Podium

Muda Kreatif

Rabu, 15 March 2017 05:31 WIB Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

PEKAN lalu Bank Mandiri mengumumkan pemenang Wirausaha Muda Mandiri. Ini pergelaran ke-10 yang secara berturut-turut diselenggarakan bank milik badan usaha milik negara. Tahun ini ada 22 pemenang dari 10 kategori yang dikompetisikan. Kita menghargai konsistensi dari Bank Mandiri untuk mendorong lahirnya wira-usaha baru. Tidak mungkin negara bisa maju tanpa ditopang wirausaha yang mencukupi. Di negara yang perekonomiannya maju, minimal ada 7% penduduk yang menjadi pengusaha.

Untuk mendorong lahirnya wirausaha, yang dibutuhkan ialah kesempatan. Negara harus hadir untuk melahirkan para wirausaha itu. Keberpihakan negara bahkan harus diikuti dengan tindakan nyata. Pada awal kemerdekaan, Bung Karno bahkan menerapkan Program Benteng untuk mendorong lahirnya wirausaha Memang langkah keberpihakan itu kadang menimbulkan moral hazard. Pada zaman Orde Baru melahirkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Namun, kita tentu tidak perlu antipati kepada keberpihakan. Kekurangan yang ada pada sistem yang lama kita perbaiki saja. Keberpihakan itu kita terapkan secara kompetitif untuk menciptakan efisiensi dan melahirkan wirausaha yang lebih tangguh serta berkualitas.

Sebagai salah seorang juri, saya bangga kepada anak-anak muda sekarang ini. Contohnya di kelompok program usaha sosial, kita melihat anak-anak yang tidak memiliki naluri bisnis yang tajam, tetapi mempunyai kepedulian sosial yang tinggi.

Andi Hilmy Muttawakil, misalnya. Ia membangun pabrik biodiesel dengan memanfaatkan minyak jelantah yang selama ini terbuang. Persoalannya, minyak jelantah itu tersebar di banyak tempat, mulai rumah tangga, restoran, hingga industri. Andi dan kawan-kawannya cerdas untuk memanfaatkan preman agar beralih ke pekerjaan yang lebih produktif. Ia menampung minyak jelantah yang dikumpulkan para preman dengan margin yang menguntungkan.

Yang lebih menakjubkan, Andi dan kawan-kawannya membangun pabrik pengolahan minyak jelantah dengan modal sendiri. Modal Rp300 juta didapatkan dari menggadaikan motor, mobil, dan bahkan rumah dari semua yang ingin ikut membangun bisnis ini. Tidak sampai dua tahun, ia bisa mengambil kembali harta mereka yang digadaikan itu.

Bisnis yang dikembangkan Andi mendapat respons dari Wali Kota Makassar Mohammad Ramadhan Pomanto karena produk yang dihasilkan membantu nelayan untuk mendapatkan solar yang lebih murah. Biodiesel yang dihasilkan bisa dicampur dengan solar untuk menekan harga.

Ide kreatif lain dilakukan pemuda asal Surabaya, Juni Kuswanto. Ia tidak melihat sampah sebagai masalah, tetapi justru menjadi berkah. Ketika sampah organik dan anorganik bisa dipisahkan sejak awal, bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampah organik bisa diubah menjadi makanan ternak atau ikan, sedangkan sampah anorganik bisa diubah menjadi barang seperti tas.

Juni sekarang sedang menyiapkan aplikasi untuk transaksi sampah. Kelak setiap rumah tangga bisa menghubungi dirinya apabila ada sampah yang sudah dipisahkan untuk diambil. Rumah tangga itu bisa mendapatkan imbalan dari volume sampah yang disetorkan.

Kita mengharapkan lebih banyak lahir pengusaha yang tangguh dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Itulah yang akan menjadi kekuatan kita untuk bisa mendorong pertumbuhan, tetapi sekaligus memberikan pemerataan. Kesenjangan yang terjadi sekarang ini disebabkan banyaknya pengusaha yang hanya menjadi business animal. Mereka berhasil mengembangkan bisnisnya, tetapi tidak peduli dengan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Bahkan, bisnis mikro dan kecil pun dirambah sehingga tidak ada ruang bagi pengusaha kecil untuk bisa berkembang.

Sekarang ini perusahaan tidak cukup menjalankan corporate social responsibility. Terutama pengusaha dituntut menerapkan creating shared value. Nilai-nilai yang baik dari perusahaan dibagikan agar semua bisa menjadi perusahaan yang baik dan kemudian menularkan lagi kepada perusahaan yang lain. Mahatma Gandhi mengingatkan, dunia ini akan mampu memberi makan bagi semua mahkluk hidup yang ada, ke-cuali ada satu di antara kita yang rakus. Semoga kita bukan termasuk golongan yang rakus itu.

Komentar