Podium

Waktunya Bekerja

Rabu, 3 January 2018 05:31 WIB Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

PRESIDEN Joko Widodo pada hari pertama kerja 2018 meresmikan kereta api Bandar Udara Soekarno-Hatta. Pada saat yang sama Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Dua simbolisasi yang baik untuk mengajak kita bekerja keras pada tahun ini.

Sekarang waktunya bagi kita untuk bekerja menggapai kehidupan yang lebih baik. Kita harus lebih giat bekerja karena tahun lalu perekonomian global tumbuh di atas perkiraan. Ekonomi AS dan Uni Eropa tumbuh 2,2%. Jepang bisa tumbuh 1,4%. Sementara itu, Tiongkok tumbuh 6,8% dan India 6,9%.

Perekonomian dunia yang tahun lalu bisa tumbuh 3,6%, pada 2018 ini diperkirakan mencapai akselerasi yang sama. Kita tidak boleh merasa puas dengan tumbuh 5%. Jangan lagi kita mau dininabobokan anggapan sebagai negara anggota G-20 yang pertumbuhan ekonominya tertinggi ketiga.

Kenyataannya kita kalah jika dibandingkan dengan Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Kalau kita membandingkan dengan negara ASEAN yang lain karena potensi untuk kita bisa tumbuh lebih tinggi lagi itu ada. Namun, kita tidak pernah menggunakan potensi itu menjadi sesuatu yang riil.

Kita tidak cukup pandai untuk menjadikan potensi itu sebagai kekuatan ekonomi. Berulang kali kita sampaikan, kita tidak cukup jelas menetapkan arah ekonomi yang ingin dituju. Sekarang kita gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Akan tetapi, kalau ditanya pembangunan ekonomi seperti apa yang hendak kita tuju dari infrastruktur yang kita bangun ini, tidak pernah ada yang bisa mendeskripsikan secara gamblang.

Padahal Presiden AS John F Kennedy mengatakan, "Usaha dan keberanian saja tidak cukup tanpa disertai penjelasan tentang maksud dan tujuan." Tugas pemimpin untuk terus-menerus menyampaikan maksud dan tujuan dari kerja bersama yang harus dilakukan agar semua paham tentang kontribusi yang harus diberikan.

Jika kita ingin menggapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tidak ada pilihan lain kecuali membangun industri. Bahkan, industri yang perlu kita bangun harus yang berbasis kekuatan Indonesia, baik itu dari bahan bakunya maupun sumber daya manusianya. Jangan kita memilih industri yang modern, tetapi dari mesin, bahan baku, dan tenaga kerjanya harus didatangkan dari luar Indonesia.

Karena arah pembangunan industri yang tidak jelas, efisiensi kita justru menjadi rendah. Lihat saja program hilirisasi yang digaungkan sejak zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kita minta seluruh produk tambang dan mineral diolah di dalam negeri. Investasi triliunan harus kita tanamkan.

Namun, kita tidak pernah memerinci sejauh mana hilirisasi yang kita inginkan. Akibatnya, tetap saja produk seperti aluminium dan tembaga kita ekspor keluar karena industri dalam negeri tidak mampu menyerapnya. Ketika bahan itu sudah menjadi blok mesin atau peralatan elektronik, kita harus mengimpornya lagi dari negara lain.

Di era disruption seperti sekarang, justru yang tumbuh luar biasa ialah produk yang sederhana tapi diminati masyarakat global. Di Jepang, misalnya, orang terkaya di negeri itu bukanlah pemilik Toyota atau Matsushita, melainkan pemilik perusahaan apparel Uniqlo, yaitu Tadashi Yanai.

Kekayaan Yanai mencapai US$21,1 miliar atau sekitar Rp275 triliun hanya dari hasil menjual baju, kaus, dan jaket kasual di seluruh dunia. Kalau kita cerdas, kita pun mampu membangun industri seperti itu. Tekstil dan garmen sejak lama merupakan kekuatan kita. Apalagi yang namanya fesyen, tidak pernah ada habisnya.

Sekarang ini orang tidak lagi mencari produk haute couture yang harganya mahal, melainkan barang yang bagus, modelnya menarik, tetapi harganya murah. Produsen produk fesyen asal Spanyol, Zara, mendisrupsi pasar dan boleh dikatakan menguasai pasar dunia.
Kita justru menganggap industri tekstil, garmen, dan juga sepatu sebagai industri yang sunset.

Nyaris tidak ada lagi bank yang mau menyalurkan kredit hanya karena industri itu dianggap sudah sunset. Padahal negara lain justru menjadikan industri seperti itu sebagai kekuatan seperti Jepang dengan Uniqlo dan Spanyol dengan Zara. Vietnam memanfaatkan kelengahan Indonesia dengan menjadikan produksi tekstil dan sepatu sebagai salah satu kekuatan ekonomi mereka.

Semua itu semakin memperjelas tidak adanya peta jalan atau roadmap pembangunan industri kita. Sepanjang kita melakukan pembangunan industri sporadis seperti sekarang, penyerapan tenaga kerja pun akan juga terbatas. Pendidikan vokasi yang diinginkan Presiden pun sulit dilakukan karena tidak tahu keterampilan seperti apa yang harus kita siapkan.

Kita perlu perencanaan lebih komprehensif agar kemudian kita tidak mudah untuk panik. Tahun lalu kita lihat kepanikan menghadapi perlambatan ekonomi justru membuat perekonomian kita semakin tertekan. Keinginan untuk mengejar target penerimaan pajak tidak mempertimbangkan kegiatan ekonomi di tengah masyarakat.

Akibatnya, kita mendapatkan dua pukulan ganda, yakni target penerimaan pajak yang tidak tercapai dan pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Kita tentu tidak ingin keadaan seperti ini kembali terulang. Apalagi kita lihat bagaimana negara lain justru mampu memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Kesempatan untuk membuat 2018 yang lebih baik sangatlah terbuka. Marilah kita manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Kita mulai dengan bekerja keras dan bekerja cerdas. Karena kita tidak sekadar ingin menggapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tetapi juga yang lebih inklusif agar lebih banyak warga bangsa ini ikut menikmati kemajuan yang bisa kita raih pada tahun ini.

Komentar