Podium

Mawar yang Berdiam

Selasa, 9 January 2018 05:05 WIB Penulis: Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group

ADAKAH di negeri ini kepemimpinan yang disebut esensial dan autentik selain ketua RT?

Ya, ketua RT.

Bukan yang lain.

Ketua RT, jabatan yang tak pernah menjadi 'bara api'.

Tak ada politik uang dan intrik menjelang pemilihan.

Mereka umumnya duduk di kursi itu karena didesak warga daripada ambisi pribadi.

Ia bisa menjabat sampai kapan pun ia mau, jika aturan di daerahnya membolehkan.

Tak ada yang nyinyir dan menghajarnya dengan fitnah dan isu SARA.

Begitulah pengalaman saya tinggal di berbagai wilayah dan daerah.

Selalu punya ketua RT berkelas, yang mendahulukan warganya daripada diri sendiri.

Merekalah orang-orang mau berhujan-berpanas ketika warganya tengah asyik-masyuk berteduh.

Ia tak menebar janji, tak berucap sumpah, tapi dalam praktik lebih banyak memberi daripada meminta.

Ia melayani, bukan dilayani.

Inilah menurut saya pemimpin autentik yang kini menjadi kerinduan di tengah tahun politik, pilkada serentak 2018 yang digelar di 171 daerah.

Hajatan memilih, yang katanya calon pemimpin terbaik, tapi 313 kepala daerah terlibat korupsi.

Ketua RT pastilah bukan pemimpin yang tengah dicari itu.

Padahal, merekalah ujung terdepan desa/kelurahan bergerak.

Ketika tinggal di Bandar Lampung, kami bahkan punya ketua RT kelas super.

Seorang ibu setengah baya yang telah menjabat lebih dari 23 tahun.

Setiap ada musyawarah untuk memilih ketua RT yang baru selalu gagal.

Ia berkali-kali menolak, tapi tak seorang pun merasa pantas untuk menggantikan sang petahana.

Jadilah selalu berulang.

Ia calon tunggal dan terpilih menjadi ketua RT dengan 100% suara.

Ia ketua RT yang meletakkan dasar-dasar kepemimpinan yang tinggi. Ia sulit disamai.

Suatu malam keributan di antara dua warga bertetangga terjadi.

Salah satu yang berseteru memanggil saudaranya, seorang tentara.

Yang satu lagi, juga memanggil saudaranya yang juga tentara beda kesatuan.

Suasana kian panas!

Ibu ketua RT mendatangi tempat kejadian perkara dan meminta dua warga yang berseteru berdamai.

Alih-alih menuruti, mereka bahkan memperlihatkan backing masing-masing.

Ia tak gentar, bahkan segera mengusir kedua tentara angkat kaki dari wilayahnya.

"Pertama, Anda berdua bukan warga RT sini. Saya juga tak mengundang kalian menyelesaikan keributan warga saya. Kedua, kalian aparat negara, tugasnya mempertahankan kedaulatan negara. Bukan mengurusi yang seperti ini. Ini urusan saya. Jika kalian tak meninggalkan wilayah ini sesegera mungkin, akan saya laporkan ke atasan kalian masing-masing," hardiknya.

Kedua serdadu lain kesatuan itu ngacir, meninggalkan lokasi.

Di ujung cerita, yang berseteru pun berdamai.

Ada banyak cerita hebat ibu ketua RT yang waktu muda atlet bola voli ini.

Namun, ia selalu mengelak untuk menceritakan kembali berbagai pengalamannya.

Kisah itu pun saya rekonstruksi dari cerita tetangga dan kerabatnya.

Berkali-kali pula menolak wawancara pers.

"Ketua RT kan memang harus begitu," katanya ringan.

Padahal, layak menjadi inspirasi para ketua RT yang lain, bahkan level di atasnya, seperti lurah, camat, bupati/wali kota, bahkan gubernur, yakni keikhlasannya mengabdi.

Betul kata Bung Karno, "Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya karena dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya."

Saya kira orang-orang yang bekerja dalam keikhlasan tinggi dan sunyi publikasi, ia mawar yang tak mempropagandakan diri.

Inilah juga dikatakan Al Ghazali, "Apa saja yang tidak memiliki fondasi akan hancur dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang."

Para ketua RT/RW berdedikasi ialah pembangun fondasi yang kukuh.

Saya baru tahu sesuai dengan Permendagri No 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan, RT merupakan salah satu jenis lembaga kemasyarakatan.

Tugasnya membantu pemerintah desa dan lurah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan.

Jadi, RT (juga RW) tidak masuk hierarki kelembagaan pemerintahan.

Syarat menjadi pengurus lembaga kemasyarakatan (termasuk RT), cukuplah warga negara Indonesia, penduduk setempat, punya kemauan, kemampuan, dan kepedulian.

Ia dipilih dengan cara musyawarah mufakat.

Untuk DKI Jakarta, sesuai dengan Pergub No 168/2014 tentang Pedoman RT dan RW, yang bisa dipilih minimum lulusan SLTP (calon ketua RT), SLTA (calon ketua RW). Ia juga harus setia dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah Republik Indonesia; cakap berbicara, bisa menjadi anutan, berkelakuan baik, jujur, adil, bertanggung jawab, dan bersikap netral dalam berpolitik.

Masa jabatan ketua RT/RW di DKI Jakarta tiga tahun, dan hanya bisa menjabat selama dua periode.

Ketika bermukim di Ciledug, Banten; Bogor, Jawa Barat; Kembangan, Jakarta Barat; saya juga selalu punya ketua RT yang lebih banyak memberi daripada meminta.

Bahkan, di kampung saya, Banyumas, Jawa Tengah, ketua RT kami beberapa kali menolak politik uang baik ketika pemilihan kepala desa, pilkada, maupun pemilu legislatif.

Saya mendengar banyak cerita ketua RT yang tegak lurus dan dedikatif.

Mereka bersama warga selama 24 jam.

Bukan camat, bupati, gubernur, apa lagi presiden.

Merekalah sesungguhnya para penjaga Indonesia sejati.

Tanpa RT dan RW dan sejenisnya, yang operasionalnya dari swadaya masyarakat, Indonesia bisa jadi tak berjejak di bumi.

Merekalah mawar yang tak berpropaganda tentang harum mereka.

Para pemimpin yang bergelimang fasilitas dari negara bisa belajar dari mereka.

Komentar