Tambunan.
: :
MA menilai memenjarakan Ahok sebagai sebuah prestasi? Prasangka memang telah melekat sejak awal kasus Ahok muncul. Gelombang aksi yang bertubi-tubi, juga karena syakwasangka yang tinggi. Prasangka bahwa Ahok akan dlilindungi. Nyatanya ia kalah dalam pilkada Jakarta dan dipenjara karena penodaan agama. Ia pun menjadi tersangka karena tekanan aksi massa.

Bahkan, menjelang vonis pun para lawan Ahok masih mendatangi MA minta ia dipenjara. Namun, penjara justru menjadi pupuk yang subur Ahok menarik simpati. Tak hanya di Jakarta, tapi juga di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. Betul kata politikus Gede Pasek Suardika, Ahok telah bermetamorfosis dari seorang terpidana menjadi simbol perjuangan spirit kebinekaan, kedamaian, dan keadilan.

"Sebuah nilai hakiki semua umat manusia." Sudah pasti para musuh Ahok berkeberatan. Namun, siapa yang bisa membendung gelombang simpati dari mereka yang memosisikan diri tersakiti? Keterbelahan ini tak mudah untuk mencari titik temu agar kembali bersatu. Kecuali ada upaya rekonsiliasi tingkat tinggi. Ini harus menjadi masukan bagi Pengadilan Tinggi Jakarta yang akan memproses banding Ahok.

Aksi ekstra yudisial dari para pendukung Ahok agaknya juga akan sulit dihindari. Prasangka pada akhirnya melahirkan prasangka baru. Mungkinkah ada promosi lagi untuk mereka yang memvonis Ahok di pengadilan tinggi?

Komentar