Podium

Gunung Agung

Rabu, 29 November 2017 05:31 WIB Penulis: Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group

GUNUNG Agung di Bali terus menggeliat. Kubah lava semakin terbentuk di puncak gunung. Kita belum tahu kapan gunung paling tinggi di Bali itu akan meletus. Setidaknya dua erupsi tinggi sudah terjadi dalam minggu ini. Kegiatan penerbangan menuju dan keluar Bali mulai Senin lalu sudah diputuskan untuk dihentikan.

Lontaran debu yang mencapai ketinggian 3.000 meter dikhawatirkan bisa merusak mesin pesawat yang kebetulan sedang melintas. Sudah hampir 55 tahun Gunung Agung memang tidur. Aktivitas yang terjadi sekarang ini merupakan konsekuensi kita tinggal di kawasan cincin api.

Di satu sisi, memang pergerakan yang terjadi di dalam perut Bumi menakutkan, tetapi di sisi lain membawa berkah karena membuat wilayah ini subur dan kaya sumber daya mineral. Yang paling utama diperhatikan dalam situasi seperti ini ialah kehidupan masyarakat, terutama warga yang tinggal di sekitar kaki gunung yang harus bolak-balik meninggalkan rumahnya untuk menghindar dari bencana lebih buruk yang terjadi.

Satu yang luar biasa kita lihat dari cara penanganan warga di Bali ialah peran dari masyarakat. Mereka tidak pertama-tama menyerahkan persoalan kepada pemerintah. Masyarakat sendirilah yang turun tangan membantu saudara-saudaranya yang kesulitan. Tidak ada kita mendengar masyarakat Bali mengeluhkan kurangnya bantuan dari pemerintah.

Di daerah lain kita sering melihat warga yang menyalahkan pemerintah. Mereka mengeluhkan belum mendapat bantuan tenda, pakaian ganti, makanan, hingga air minum serta air bersih. Kita perlu belajar dari masyarakat Bali. Inilah contoh dari masyarakat yang sudah dewasa.

Inilah potret dari masyarakat yang menerapkan demokrasi sesungguhnya. Tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik merupakan tanggung jawab kita bersama. Tentu kita tidak bermaksud menihilkan kerja pemerintah, terutama pemerintah daerah juga telah bekerja untuk menyediakan fasilitas yang dimiliki.

Namun, kerja sama tiga pilar, yakni pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, merupakan kunci bagi kita meraih kemajuan bersama. Potret masyarakat Bali yang tangguh dan ulet sudah berulang kali diperlihatkan. Saat terjadi teror bom pada 2001, masyarakat Bali tidak terbenam kepada kedukaan yang berlarut-larut.

Mereka juga tidak pernah menyalahkan siapa-siapa. Mereka tetap menjadi masyarakat yang terbuka kepada para pendatang. Itulah yang menjadi modal bagi Bali untuk bisa cepat keluar dari kesulitan. Masyarakat Bali bersama-sama membangun kembali daerahnya dan juga kehidupannya.

Bali dengan cepat pulih dan kembali menjadi tujuan wisata utama masyarakat dunia. Dengan solidaritas di antara masyarakat yang begitu tinggi, kita yakin Bali juga akan bisa melewati cobaan kali ini. Begitu letusan Gunung Agung terjadi kelak, mereka akan segera membangun kembali Bali sebagai daerah yang cantik dan penuh keramahtamahan.

Ketika pemerintah ingin menjadikan pariwisata sebagai industri utama Indonesia, memang kita harus belajar dari Bali. Kultur melayani dan menyambut tamu, utamanya, perlu dicontoh. Apalagi masyarakat Bali pandai membuat event yang merupakan kunci utama dari pariwisata.

Kita yakin Gunung Agung kelak bisa dijadikan objek wisata. Itu akan bisa menjadi geowisata yang bisa mencerdaskan masyarakat. Itulah salah satu aktivitas dari cincin api yang terbentang mulai kawasan Amerika Latin hingga Asia. Indonesia kaya dengan potensi geowisata.

Daerah Gunung Kidul di Yogyakarta telah memanfaatkan daerah geologi yang ada di sekitar wilayahnya sebagai tujuan wisata. Arung jeram di antara batuan gua merupakan salah satu yang membuat Gunung Kidul menjadi terkenal kini. Mulai Sabang hingga Merauke kita memiliki kekayaan geologi yang luar biasa. Ini merupakan modal yang luar biasa untuk membangun pariwisata.

Apalagi pemerintah terus membangun infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Pariwisata mampu menyerap banyak tenaga untuk bisa ikut terlibat di dalam kegiatannya.

Komentar