Podium

Setelah Pesta Usai

Jum'at, 21 April 2017 05:31 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

PESTA politik Jakarta telah usai. Pilkada paling panas dan paling membelah publik ini berakhir damai. Yang kalah mengucapkan selamat kepada yang menang. Yang menang mendatangi yang kalah di Balai Kota. Ada ketulusan dari yang kalah untuk membantu yang menang. Anies pun memuji Ahok dan Djarot sebagai tokoh terbaik bangsa. Ia meminta seluruh warga Jakarta bersatu.

Kedua pasangan telah pula mengatakan dalam konteks teologis yang sama bahwa kemenangan dan kekalahan ialah soal kehendak sang Ilahi. Tak ada seorang pun bisa melawan takdir-Nya. Kemenangan dan kekalahan itu memang masih mengacu hasil hitung cepat beberapa lembaga survei. Ahok-Djarot memperoleh 42% suara, Anies-Sandi 58% suara. Banyak pihak mengapresiasi bahwa Jakarta telah menunjukkan kematangan berdemokrasi, bahwa suasana seolah mengarah pada zero-sum game tetapi tak terbukti.

Aparat TNI dan Polri yang turut menjaga 7,2 juta pemilih yang tersebar di 13.008 TPS juga memberikan rasa aman. Pertanyaannya, bagaimana jika angka 42% untuk Anies-Sandi dan 58% untuk Ahok-Djarot? Ada kemungkinan kian jadi ‘ramai’. Terlebih lagi beberapa hari sebelum pemilihan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto membuat warning hanya kecurangan luar biasa yang bisa mengalahkan paslonnya. Dasarnya ialah beberapa lembaga survei yang mengunggulkan Anies-Sandi.

Bukankah pada Pilkada Jakarta 2012 lembaga-lembaga survei juga memenangkan Fauzi Bowo? Bahkan Rizieq Shihab dalam ceramahnya di Surabaya meminta warga yang punya nyali datang untuk merebut Jakarta dengan terlebih dahulu membuat surat wasiat. Sebuah provokasi khas Rizieq. Prabowo pun secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada Rizieq, yang disebut sebagai pemberani.

Rizieq memang paling depan melawan Ahok dengan beberapa demonstrasi besar berlabel Bela Islam. Tuntutan agar Ahok ditahan dan dipenjarakan. Namun, tujuan akhir ialah menggoyang Presiden Joko Widodo. Siapa pun yang menang dalam kontestasi demokrasi mesti kita hormati. Namun, penggunaan agama sebagai alat politik akan menjadi inspirasi di banyak daerah. Penggunaan masjid sebagai tempat ‘kampanye’ politik, seperti disarankan Eep Saefulloh Fatah, akan meningkat.

Saya percaya Anies akan terus merajut kebangsaan seperti ia kerap katakan. Saya percaya Sandiaga Uno akan mengawal pluralitas. Namun, jujur saya cemas melihat aliansi di belakang dua tokoh muda ini: Cendana, FPI, HTI, Harry Tanoe, dan purnawirawan TNI Orde Baru. Investigasi wartawan Amerika Allan Nairn tentang aliansi berbagai kekuatan di belakang Anies-Sandi bisa jadi memang terbukti.

Kita tahu di kubu Anies-Sandi ada Ri­zieq Shihab dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Rizieq ialah tersangka kasus penodaan Pancasila, sedangkan Zulkifli Hasan ialah Ketua MPR yang gencar menyosialisasikan empat pilar kebangsaan, salah satunya Pancasila. Inilah kepentingan. Karena itu, seraya menaburkan harapan atas kemenangan Anies-Sandi, berharap mereka menepis kekhawatiran saya tentang memudarnya tenun kebangsaan. Pernyataan yang justru kerap disuarakan Anies sendiri.

Komentar