Podium

Menghidupkan Adinegoro

Selasa, 13 February 2018 05:31 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

TAHUN ini Adinegoro seperti dihidupkan kembali. Ia tak sekadar nama yang disematkan pada karya jurnalistik terbaik, tapi kita diingatkan akan perjuangan tokoh pers yang gigih ini. Ia memilih jurnalistik dan kesusastraan artinya ia memilih risiko hidup tak nyaman. Ia tinggalkan STOVIA, sekolah calon dokter, yang bergengsi tinggi dan bermasa depan pasti. Ia tinggalkan Batavia untuk belajar jurnalistik ke Jerman.

Padahal, menjadi wartawan masa itu berarti mesti berani menghadapi polisi Hindia Belanda dan hidup miskin. Namun, baginya pers akan membuka cakrawala berpikir masyarakat. Ia vitamin yang menguatkan. Ia membayangkan sebuah masyarakat tanpa pers, tanpa kesusastraan, pastilah amat terbelakang.

Pada Hari Pers Nasional, yang tahun ini puncak acaranya digelar di Danau Chimpago, kawasan Pantai Padang, Sumatra Barat, Presiden Joko Widodo seperti ingin mengingatkan bahwa Adinegoro tak sekadar nama pada epitaf di pusara. Spiritnya penting dihidupkan kembali justru ketika pers kini menghadapi 'guncangan hebat' karena hadirnya media sosial.

Sebelum acara puncak, Jokowi secara khusus mengunjungi rumah tempat Adinegoro dilahirkan di Nagari Talawi Mudik, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. Mohammad Yamin, salah seorang perumus konstitusi kita, juga lahir di desa itu. Ia memang saudara tua Adinegoro. Jokowi menyerahkan sertifikat tanah seluas 2,4 hektare kepada keluarga Adinegoro untuk pembangunan Museum Adinegoro.

Menurut Jokowi, kini ada kecenderungan masyarakat meninggalkan kesusastraan. Karena itu, baik sisi penulisan dan jurnalisme penting mengingat kembali Adinegoro dengan tulisan-tulisannya yang berkedalaman dan mencerahkan. "Saya ingat tulisan-tulisan (sastra) beliau, Darah Muda, Asmara Jaya, kemudian Melawat ke Barat, dan beliau juga pembuat atlas pertama," kata Jokowi.

Keluarga Adinegoro pun merasa terharu. "Ini baru pertama Presiden datang ke sini memperlihatkan secara khusus seorang tokoh dan ini luar biasa," ungkap Medrial Alamsyah, salah seorang cucu Adinegoro yang mewakili keluarga. Soebagijo IN, dalam pengantar buku yang ia tulis, Adinegoro Pelopor Jurnalistik Indonesia (1987), memuji, "Apabila di kalangan jagat wartawan Indonesia ada bintang-bintang, Djamaluddin Adinegoro adalah salah satu di antaranya."

Adinegoro yang bernama asli Djamaluddin Datuk Maradjo Sutan lahir 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta, 8 Januari 1967. Nama Adinegoro diberikan Landjumin Datuk Tumenggung, pendiri majalah Tjahaja Hindia, juga asal Sumatra Barat. Djamaluddin yang mahasiswa STOVIA sudah beberapa kali menulis di majalah itu selain di harian Neratja.

Usul nama pena itu bertujuan menarik pembaca Jawa terpelajar dari kalangan ningrat. Landjumin sudah mempunyai nama pena, yakni Notonegoro. Djamaluddin berangkat ke Jerman pada 1926, tapi ia tak berdiam diri hanya di negeri ini. Ia menjelajah ke hampir seluruh kota di Eropa. Negeri Eropa umumnya mempunyai media cetak yang subur.

Sebagai contoh pada 1926 misalnya, di Jerman jumlah penduduknya sekitar 60 juta, tapi mempunyai 1.600 media cetak, baik harian, mingguan, maupun bulanan. Indonesia dengan jumlah penduduk yang juga sama dengan Jerman, hanya mempunyai 175 surat kabar dengan jumlah pembaca tak lebih dari 500 ribu.

Sementara itu, satu surat kabar saja di Jerman, Berliner Tageblatt, beroplah 500 ribu eksemplar. Belanda yang luasnya hanya seperempat Pulau Jawa, sedikitnya mempunyai 100 media cetak. Paris yang penduduknya sekitar 3 juta memiliki 50 media cetak. Pantaslah Eropa maju.

Pengalaman di Eropa itu ia tulis secara bersambung di majalah Pandji Poestaka. Itulah tulisan perjalanan yang selalu ditunggu pembaca Indonesia. Mata mereka dibukakan bagaimana Eropa pada waktu itu. Adinegoro pun dikenal sebagai penulis muda yang mempunyai banyak penggemar.

Jika Bung Karno menyatukan bangsa Indonesia dengan paham kebangsaan, Ki Hadjar Dewantara membukakan mata dengan pendidikan, Adinegoro membuka cakrawala wawasan dengan bacaan, dengan jurnalistik. Adinegoro pulang ke Indonesia pada 1931. Ia memang wartawan yang namanya mulai dikenal sejak muda. Pada 1974, PWI menganugerahi gelar Perintis Pers Indonesia.

Sejak itu, Hadiah Adinegoro diberikan kepada karya-karya jurnalistik terbaik. Mengenang Adinegoro, bagi saya, juga mengingatkan ranah Minangkabau secara keseluruhan. Ia lokus yang teramat subur bagi lahirnya orang-orang besar dalam banyak bidang: ulama, sastrawan, negarawan, ilmuwan. Untuk wartawan saja selain Adinegoro antara lain ada Agus Salim, Mohammad Natsir, Rohana Kudus, Samaun Bakri, HAMKA, dan Rosihan Anwar.

Kita tak bisa membayangkan Indonesia tanpa Sumatra Barat, tanpa Agus Salim, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Mohammad Yamin, Marah Roesli, Sutan Takdir Alisyahbana, dan sekian banyak yang lain. Hanya, kenapa Minangkabau hari ini seperti terputus dengan sejarah sebagai lokus subur lahir dan bertumbuhnya orang-orang hebat itu?

Komentar