Podium

Tugas Sejarah Dr M

Jum'at, 12 January 2018 05:31 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

"TIDAK benar seorang berhenti mengejar mimpi karena mereka bertambah tua. Mereka menjadi tua karena mereka berhenti mengejar mimpi." Begitulah vitalitas sastrawan Kolombia pemenang Nobel Sastra 1982, Gabriel Garcia Marquez. Ia tetap berkarya, mengejar mimpi sebelum ajal menjemputnya di usia tua, 87 tahun.

Apakah Mahathir Mohamad, sang pemilik panggilan populer Dr M ini terus mengejar mimpi agar tak menjadi tua? Padahal, tahun ini Perdana Menteri Malaysia 1981–2003 itu berusia 92 tahun. Ia lahir di Kedah, Malaysia, 20 Desember 1925. Demi mimpi itu, setua Dr M pun bersedia turun gunung. Pemerintahan Perdana Menteri Nadjib Razak yang dinilai korup itulah yang menjadi alasan utamanya.

Najib dituduh melakukan megakorupsi setara Rp9 triliun dengan melibatkan lembaga investasi pelat merah Malaysia Development Berhad. Seperti diberitakan, Senin (8/1), koalisi oposisi Malaysia telah menunjuk Dr M dan istri Anwar Ibrahim, Wan Azizah Wan Ismail, yang diusung koalisi Pakatan Harapan untuk jabatan perdana menteri dan wakil perdana menteri.

Keputusan itu diumumkan Sekretaris Jenderal Pakatan Harapan, Saifuddin Abdullah. Kita tercengang. Tak adakah kaum muda Malaysia yang pantas maju? Jika oposisi menang, Mahathir pun akan menjadi pemimpin tertua di dunia. Ia berkuasa lagi setelah 15 tahun mundur sebagai perdana menteri. Kita masih ingat, ketika Mahathir mundur setelah 22 tahun berkuasa, orang kuat ini menangis.

Menangis karena merasa lebih dari dua dasawarsa berkuasa ia merasa belum jua berhasil mendisiplinkan puak Melayu. Boleh jadi Dr M akan melanjutkan 'tugasnya yang tertunda' itu. Sementara itu, Anwar Ibrahim ialah orang rantai yang tak bisa dicalonkan sebagai perdana menteri meskipun akan bebas pada 8 Juni nanti.

Karena itu, satu-satunya jalan ialah meminta pengampunan kerajaan agar Anwar bisa melenggang sebagai calon perdana menteri setelah Mahathir. Anwar ialah wakil perdana menteri yang dipecat ketika Dr M berkuasa. Anwar dituduh melakukan korupsi dan sodomi. Kini karena kepentingan yang sama, yakni melawan Najib Razak, kedua seteru itu pun bersekutu.

Dua tahun lalu tanda-tandanya pun sudah terlihat. Pada September 2016, Mahathir dan Anwar bertemu, berjabat tangan, saling melempar senyum, dan saling membuka kemungkinan. Begitulah politik. Postulatnya jelas, jika tak bisa mengalahkan musuh sendirian, bersekutulah dengan siapa pun, termasuk bergabunglah dengan lawan.

"If you can't beat them, join them." (Jika Anda tak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka). Mahathir 92 tahun, Anwar 70 tahun, bersepakat melawan Najib, 64 tahun, petahana perdana menteri yang akan maju lagi pada pemilu Agustus nanti. Agak lucu memang yang tua bersekutu melawan yang muda.

Namun, ini tentu bukan perkara usia, melainkan perkara kepentingan. Mahathir juga mengakui betapa tak mudahnya bersekutu dengan mantan seterunya. "Tak mudah bagi saya bergabung dengan koalisi yang dibuat untuk melawan saya di masa lalu. Namun, keinginan untuk menjatuhkan Najib lebih besar daripada perasaan saya," ucap Mahathir dalam pidatonya.

Ketika Anwar masih di kabinet, ia anak didik Dr M yang paling bersinar. Ia bintang politik Malaysia. Anwar amat dekat dengan para intelektual muslim Indonesia. Kasus yang menimpa Anwar pun amat mengagetkan. Meski membantah semua tuduhan, ia tetap dibui. Namun, bui tak membuatnya surut berpolitik.

Anwar memimpin koalisi oposisi dan mendapatkan kemenangan menakjubkan pada pemilu 2013. Koalisi Barisan Nasional Najib Rajak kehilangan banyak suara. Meski demikian, Najib tetap berkuasa setelah memenangi mayoritas kursi di parlemen. Anwar pun kembali dinyatakan bersalah atas kasus sodomi.

Anwar dilarang memiliki jabatan politik dan mengikuti pemilihan umum, kecuali ia mendapatkan pengampunan kerajaan. Pengampunan dari kerajaan itulah harapan terbesar kubu Anwar agar kursi perdana menteri yang 'tertunda' lama bisa diraihnya kembali. Kemenangan Mahathir diharapkan membuka jalan bagi mantan seterunya itu.

Jajak pendapat yang digelar Merdeka Centre for Opinion Research pada Desember lalu menunjukkan koalisi Najib memiliki peluang besar untuk menguasai dua pertiga mayoritas parlemen. Namun, masih ada beberapa bulan bagi oposisi untuk berjuang. Mahathir dinilai akan menjadi lawan tangguh bagi Najib.

Mahathir yang ikut menumbangkan juniornya yang lain, Abdullah Ahmad Badawi pada 2009, tetapi apakah pengaruhnya masih bisa diandalkan nanti? Kita paham, di mana pun musuh bersama di setiap negara ialah kekuasaan yang korup. Namun, segera menjadi pertanyaan tak adakah pemimpin muda Malaysia yang berintegritas dan bernyali menghadapi penguasa yang korup?

Maju dan kembalinya Dr M di usia teramat senja ke gelanggang politik untuk bertarung ialah tugas sejarah yang tak semestinya. Seolah kemajuan zaman gagal melahirkan/mendidik kaum muda Malaysia tampil mengemban tugas sejarah yang mulia itu.

Komentar