Podium

Peringatan

Sabtu, 10 February 2018 05:05 WIB Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

KITA hargai langkah cepat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memberikan peringatan kepada PT Waskita Karya.

Peringatan atas kegagalan konstruksi di perimeter selatan Bandar Udara Soekarno-Hatta pantas diberikan karena akibat kealpaan pihak kontraktor menyebabkan pengguna jalan kehilangan nyawa.

Terlalu sering kita membiarkan musibah berlalu begitu saja.

Tidak pernah ada keberanian untuk mengevaluasi dan menghukum atas kesalahan yang terjadi.

Akibatnya, kita menganggap kecelakaan sebagai sebuah takdir sehingga tidak ada koreksi yang dilakukan.

Kita harus mau berubah apabila ingin menjadi bangsa yang maju.

Kita tidak lagi bisa bersikap permisif.

Kita selalu membiarkan kesalahan berulang kembali.

Sudah saatnya kita menerapkan merit system, yakni kita menghargai orang yang berhasil dan berani menghukum mereka yang salah.

Kita harus mulai meninggalkan sikap ewuh pakewuh.

Kalaupun kita menjatuhkan hukuman, sama sekali bukan didasarkan ketidaksukaan secara pribadi.

Kita menghukum seseorang agar ia mau memperbaiki diri dan kemudian berubah menjadi pribadi yang berprestasi tinggi.

Dengan itulah, kita akan bisa membangun kultur disiplin.

Orang akan selalu berupaya mempersiapkan diri sebaik mungkin ketika hendak mengerjakan sesuatu.

Selanjutnya akan terbentuk sikap untuk menghasilkan yang terbaik.

Etos kerja yang kuat itulah yang akan menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Presiden Joko Widodo berulang kali menyebutkan pentingnya kita membangun disiplin, etos kerja, dan produktivitas yang tinggi.

Kultur itu hanya bisa dibangun dengan cara pembinaan yang spartan.

Bangsa Korea, misalnya, menerapkan cara menempeleng ketika ada orang yang teledor atau bekerja dengan seenaknya sendiri.

Kalau bangsa Korea bisa menjadi bangsa yang maju, itu disebabkan mereka memiliki sumber daya manusia yang tidak mudah berbuat salah, tidak mudah menyerah, dan selalu berupaya menjadi yang terbaik.

Memang dampak buruknya mereka mudah bunuh diri ketika apa yang diharapkan tidak tercapai.

Namun, sisi positifnya, meski tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah, bangsa Korea dihormati sebagai negara yang maju.

Akhir bulan lalu di kolom ini kita membahas secara khusus soal kualitas infrastruktur yang sedang kita bangun sekarang ini.

Kita mengingatkan agar para kontraktor tidak bekerja asal-asalan, tetapi sungguh-sungguh menghasilkan karya besar yang bisa kita banggakan.

Kita sangat khawatir dengan cara kerja yang ada serta hasil yang sudah dibuat.

Kita merasakan kualitas infrastruktur yang dihasilkan jauh dari memuaskan.

Penilaian itu terbukti tidak mengada-ada karena infrastruktur yang baru dua bulan diselesaikan di kawasan bandara bisa ambruk dengan begitu mudahnya.

Dinding pembatas jalan seperti tembok yang terpisah dengan beton terowongan di perimeter selatan Bandara Soekarno-Hatta itu.

Dinding beton bisa begitu lurus ketika ambruk.

Sepantasnyalah apabila Komisi Keamanan Konstruksi Kementerian PU-Pera menyatakan adanya kegagalan konstruksi dalam pengerjaan proyek tersebut.

Beruntunglah PT Waskita Karya beroperasi di Indonesia.

Kalau di negara yang sistem hukumnya lebih tegas, niscaya badan usaha milik negara itu akan bisa bangkrut.

Keluarga korban bisa menuntut ganti rugi karena akibat kelalaian PT Waskita Karya, mereka kehilangan keluarga yang dicintai.

Apalagi ketika kita melihat cara penyelamatan yang dilakukan.

Peralatan yang kita miliki begitu terbatas sehingga butuh waktu 14 jam untuk menyelamatkan dua orang yang tertimbun dinding beton dan tanah.

Kita ternyata tidak memiliki alat untuk mengangkat dinding beton yang ambruk.

Sungguh menyedihkan!!!

PT Waskita Karya tentu harus berbenah diri.

Apalagi begitu banyak proyek infrastruktur yang sedang mereka kerjakan.

Dari data yang ada, proyek yang mereka kerjakan paling banyak mengalami kecelakaan dan bahkan meminta korban.

Peringatan yang diberikan Komisi Keamanan Konstruksi tidak bisa dianggap sebelah mata.

Seluruh jajaran PT Waskita Karya harus berkomitmen untuk tidak boleh lagi ada kecelakaan kerja ke depan.

Kementerian PU-Pera kemudian mencatat komitmen itu dan harus berani menjatuhkan hukuman lebih berat apabila mereka tidak bisa memenuhi janji.

Hanya dengan pendekatan reward and punishment seperti inilah kita akan bisa menghargai yang namanya kehidupan.

Kita tidak akan berani untuk bersikap sembrono.

Yang lebih penting, pasti tidak akan lagi orang berani korupsi konstruksi sehingga kita akan menikmati infrastruktur yang lebih berkualitas.

Semoga!

Komentar